alexametrics
25 C
Sidoarjo
Saturday, 28 May 2022

Bupati Sidoarjo Targetkan Volume TPA Jabon Berkurang 50 Persen

SIDOARJO – Pemkab Sidoarjo mendorong masyarakat berpartisipasi aktif mengurai permasalahan sampah. Caranya dengan membentuk Kelompok Swadaya Mandiri (KSM) dan memaksimalkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

Bupati Sidoarjo Ahmad Mudhlor menyebut penguatan standar pemilahan sampah tersebut telah dilakukan di 7 TPST kawasan dan 113 TPST desa. Tujuannya untuk mengurangi sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jabon.

“Ini kerja bersama. Saya minta camat dan kades serta lurah ikut bergerak, pantau pemilahan di masing-masing TPST. Untuk desa, anggarkan TPST, bisa melalui bantuan keuangan dari pokok pikiran DPRD,” ujarnya, Senin (15/11).

Dia menargetkan, volume sampah yang masuk ke TPA Jabon bisa berkurang sampai 50 persen. “Atau bahkan tidak sampai dibuang ke TPA Jabon karena sudah dilakukan pemilahan,” jelasnya.

Sejak 25 Oktober 2021, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo menerapkan kebijakan bahwa TPA Jabon tidak lagi menerima sampah non residu atau sampah yang belum dipilah. Aturan ini untuk mengurangi volume sampah yang masuk dan memaksimalkan pengolahan di TPST.

Misalnya, di TPST Prasung yang setiap hari menerima 17 ton sampah. Setelah dilakukan pemilahan, tinggal menyisakan 6,5 ton sampah residu yang tak bisa diolah lagi. Sehingga jumlah sampah yang dibawa ke TPA Jabon bisa berkurang 10,5 ton per hari.

Di TPST Prasung, pengelolaan sampah dikerjakan KSM yang mempekerjakan 20 orang. Setiap hari mereka melakukan pemilahan sampah yang dihasilan dari rumah tangga, termasuk melayani sampah dari desa terdekat yang belum memilki TPST. Setiap harinya KSM TPST Prasung berhasil mengelola 10,5 ton sampah menjadi punya nilai ekonomi.

Contoh lain, pengelolaan sampah di TPST kawasan Sedati Gede yang melayani 5.200 KK, ditambah sampah dari hotel, industri, rumah makan, dan sekolah. Total ada 16 ton sampah masuk setiap hari. Setelah dipilah, tinggal menyisakan 10 ton yang dibawa ke TPA Jabon.

Saat ini ada 7 TPST kawasan yang aktif. Yaitu, Tambak Rejo Waru, Tulangan, Barengkrajan Krian, Banjarbendo Sidoarjo, Bluru Kidul, Kelurahan Taman, dan Sedati Gede. Satu TPST kawasan belum diaktifkan karena ada penolakan dari warga sekitar. Yaitu TPST kawasan Candi Pari.

Muhdlor menambahkan, pihaknya akan membangun dua tambahan TPST kawasan. Yakni, di Kecamatan Sukodono dan Kecamatan Sedati yang ditarget selesai akhir 2021.

”Kita akan optimalkan setiap TPST kawasan, nantinya bisa mengelola sampah rumah tangga secara paripurna untuk dikonversi menjadi bahan bakar jenis briket. Kita siapkan teknologinya,” ujarnya. (rpp/vga)

 

SIDOARJO – Pemkab Sidoarjo mendorong masyarakat berpartisipasi aktif mengurai permasalahan sampah. Caranya dengan membentuk Kelompok Swadaya Mandiri (KSM) dan memaksimalkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

Bupati Sidoarjo Ahmad Mudhlor menyebut penguatan standar pemilahan sampah tersebut telah dilakukan di 7 TPST kawasan dan 113 TPST desa. Tujuannya untuk mengurangi sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jabon.

“Ini kerja bersama. Saya minta camat dan kades serta lurah ikut bergerak, pantau pemilahan di masing-masing TPST. Untuk desa, anggarkan TPST, bisa melalui bantuan keuangan dari pokok pikiran DPRD,” ujarnya, Senin (15/11).

Dia menargetkan, volume sampah yang masuk ke TPA Jabon bisa berkurang sampai 50 persen. “Atau bahkan tidak sampai dibuang ke TPA Jabon karena sudah dilakukan pemilahan,” jelasnya.

Sejak 25 Oktober 2021, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo menerapkan kebijakan bahwa TPA Jabon tidak lagi menerima sampah non residu atau sampah yang belum dipilah. Aturan ini untuk mengurangi volume sampah yang masuk dan memaksimalkan pengolahan di TPST.

Misalnya, di TPST Prasung yang setiap hari menerima 17 ton sampah. Setelah dilakukan pemilahan, tinggal menyisakan 6,5 ton sampah residu yang tak bisa diolah lagi. Sehingga jumlah sampah yang dibawa ke TPA Jabon bisa berkurang 10,5 ton per hari.

Di TPST Prasung, pengelolaan sampah dikerjakan KSM yang mempekerjakan 20 orang. Setiap hari mereka melakukan pemilahan sampah yang dihasilan dari rumah tangga, termasuk melayani sampah dari desa terdekat yang belum memilki TPST. Setiap harinya KSM TPST Prasung berhasil mengelola 10,5 ton sampah menjadi punya nilai ekonomi.

Contoh lain, pengelolaan sampah di TPST kawasan Sedati Gede yang melayani 5.200 KK, ditambah sampah dari hotel, industri, rumah makan, dan sekolah. Total ada 16 ton sampah masuk setiap hari. Setelah dipilah, tinggal menyisakan 10 ton yang dibawa ke TPA Jabon.

Saat ini ada 7 TPST kawasan yang aktif. Yaitu, Tambak Rejo Waru, Tulangan, Barengkrajan Krian, Banjarbendo Sidoarjo, Bluru Kidul, Kelurahan Taman, dan Sedati Gede. Satu TPST kawasan belum diaktifkan karena ada penolakan dari warga sekitar. Yaitu TPST kawasan Candi Pari.

Muhdlor menambahkan, pihaknya akan membangun dua tambahan TPST kawasan. Yakni, di Kecamatan Sukodono dan Kecamatan Sedati yang ditarget selesai akhir 2021.

”Kita akan optimalkan setiap TPST kawasan, nantinya bisa mengelola sampah rumah tangga secara paripurna untuk dikonversi menjadi bahan bakar jenis briket. Kita siapkan teknologinya,” ujarnya. (rpp/vga)

 

Most Read

Berita Terbaru


/