alexametrics
27 C
Sidoarjo
Friday, 22 October 2021

Irigasi Mampet, Gagal Panen, Gapoktan Wadul Komisi Dewan

SIDOARJO – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Wilayut, Kecamatan Sukodono wadul ke DPRD Sidoarjo, Jumat (20/8). Mereka mengeluh gagal panen lantaran kesulitan mengakses air irigasi.

Suyadi, perwakilan Gapoktan mengungkapkan, sistem irigasi di wilayahnya diatur dengan sistem gilir. Untuk Desa Wilayut mendapat jatah pada Selasa sampai Jumat.

Namun, air yang mengalir ke desa itu sangat tidak sesuai yang diharapkan. Biasanya air baru sampai ke sawah di Desa Wilayut Selasa siang. Bahkan sampai Rabu pagi.

“Itupun disertai sampah,” keluhnya di hadapan sejumlah anggota Komisi C DPRD Sidoarjo.

Akibatnya, lanjut Suryadi, petani di desanya banyak yang gagal panen. Dari sekitar 40 hektare sawah ada sekitar 9 hektare yang terpaksa gagal panen karena kekurangan air.

“Sudah berulang kali dan yang ketiga tahun ini,” imbuhnya.

Plt Camat Sukodono M Mahmud menegaskan, pihaknya memang sempat menelusuri aliran sungai yang menjadi andalan suplai air sawah warganya itu. Selain sampah, kendala utamanya pada pendangkalan. “Sudah kami telusuri,” ujarnya.

Ketua Komisi C DPRD Sidoarjo Suyarno mengatakan, masalah kekurangan air yang dirasakan petani Desa Wilayut itu hanyalah contoh kecil. Menurutnya kejadian serupa juga terjadi di sejumlah desa di Sidoarjo. “Antar dinas perlu bekerja lebih terkoordinir lagi,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUBMSDA) Sigit Setyawan menjelaskan, pihaknya juga telah merespon cepat keluhan warga terkait saluran air irigasi itu. Ia telah menerjunkan alat berat ke lokasi sungai untuk normalisasi.

“Dalam waktu 3-4 hari harapannya bisa selesai,” katanya.

Dia melanjutkan, selain normalisasi sungai di Desa Wilayut pihaknya juga akan berkoordinasi dengan para camat di Sukodono, Wonoayu hingga Krian. Tujuannya untuk menuntaskan masalah aliran air irigasi itu.

Menurutnya, permasalahan irigasi itu juga membutuhkan banyak pihak untuk duduk bersama. Yakni saling gotong royong menjaga agar masalah serupa tidak terulang.

“Kami normalisasi, tapi warga juga berhenti buang sampah ke sungai. Desa juga perlu turun serta,” imbuh Sigit yang juga menjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo itu. (son/vga)


SIDOARJO – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Wilayut, Kecamatan Sukodono wadul ke DPRD Sidoarjo, Jumat (20/8). Mereka mengeluh gagal panen lantaran kesulitan mengakses air irigasi.

Suyadi, perwakilan Gapoktan mengungkapkan, sistem irigasi di wilayahnya diatur dengan sistem gilir. Untuk Desa Wilayut mendapat jatah pada Selasa sampai Jumat.

Namun, air yang mengalir ke desa itu sangat tidak sesuai yang diharapkan. Biasanya air baru sampai ke sawah di Desa Wilayut Selasa siang. Bahkan sampai Rabu pagi.

“Itupun disertai sampah,” keluhnya di hadapan sejumlah anggota Komisi C DPRD Sidoarjo.

Akibatnya, lanjut Suryadi, petani di desanya banyak yang gagal panen. Dari sekitar 40 hektare sawah ada sekitar 9 hektare yang terpaksa gagal panen karena kekurangan air.

“Sudah berulang kali dan yang ketiga tahun ini,” imbuhnya.

Plt Camat Sukodono M Mahmud menegaskan, pihaknya memang sempat menelusuri aliran sungai yang menjadi andalan suplai air sawah warganya itu. Selain sampah, kendala utamanya pada pendangkalan. “Sudah kami telusuri,” ujarnya.

Ketua Komisi C DPRD Sidoarjo Suyarno mengatakan, masalah kekurangan air yang dirasakan petani Desa Wilayut itu hanyalah contoh kecil. Menurutnya kejadian serupa juga terjadi di sejumlah desa di Sidoarjo. “Antar dinas perlu bekerja lebih terkoordinir lagi,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUBMSDA) Sigit Setyawan menjelaskan, pihaknya juga telah merespon cepat keluhan warga terkait saluran air irigasi itu. Ia telah menerjunkan alat berat ke lokasi sungai untuk normalisasi.

“Dalam waktu 3-4 hari harapannya bisa selesai,” katanya.

Dia melanjutkan, selain normalisasi sungai di Desa Wilayut pihaknya juga akan berkoordinasi dengan para camat di Sukodono, Wonoayu hingga Krian. Tujuannya untuk menuntaskan masalah aliran air irigasi itu.

Menurutnya, permasalahan irigasi itu juga membutuhkan banyak pihak untuk duduk bersama. Yakni saling gotong royong menjaga agar masalah serupa tidak terulang.

“Kami normalisasi, tapi warga juga berhenti buang sampah ke sungai. Desa juga perlu turun serta,” imbuh Sigit yang juga menjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo itu. (son/vga)


Most Read

Berita Terbaru