alexametrics
30 C
Sidoarjo
Monday, 16 May 2022

Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga Bersama Mitra Kerja

Melalui Genre Ceria Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)

SIDOARJO – Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB Arzeti Bilbina menggelar Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga Bersama Mitra Kerja Melalui Genre Ceria pada masa pandemi Covid-19, Sabtu (8/8). Acara itu digelar di STAI YPBWI Surabaya, Jalan Wedoro PP No. 66 Waru, Sidoarjo.

Arzeti Bilbina menjelaskan, kegiatan tersebut dimaksudkan agar para generasi muda di Jawa Timur dapat mengubah keinginannya untuk dapat menikah muda. Tujuannya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sebab perlu ada kematangan reproduksi. “Karena yang kami inginkan mereka dapat menyiapkan kesiapan fisik, mental dan materi, sehingga tidak terjadi hal yang tak diinginkan,” kata Arzeti, Sabtu (8/8).

Menurutnya, angka tren pernikahan dini di Indonesia masih tinggi. Di Kota Surabaya, misalnya, tren pernikahan dini meningkat 50 persen saat pandemi dibanding dengan tren tahun sebelumnya. Menurutnya, ada banyak faktor yang menyebabkan hal itu masih terjadi.

Misalnya faktor ekonomi dan pendidikan. Di samping itu ada pula dorongan dari orang tua agar anaknya dapat segera menikah. Padahal semua itu harus punya perencanaan yang baik dan matang. “Sekarang perlu ada perencanaan yang matang agar berjalan baik,” ujarnya.

Kepala BKKBN Jawa Timur Sukaryo Teguh Santoso menuturkan, pernikahan dini saat ini di Jawa Timur memang masih banyak. Angka rata-rata usia kawin pertama perempuan di Jawa Timur 20,9 tahun. Meski begitu, dirinya mengakui adanya beberapa daerah yang masih menerapkan pernikahan dini.

HIDUP SEHAT: Kepala BKKBN Jawa Timur Sukaryo Teguh Santoso (berdiri) saat menjelaskan pentingnya pemahaman perkembangan reproduksi remaja. (LUKMAN AL FARISI/RADAR SIDOARJO)

Di pedesaan, misalnya, rata-rata perkawinan lebih muda dua tahun dibanding di wilayah perkotaan. Menurutnya, usia ideal menikah bagi wanita adalah 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Sukaryo menjelaskan, usia minimal perempuan menikah adalah usia 20 tahun. “Karena kalau melihat reproduksi matang bagi wanita adalah di usia 20-21 tahun, dan pernikahan dini masih erat dengan kultur masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB) Kabupaten Sidoarjo Ainun Amalia berharap, generasi muda saat ini menjadi generasi berencana. Sebab dengan begitu maka akan melahirkan generasi yang lebih sehat. “Jadi semua aspek harus direncanakan, mulai pendidikan, kemudian bekerja, lalu bagaimana menjalani pernikahan,” ujarnya.

Rektor STAI YPBWI Surabaya Drs. Toha Machsun, M.Pd mengapresiasi sosialisasi itu. Sebab, menurutnya hal itu sangat penting dalam menyiapkan generasi masa depan. Sehingga nantinya generasi yang akan datang bisa benar-benar bermanfaat bagi agama nusa dan bangsa. “Harus bisa bermanfaat untuk umat,” katanya. (far/opi)

Melalui Genre Ceria Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)

SIDOARJO – Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB Arzeti Bilbina menggelar Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga Bersama Mitra Kerja Melalui Genre Ceria pada masa pandemi Covid-19, Sabtu (8/8). Acara itu digelar di STAI YPBWI Surabaya, Jalan Wedoro PP No. 66 Waru, Sidoarjo.

Arzeti Bilbina menjelaskan, kegiatan tersebut dimaksudkan agar para generasi muda di Jawa Timur dapat mengubah keinginannya untuk dapat menikah muda. Tujuannya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sebab perlu ada kematangan reproduksi. “Karena yang kami inginkan mereka dapat menyiapkan kesiapan fisik, mental dan materi, sehingga tidak terjadi hal yang tak diinginkan,” kata Arzeti, Sabtu (8/8).

Menurutnya, angka tren pernikahan dini di Indonesia masih tinggi. Di Kota Surabaya, misalnya, tren pernikahan dini meningkat 50 persen saat pandemi dibanding dengan tren tahun sebelumnya. Menurutnya, ada banyak faktor yang menyebabkan hal itu masih terjadi.

Misalnya faktor ekonomi dan pendidikan. Di samping itu ada pula dorongan dari orang tua agar anaknya dapat segera menikah. Padahal semua itu harus punya perencanaan yang baik dan matang. “Sekarang perlu ada perencanaan yang matang agar berjalan baik,” ujarnya.

Kepala BKKBN Jawa Timur Sukaryo Teguh Santoso menuturkan, pernikahan dini saat ini di Jawa Timur memang masih banyak. Angka rata-rata usia kawin pertama perempuan di Jawa Timur 20,9 tahun. Meski begitu, dirinya mengakui adanya beberapa daerah yang masih menerapkan pernikahan dini.

HIDUP SEHAT: Kepala BKKBN Jawa Timur Sukaryo Teguh Santoso (berdiri) saat menjelaskan pentingnya pemahaman perkembangan reproduksi remaja. (LUKMAN AL FARISI/RADAR SIDOARJO)

Di pedesaan, misalnya, rata-rata perkawinan lebih muda dua tahun dibanding di wilayah perkotaan. Menurutnya, usia ideal menikah bagi wanita adalah 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Sukaryo menjelaskan, usia minimal perempuan menikah adalah usia 20 tahun. “Karena kalau melihat reproduksi matang bagi wanita adalah di usia 20-21 tahun, dan pernikahan dini masih erat dengan kultur masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB) Kabupaten Sidoarjo Ainun Amalia berharap, generasi muda saat ini menjadi generasi berencana. Sebab dengan begitu maka akan melahirkan generasi yang lebih sehat. “Jadi semua aspek harus direncanakan, mulai pendidikan, kemudian bekerja, lalu bagaimana menjalani pernikahan,” ujarnya.

Rektor STAI YPBWI Surabaya Drs. Toha Machsun, M.Pd mengapresiasi sosialisasi itu. Sebab, menurutnya hal itu sangat penting dalam menyiapkan generasi masa depan. Sehingga nantinya generasi yang akan datang bisa benar-benar bermanfaat bagi agama nusa dan bangsa. “Harus bisa bermanfaat untuk umat,” katanya. (far/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/