alexametrics
27 C
Sidoarjo
Saturday, 21 May 2022

Krisis Air Gempolsari Bakal Disuplai Air Umbulan

SIDOARJO – Krisis air bersih warga Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin mendapat respon dari Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor). Rencananya solusi suplai air bersih untuk kawasan tersebut adalah dengan distribusi air Umbulan.

Rencana itu diungkapkan Gus Muhdlor Rabu (16/6). “Di perencanaan 2021-2022 kami dorong untuk pipanisasi dari air Umbulan,” katanya.

Alumnus Unair Surabaya itu menambahkan, strategi distribusi air dengan pipanisasi dari air Umbulan itu juga termasuk upaya dalam menuntaskan angka stunting di titik-titik lokus stunting. Karena salah satu faktor stunting juga disebabkan rendahnya kualitas air tempat tinggal balita. “Air tanahnya kadar Fe –nya tinggi,” imbuhnya.

Karena itu, salah satu proyek distribusi air Umbulan juga akan difokuskan kepada titik-titik daerah yang menjadi lokus stunting. Salah satunya di wilayah Tanggulangin.

Konsepnya, lanjut Gus Muhdlor, bisa dari masyarakat sendiri yang menyambung air PDAM atu dari Bumdes yang menyediakan. “Tentunya dengan subsidi. Agar murah. Yang penting masyarakat sudah bisa minum yang higenis,” imbuhnya.

Selain menyiapkan distribusi air dengan memanfaatkan air Umbulan, Gus Muhdlor juga mengungkapkan jika salah satu strategi jangka pendeknya adalah pendistribusian air bersih dengan tangki-tangki air. Sehingga masyarakat bisa dengan cepat mendapatkan akses air bersih.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Warga Polo Gunting, Gempolsari, Tanggulangin masih membutuhkan bantuan suplay air bersih. Karena air sumur warga tercemar sehingga kurang layak untuk mandi apalagi memasak.

Robiatul Adawiyah, warga Dusun Polo Gunting menceritakan, kondisi air sumurnya biasanya berwarna kuning kadang sampai hampir hitam. “Airnya rasanya asin,” katanya.

Kondisi air sumur yang sedemikian rupa tentunya merepotkan warga setempat. Untuk mandi saja, warga harus membeli air bersih guna bilasan terakhir agar tidak gatal. Termasuk untuk mencuci pakaian, warga harus menyediakan air bersih selain dari sumur untuk bilasan terakhir. Agar baju tidak berwarna kuning.

Air bersih yang dimaksud biasanya dibeli dari pedagang air yang biasa menjual dengan jerigen keliling. “Satu jerigen harganya Rp 2 ribu,” imbuh Robiatul. (son/opi)

SIDOARJO – Krisis air bersih warga Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin mendapat respon dari Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor). Rencananya solusi suplai air bersih untuk kawasan tersebut adalah dengan distribusi air Umbulan.

Rencana itu diungkapkan Gus Muhdlor Rabu (16/6). “Di perencanaan 2021-2022 kami dorong untuk pipanisasi dari air Umbulan,” katanya.

Alumnus Unair Surabaya itu menambahkan, strategi distribusi air dengan pipanisasi dari air Umbulan itu juga termasuk upaya dalam menuntaskan angka stunting di titik-titik lokus stunting. Karena salah satu faktor stunting juga disebabkan rendahnya kualitas air tempat tinggal balita. “Air tanahnya kadar Fe –nya tinggi,” imbuhnya.

Karena itu, salah satu proyek distribusi air Umbulan juga akan difokuskan kepada titik-titik daerah yang menjadi lokus stunting. Salah satunya di wilayah Tanggulangin.

Konsepnya, lanjut Gus Muhdlor, bisa dari masyarakat sendiri yang menyambung air PDAM atu dari Bumdes yang menyediakan. “Tentunya dengan subsidi. Agar murah. Yang penting masyarakat sudah bisa minum yang higenis,” imbuhnya.

Selain menyiapkan distribusi air dengan memanfaatkan air Umbulan, Gus Muhdlor juga mengungkapkan jika salah satu strategi jangka pendeknya adalah pendistribusian air bersih dengan tangki-tangki air. Sehingga masyarakat bisa dengan cepat mendapatkan akses air bersih.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Warga Polo Gunting, Gempolsari, Tanggulangin masih membutuhkan bantuan suplay air bersih. Karena air sumur warga tercemar sehingga kurang layak untuk mandi apalagi memasak.

Robiatul Adawiyah, warga Dusun Polo Gunting menceritakan, kondisi air sumurnya biasanya berwarna kuning kadang sampai hampir hitam. “Airnya rasanya asin,” katanya.

Kondisi air sumur yang sedemikian rupa tentunya merepotkan warga setempat. Untuk mandi saja, warga harus membeli air bersih guna bilasan terakhir agar tidak gatal. Termasuk untuk mencuci pakaian, warga harus menyediakan air bersih selain dari sumur untuk bilasan terakhir. Agar baju tidak berwarna kuning.

Air bersih yang dimaksud biasanya dibeli dari pedagang air yang biasa menjual dengan jerigen keliling. “Satu jerigen harganya Rp 2 ribu,” imbuh Robiatul. (son/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/