alexametrics
25 C
Sidoarjo
Friday, 27 May 2022

Indikator Surveilans Masih Lemah, Sidoarjo Zona Merah Lagi

SIDOARJO – Zona Covid-19 di Sidoarjo masih saja fluktuatif. Sempat berada di zona oranye, kemarin kembali masuk zona merah untuk kedua kalinya. Ketua Departemen Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Atik Choirul Hidajah mengatakan, dari tiga indikator besar dan 15 item penilaian, yakni indikator epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan secara keseluruhan, Sidoarjo sudah bagus.

Case fatality rate (CFR) pada 10 Agustus, Sidoarjo di angka 5,7 persen. Lebih bagus dari Surabaya (8,5 persen), dan Gresik (7,3 persen). Case recovery rate Sidoarjo 70,6 persen dan Surabaya 66 persen serta Gresik 67,6 persen.

Dari indikator besar tersebut ternyata surveilans Sidoarjo masih ada kelemahan. Terlebih pada lab yang tidak termasuk dalam jaringan Litbangkes belum mempunyai username dan password. “Itu yang menyebabkan tidak bisa memasukkan data. Menyebabkan tingkat testing Sidoarjo masih rendah,” jelasnya.

Atik menyarankan Sidoarjo mendaftarkan mobile kontainer PCR di GOR Delta Sidoarjo untuk segera diverifikasi agar mendapat username dan password. “Sehingga spesimen yang diperiksa tersebut bisa segera terhitung datanya,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Syaf Satriawarman menjelaskan, sekitar 5.200 spesimen sudah diperiksa di mobile PCR. “Segera jika sudah terverifikasi akan menambah jumlah testing di Sidoarjo,” harapnya.

Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Sumardji mengutarakan, Forkopimda, TNI, dan Polri sudah bekerja keras semaksimal mungkin mendisiplinkan masyarakat untuk patuh protokol kesehatan.

Dia meminta seluruh data bisa dievaluasi dan menemukan formulasi agar Sidoarjo bisa segera menjadi oranye dan menuju zona kuning bahkan hijau. “15 indikator yang dipakai itu kita tahu dan selalu pantau datanya. Sehingga kita tepat sasaran,” tegasnya. (rpp/vga/opi)

SIDOARJO – Zona Covid-19 di Sidoarjo masih saja fluktuatif. Sempat berada di zona oranye, kemarin kembali masuk zona merah untuk kedua kalinya. Ketua Departemen Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Atik Choirul Hidajah mengatakan, dari tiga indikator besar dan 15 item penilaian, yakni indikator epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan secara keseluruhan, Sidoarjo sudah bagus.

Case fatality rate (CFR) pada 10 Agustus, Sidoarjo di angka 5,7 persen. Lebih bagus dari Surabaya (8,5 persen), dan Gresik (7,3 persen). Case recovery rate Sidoarjo 70,6 persen dan Surabaya 66 persen serta Gresik 67,6 persen.

Dari indikator besar tersebut ternyata surveilans Sidoarjo masih ada kelemahan. Terlebih pada lab yang tidak termasuk dalam jaringan Litbangkes belum mempunyai username dan password. “Itu yang menyebabkan tidak bisa memasukkan data. Menyebabkan tingkat testing Sidoarjo masih rendah,” jelasnya.

Atik menyarankan Sidoarjo mendaftarkan mobile kontainer PCR di GOR Delta Sidoarjo untuk segera diverifikasi agar mendapat username dan password. “Sehingga spesimen yang diperiksa tersebut bisa segera terhitung datanya,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Syaf Satriawarman menjelaskan, sekitar 5.200 spesimen sudah diperiksa di mobile PCR. “Segera jika sudah terverifikasi akan menambah jumlah testing di Sidoarjo,” harapnya.

Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Sumardji mengutarakan, Forkopimda, TNI, dan Polri sudah bekerja keras semaksimal mungkin mendisiplinkan masyarakat untuk patuh protokol kesehatan.

Dia meminta seluruh data bisa dievaluasi dan menemukan formulasi agar Sidoarjo bisa segera menjadi oranye dan menuju zona kuning bahkan hijau. “15 indikator yang dipakai itu kita tahu dan selalu pantau datanya. Sehingga kita tepat sasaran,” tegasnya. (rpp/vga/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/