alexametrics
31 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

Warga Ingin Alih Fungsi Lahan ke Perikanan

SIDOARJO – Banjir seakan menjadi sahabat bagi warga di Desa Kedungbanteng, Banjarasri, dan Banjarpanji Kecamatan Tanggulangin. Bagaimana tidak, setiap kali musim hujan, banjir selalu melanda tiga desa ini. Forum Badan Permusyawaratan Desa (FBPD) se-Kecamatan Tanggulangin meminta langkah pasti Pemkab Sidoarjo agar permasalahan banjir ini cepat selesai.

FBPD Tanggulangin, Rabu (17/2) malam, menemui Pj Bupati Sidoarjo Hudiyono di Pendapa Delta Wibawa. Mereka menyampaikan sejumlah keinginan warga pada pemkab.

Ketua FBPD Tanggulangin Imam Syafi’i menyatakan, pemkab sudah banyak membantu baik itu secara jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Namun, menurutnya, masih ada hal di masyarakat yang belum terselesaikan.

Di antaranya dampak psikis dan ekonomi. Masyarakat kini hidup ketergantungan dari bantuan sembako yang diberikan. Padahal masyarakat di sana dulunya merupakan masyarakat yang produktif. “Mereka stres karena rumahnya rendah setelah diuruk. Kondisi sawah tidak bisa ditanami di Desa Banjarasri dan Kedungbanteng. Atau dialih fungsikan saja untuk perikanan. Keadaan masyarakat tidak punya apa-apa. Mohon bantuan,” katanya.

Untuk pengurukan jalan dan rumah warga, ribuan pasir dan batu (sirtu) telah didatangkan pemkab. Di Banjarasri sudah 1.800 truk sirtu. Di Kedungbanteng sudah 2.000 truk sirtu. Kemudian jalan pun telah dibetonisasi. Revitalisasi sungai juga sudah dilakukan. Namun banjir tetap saja terjadi.

Kondisi terakhir, genangan air semakin tinggi. Di Banjarpanji genangan setinggi 50 – 70 cm di jalan. Pompa yang semestinya ada lima, hanya beroperasi tiga. Jalan di Desa Banjarpanji mengalami kerusakan cukup parah. Kemudian fiscal di sungai depan SDN Banjarasri sudah satu meter lebih.

Ditambahkan ketua BPD Kedungbanteng Ismail, afvour Kedungpeluk bisa diurai dengan Sungai Gedangrowo. “Dengan catatan ada pintu air memadai dan pompa air 5 ribu per detik. Kemudian di buatkan boozem,” urainya.

Pj Bupati Sidoarjo Hudiyono menjelaskan, setelah dikaji tim ITS dan Universitas Brawijaya, bahwa terjadi penurunan tanah 40 cm di tiga desa ini. Ditambah aliran air sungai tidak normal.
Di perempatan Kedungbanteng yang lebar sungainya mestinya empat meter, jadi satu meter karena ada rumah penduduk.

Kemudian Hudiyono mengatakan, ada pendangkalan sungai di Kedungbanteng hingga ke laut. “Normalisasi sungai dilakukan dengan dua alat berat tapi masih banjir. Untuk banjir saja pemkab mengeluarkan Rp 23 miliar. Untuk sekolah saja Rp 4 miliar. Nanti usulan pertanian jadi perikanan akan kita telaah terlebih dahulu,” pungkasnya. (rpp/opi)

 

SIDOARJO – Banjir seakan menjadi sahabat bagi warga di Desa Kedungbanteng, Banjarasri, dan Banjarpanji Kecamatan Tanggulangin. Bagaimana tidak, setiap kali musim hujan, banjir selalu melanda tiga desa ini. Forum Badan Permusyawaratan Desa (FBPD) se-Kecamatan Tanggulangin meminta langkah pasti Pemkab Sidoarjo agar permasalahan banjir ini cepat selesai.

FBPD Tanggulangin, Rabu (17/2) malam, menemui Pj Bupati Sidoarjo Hudiyono di Pendapa Delta Wibawa. Mereka menyampaikan sejumlah keinginan warga pada pemkab.

Ketua FBPD Tanggulangin Imam Syafi’i menyatakan, pemkab sudah banyak membantu baik itu secara jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Namun, menurutnya, masih ada hal di masyarakat yang belum terselesaikan.

Di antaranya dampak psikis dan ekonomi. Masyarakat kini hidup ketergantungan dari bantuan sembako yang diberikan. Padahal masyarakat di sana dulunya merupakan masyarakat yang produktif. “Mereka stres karena rumahnya rendah setelah diuruk. Kondisi sawah tidak bisa ditanami di Desa Banjarasri dan Kedungbanteng. Atau dialih fungsikan saja untuk perikanan. Keadaan masyarakat tidak punya apa-apa. Mohon bantuan,” katanya.

Untuk pengurukan jalan dan rumah warga, ribuan pasir dan batu (sirtu) telah didatangkan pemkab. Di Banjarasri sudah 1.800 truk sirtu. Di Kedungbanteng sudah 2.000 truk sirtu. Kemudian jalan pun telah dibetonisasi. Revitalisasi sungai juga sudah dilakukan. Namun banjir tetap saja terjadi.

Kondisi terakhir, genangan air semakin tinggi. Di Banjarpanji genangan setinggi 50 – 70 cm di jalan. Pompa yang semestinya ada lima, hanya beroperasi tiga. Jalan di Desa Banjarpanji mengalami kerusakan cukup parah. Kemudian fiscal di sungai depan SDN Banjarasri sudah satu meter lebih.

Ditambahkan ketua BPD Kedungbanteng Ismail, afvour Kedungpeluk bisa diurai dengan Sungai Gedangrowo. “Dengan catatan ada pintu air memadai dan pompa air 5 ribu per detik. Kemudian di buatkan boozem,” urainya.

Pj Bupati Sidoarjo Hudiyono menjelaskan, setelah dikaji tim ITS dan Universitas Brawijaya, bahwa terjadi penurunan tanah 40 cm di tiga desa ini. Ditambah aliran air sungai tidak normal.
Di perempatan Kedungbanteng yang lebar sungainya mestinya empat meter, jadi satu meter karena ada rumah penduduk.

Kemudian Hudiyono mengatakan, ada pendangkalan sungai di Kedungbanteng hingga ke laut. “Normalisasi sungai dilakukan dengan dua alat berat tapi masih banjir. Untuk banjir saja pemkab mengeluarkan Rp 23 miliar. Untuk sekolah saja Rp 4 miliar. Nanti usulan pertanian jadi perikanan akan kita telaah terlebih dahulu,” pungkasnya. (rpp/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/