alexametrics
28 C
Sidoarjo
Saturday, 28 May 2022

Perkuat Peran Puskesmas dan Posyandu untuk Turunkan Stunting

SIDOARJO – Selain proyek jalan, Pemkab Sidoarjo memperkuat layanan kesehatan dan telah merencanakan pembangunan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) baru. Puskesmas ini diharapkan mampu menekan angka stunting di Kota Delta.

“Rencananya, di Sidoarjo ada empat atau bisa enam puskesmas baru yang akan kami bangun. Kami juga dorong Posyandu aktif lagi,” kata Bupati Sidoarjo Ahmad Mudhlor Ali, kemarin (9/3).

“Angka stunting kita tinggi. Terutama di pesisir, karena masyarakat mengkonsumsi air tanah,” sambungnya.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mencatat, angka stunting di Sidoarjo sempat menjadi yang tertinggi di Jatim pada November 2019 lalu. Jumlahnya mencapai 24.439 balita dari total 344.019 balita stunting di Jatim.

Karena itu, tidak hanya membangun puskesmas baru dan mengaktifkan posyandu, Muhdlor ingin mengembalikan peran Puskesmas yang selama ini lebih pada penanganan kuratif kepada preventif.

“Puskesmas kami dorong supaya tidak hanya berperan secara kuratif, tapi kembali ke preventif. Jangan sampai karena ada BPJS, semangatnya menggantikan rumah sakit,” katanya.

Muhdlor berharap, puskesmas tidak terjebak pada ambisi menyaingi peran rumah sakit. Tapi lebih pada penanganan preventif lagi. Misalnya, mengedukasi ibu-ibu hamil di pesisir soal risiko meminum air tanah. (rpp/opi)

 

SIDOARJO – Selain proyek jalan, Pemkab Sidoarjo memperkuat layanan kesehatan dan telah merencanakan pembangunan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) baru. Puskesmas ini diharapkan mampu menekan angka stunting di Kota Delta.

“Rencananya, di Sidoarjo ada empat atau bisa enam puskesmas baru yang akan kami bangun. Kami juga dorong Posyandu aktif lagi,” kata Bupati Sidoarjo Ahmad Mudhlor Ali, kemarin (9/3).

“Angka stunting kita tinggi. Terutama di pesisir, karena masyarakat mengkonsumsi air tanah,” sambungnya.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mencatat, angka stunting di Sidoarjo sempat menjadi yang tertinggi di Jatim pada November 2019 lalu. Jumlahnya mencapai 24.439 balita dari total 344.019 balita stunting di Jatim.

Karena itu, tidak hanya membangun puskesmas baru dan mengaktifkan posyandu, Muhdlor ingin mengembalikan peran Puskesmas yang selama ini lebih pada penanganan kuratif kepada preventif.

“Puskesmas kami dorong supaya tidak hanya berperan secara kuratif, tapi kembali ke preventif. Jangan sampai karena ada BPJS, semangatnya menggantikan rumah sakit,” katanya.

Muhdlor berharap, puskesmas tidak terjebak pada ambisi menyaingi peran rumah sakit. Tapi lebih pada penanganan preventif lagi. Misalnya, mengedukasi ibu-ibu hamil di pesisir soal risiko meminum air tanah. (rpp/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/