alexametrics
31 C
Sidoarjo
Sunday, 26 June 2022

Siapkan Anggaran Belanja Tidak Terduga untuk Kebutuhan Obat Wabah PMK

SIDOARJO – Pemkab Sidoarjo bakal menggeser sejumlah anggaran di Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanggulangan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Rencananya anggaran itu hanya untuk kebutuhan obat dan disinfektan.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Produksi Peternakan Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo Tony Hartono saat ikut meninjau sapi di Tropodo, Kecamatan Krian, Jumat (20/5).

“Kalau jumlah anggarannya masih dihitung, tapi yang jelas hanya untuk obat dan disinfektan. Belum sampai pada penggantian ternak yang mati,” terangnya.

Tony menambahkan, jelang pelaksaanaan kurban nanti peredaran ternak di wilayah Sidoarjo bakal diatur lebih ketat. Misalnya mulai dari sapi yang beredar perlu memiliki surat keterangan sehat.

Pedagang yang hendak menjual ternak untuk kurban juga harus memenuhi persyaratan tertentu. Seperti memiliki fasilitas kandang untuk isolasi, hingga pengelolaan limbah kotoran yang baik. “Masih diperbolehkan berjualan tapi ada ketentuannya,” katanya.

Ketentuan itu juga mengacu pada SK dari kementerian terkait. Nantinya dari provinsi ataupun kabupaten akan menjabarkan aturan turunannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo Eni Rustianingsih mengungkapkan, populasi sapi di Sidoarjo yang terserang PMK ada 1.450 ekor. Dari populasi itu kini tersisa 1.114 ekor sapi. “Artinya PMK bisa disembuhkan,” katanya.

Eni menambahkan, peternak tidak perlu khawatir tapi tetap harus menjaga pola perawatan ternaknya. Jika ada ternak yang sakit, maka harus diisolasi. Baju yang digunakan peternak juga harus langsung dicuci. (son/vga)

SIDOARJO – Pemkab Sidoarjo bakal menggeser sejumlah anggaran di Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanggulangan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Rencananya anggaran itu hanya untuk kebutuhan obat dan disinfektan.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Produksi Peternakan Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo Tony Hartono saat ikut meninjau sapi di Tropodo, Kecamatan Krian, Jumat (20/5).

“Kalau jumlah anggarannya masih dihitung, tapi yang jelas hanya untuk obat dan disinfektan. Belum sampai pada penggantian ternak yang mati,” terangnya.

Tony menambahkan, jelang pelaksaanaan kurban nanti peredaran ternak di wilayah Sidoarjo bakal diatur lebih ketat. Misalnya mulai dari sapi yang beredar perlu memiliki surat keterangan sehat.

Pedagang yang hendak menjual ternak untuk kurban juga harus memenuhi persyaratan tertentu. Seperti memiliki fasilitas kandang untuk isolasi, hingga pengelolaan limbah kotoran yang baik. “Masih diperbolehkan berjualan tapi ada ketentuannya,” katanya.

Ketentuan itu juga mengacu pada SK dari kementerian terkait. Nantinya dari provinsi ataupun kabupaten akan menjabarkan aturan turunannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo Eni Rustianingsih mengungkapkan, populasi sapi di Sidoarjo yang terserang PMK ada 1.450 ekor. Dari populasi itu kini tersisa 1.114 ekor sapi. “Artinya PMK bisa disembuhkan,” katanya.

Eni menambahkan, peternak tidak perlu khawatir tapi tetap harus menjaga pola perawatan ternaknya. Jika ada ternak yang sakit, maka harus diisolasi. Baju yang digunakan peternak juga harus langsung dicuci. (son/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/