alexametrics
28 C
Sidoarjo
Saturday, 4 December 2021

Sekolah Dianjurkan Miliki Tim Siaga Bencana

SIDOARJO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo berupaya terus membentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Tujuannya meminimalisir adanya korban jiwa akibat bencana alam atau non alam yang sewaktu-waktu terjadi.

Ada tiga pilar utama yang mendasari SPAB ini. Yakni fasilitas sekolah aman. Artinya konstruksi bangunan telah sesuai dengan Permen PUPR Nomor 29 Tahun 2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.

“Peralatan, sarana prasarana itu sudah harus sesuai dengan aturan tersebut,” kata Kasi Pencegahan BPBD Sidoarjo, Choiri Selasa (19/10).

Kemudian, adanya tim siaga bencana di sekolah. Serta adanya pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana. Pendidik, tenaga pendidik, siswa dan masyarakat sekitar dididik  mengerti upaya mitigasi serta tangguh menghadapi bencana.

“Tahu cara menyelamatkan diri. Diharapkan risiko bencana dapat diminimalkan,” urainya.

Tahun ini, SLB AC Dharma Wanita Kecamatan Sidoarjo dan SLB AC Negeri Juwet Kenongo Kecamatan Porong didorong menjadi SPAB. Sebelumnya SMPN 1 Waru dan SDN Sidokare telah dinobatkan sebagai SPAB.

Selanjutnya SPAB ini akan dibentuk BPBD Sidoarjo di SMPN 2 Tanggulangin dan SDN Banjarsari.

“Karena di sana rawan banjir,” ungkapnya.

Kabid Pencegahan Kedaruratan dan Logistik BPBD Sidoarjo Karsono menambahkan, Sidoarjo merupakan daerah yang memiliki potensi bencana. Seperti banjir, angin puting beliung dan kebakaran.

Selain itu meskipun Sidoarjo bukan episentrum gempa bumi, maka potensi bencana ini harus diwaspadai. “Beberapa kali Sidoarjo merasakan dampak. Terasa sampai sini,” terangnya.

Sehingga pendidikan bencana alam, khususnya di Sidoarjo untuk warga sekolah sangat penting. Tim siaga bencana tersebut dididik memiliki pengetahuan mitigasi bencana alam. Sehingga mereka bisa melaksanakan pencegahan prefentif dalam setiap bencana alam.

“Ketika menghadapi bencana, tidak lagi panik. Bisa segera melakukan tindakan penyelamatan,” jelasnya.

Dirinya mencontohkan, pada saat terjadi bencana gempa bumi, harus tahu cara membuka pintu. Selain itu tidak menggunakan lift atau elevator tetapi harus melalui tangga hingga harus mengetahui lokasi titik kumpul saat ada bencana gempa. “Termasuk mengetahui gejala gempanya,” tegasnya. (rpp/vga)


SIDOARJO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo berupaya terus membentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Tujuannya meminimalisir adanya korban jiwa akibat bencana alam atau non alam yang sewaktu-waktu terjadi.

Ada tiga pilar utama yang mendasari SPAB ini. Yakni fasilitas sekolah aman. Artinya konstruksi bangunan telah sesuai dengan Permen PUPR Nomor 29 Tahun 2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.

“Peralatan, sarana prasarana itu sudah harus sesuai dengan aturan tersebut,” kata Kasi Pencegahan BPBD Sidoarjo, Choiri Selasa (19/10).

Kemudian, adanya tim siaga bencana di sekolah. Serta adanya pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana. Pendidik, tenaga pendidik, siswa dan masyarakat sekitar dididik  mengerti upaya mitigasi serta tangguh menghadapi bencana.

“Tahu cara menyelamatkan diri. Diharapkan risiko bencana dapat diminimalkan,” urainya.

Tahun ini, SLB AC Dharma Wanita Kecamatan Sidoarjo dan SLB AC Negeri Juwet Kenongo Kecamatan Porong didorong menjadi SPAB. Sebelumnya SMPN 1 Waru dan SDN Sidokare telah dinobatkan sebagai SPAB.

Selanjutnya SPAB ini akan dibentuk BPBD Sidoarjo di SMPN 2 Tanggulangin dan SDN Banjarsari.

“Karena di sana rawan banjir,” ungkapnya.

Kabid Pencegahan Kedaruratan dan Logistik BPBD Sidoarjo Karsono menambahkan, Sidoarjo merupakan daerah yang memiliki potensi bencana. Seperti banjir, angin puting beliung dan kebakaran.

Selain itu meskipun Sidoarjo bukan episentrum gempa bumi, maka potensi bencana ini harus diwaspadai. “Beberapa kali Sidoarjo merasakan dampak. Terasa sampai sini,” terangnya.

Sehingga pendidikan bencana alam, khususnya di Sidoarjo untuk warga sekolah sangat penting. Tim siaga bencana tersebut dididik memiliki pengetahuan mitigasi bencana alam. Sehingga mereka bisa melaksanakan pencegahan prefentif dalam setiap bencana alam.

“Ketika menghadapi bencana, tidak lagi panik. Bisa segera melakukan tindakan penyelamatan,” jelasnya.

Dirinya mencontohkan, pada saat terjadi bencana gempa bumi, harus tahu cara membuka pintu. Selain itu tidak menggunakan lift atau elevator tetapi harus melalui tangga hingga harus mengetahui lokasi titik kumpul saat ada bencana gempa. “Termasuk mengetahui gejala gempanya,” tegasnya. (rpp/vga)


Most Read

Berita Terbaru