alexametrics
26.7 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Efektivitas Pembelajaran Daring di Sidoarjo 40 Persen

SIDOARJO – Pembelajaran saat ini masih berlangsung daring. Namun efektivitasnya dinilai masih 40 persen. Sehingga perlu adanya evaluasi untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran daring.

“Perlu adanya evaluasi perilaku administrasi agar sesuai dengan perilaku pembelajaran saat ini. Salah satunya adalah pembelanjaan anggaran. Pembelanjaan harusnya menyesuaikan dengan pembelajaran,” ujar Pj Bupati Sidoarjo Hudiyono.

Cak Hud, sapaan akrabnya, menambahkan, pembelanjaan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo maupun pihak sekolah tidak boleh menggunakan sistem pembelajaran model lama. Sebab, saat ini kondisinya jauh berbeda.

Ia juga mencontohkan pada pembelanjaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana BOS harusnya digunakan untuk penguatan jaringan. Sebab dalam pembelajaran sistem daring, proses transformasi ilmu dari guru ke murid bergantung pada jaringan.

“Ternyata dana BOS untuk penguatan jaringan hanya 5 persen. Ini kurang, setidaknya 30 persen lah untuk penguatan jaringan. Ini di SMPN 1 Sidoarjo yang notabenenya SMP terbaik di Sidoarjo. Bisa jadi di sekolah lain di bawah standar yang ada di sini,” ujarnya saat sidak pembelajaran daring di SMPN 1 Sidoarjo, Kamis (21/1).

Dengan demikian proses pembelajaran sistem daring dapat berjakan dengan lancar tanpa kendala seperti delay yang disebabkan jaringan. “Intinya, pembelanjaan harus menyesuaikan dengan pembelajaran,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, Cak Hud berencana memanggil semua kepala sekolah untuk evaluasi pembelajaran sistem daring. Semua dilakukan untuk menjamin semua siswa mendapat kualitas pembejalaran yang prima meski di tengah pandemi seperti ini.

Hudiyono pun kemarin ikut menyapa satu per satu siswa saat berlangsung pembelajaran daring. Ternyata, tidak semua siswa ikut. Alasannya beragam. Ada siswa yang sambat masalah jaringan, hingga ada yang nekat tidak ikut. Ada juga yang mengira pembelajaran sudah selesai.

“Padahal sudah ada kontrak belajar. Dianggap masuk ketika buka videonya. Yang tidak membuka videonya tidak hadir,” ungkap salah satu guru Bahasa Indonesia, Sri Catur Purnawati.

Kepala Dikbud Sidoarjo Asrofi menyebut yang disampaikan Pj Bupati tepat. Menurutnya, menuju sekolah digital harus dicukupi jaringan internetnya, baik SMP maupun SD. “Penggunaan anggaran mengarah ke sana. Seperti perbesar bandwicth dan listriknya,” ujar Asrofi. (rpp/opi)

SIDOARJO – Pembelajaran saat ini masih berlangsung daring. Namun efektivitasnya dinilai masih 40 persen. Sehingga perlu adanya evaluasi untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran daring.

“Perlu adanya evaluasi perilaku administrasi agar sesuai dengan perilaku pembelajaran saat ini. Salah satunya adalah pembelanjaan anggaran. Pembelanjaan harusnya menyesuaikan dengan pembelajaran,” ujar Pj Bupati Sidoarjo Hudiyono.

Cak Hud, sapaan akrabnya, menambahkan, pembelanjaan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo maupun pihak sekolah tidak boleh menggunakan sistem pembelajaran model lama. Sebab, saat ini kondisinya jauh berbeda.

Ia juga mencontohkan pada pembelanjaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana BOS harusnya digunakan untuk penguatan jaringan. Sebab dalam pembelajaran sistem daring, proses transformasi ilmu dari guru ke murid bergantung pada jaringan.

“Ternyata dana BOS untuk penguatan jaringan hanya 5 persen. Ini kurang, setidaknya 30 persen lah untuk penguatan jaringan. Ini di SMPN 1 Sidoarjo yang notabenenya SMP terbaik di Sidoarjo. Bisa jadi di sekolah lain di bawah standar yang ada di sini,” ujarnya saat sidak pembelajaran daring di SMPN 1 Sidoarjo, Kamis (21/1).

Dengan demikian proses pembelajaran sistem daring dapat berjakan dengan lancar tanpa kendala seperti delay yang disebabkan jaringan. “Intinya, pembelanjaan harus menyesuaikan dengan pembelajaran,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, Cak Hud berencana memanggil semua kepala sekolah untuk evaluasi pembelajaran sistem daring. Semua dilakukan untuk menjamin semua siswa mendapat kualitas pembejalaran yang prima meski di tengah pandemi seperti ini.

Hudiyono pun kemarin ikut menyapa satu per satu siswa saat berlangsung pembelajaran daring. Ternyata, tidak semua siswa ikut. Alasannya beragam. Ada siswa yang sambat masalah jaringan, hingga ada yang nekat tidak ikut. Ada juga yang mengira pembelajaran sudah selesai.

“Padahal sudah ada kontrak belajar. Dianggap masuk ketika buka videonya. Yang tidak membuka videonya tidak hadir,” ungkap salah satu guru Bahasa Indonesia, Sri Catur Purnawati.

Kepala Dikbud Sidoarjo Asrofi menyebut yang disampaikan Pj Bupati tepat. Menurutnya, menuju sekolah digital harus dicukupi jaringan internetnya, baik SMP maupun SD. “Penggunaan anggaran mengarah ke sana. Seperti perbesar bandwicth dan listriknya,” ujar Asrofi. (rpp/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/