alexametrics
25 C
Sidoarjo
Saturday, 28 May 2022

Perempuan di Sidoarjo Hampir Setara dengan Laki-Laki

SIDOARJO – Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sidoarjo menunjukkan pembangunan gender di Kota Delta, terus mengalami kenaikan pada tahun 2020. Nilai Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kabupaten Sidaorjo adalah 94,13 naik sebesar 0,36 persen dari tahun 2019.

Melalui IPG dapat dilihat bagaimana masing-masing baik laki-laki dan perempuan dalam mengakses pendidikan, kesehatan, dan juga memiliki stadar hidup layak.

Kepala BPS Sidoarjo Indriya Purwaningsih menjelaskan meskipun nilai IPG Kabupaten Sidoarjo tergolong tinggi selama 2010–2020 yaitu diatas 90, namun selama rentang waktu tersebut nilainya masih kurang dari 100.

Berdasarkan nilainya, IPG dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Sebab untuk nilai IPG kurang dari 100 berarti bahwa capaian perempuan kurang dari capaian laki-laki, untuk nilai IPG sama dengan 100 berarti bahwa capaian perempuan sama dengan capaian laki-laki, dan niali IPG lebih dari 100 berarti bahwa capaian perempuan lebih dari capaian laki-laki.

Meskipun pencapaian pembangunan sempat mengalami penurunan pada tahun 2017 yakni 93,33, namun pembangunan gender di Kabupaten Sidoarjo masih tergolong cukup tinggi. Kesetaraan dan keadilan gender kembali mengalami kenaikan pada tahun 2018-2020 masing-masing nilainya adalah 93,33 , 93,79 dan 94,13 pada skala 0–100.

“Nilai tersebut berarti bahwa pencapaian pembangunan penduduk perempuan kurang dari pencapaian penduduk laki-laki,” katanya.

Pencapaian pembangunan gender ini, kata Indri, diukur dengan memperhatikan tiga aspek esensial yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Oleh karena itu, peningkatan capaian pembangunan gender tidak terlepas dari peningkatan setiap komponennya.

Umur Harapan Hidup (UHH) laki-laki tahun 2019 sebesar 72.06. Tahun 2020 sebesar 72.12 naik 0,083. Sedangkan UHH perempuan tumbuh 0,053 pada 2019 sebesar 75.79 pada 2020 menjadi 75.83. Sementara Harapan Lama Sekolah (HLS) laki-laki naik 0,135 dan perempuan 0,133. Pertumbuhan tertinggi adalah indikator rata-rata lama sekolah (RLS) untuk jenis kelamin perempuan, yaitu sebesar 3,19 persen.

Artinya selama tahun 2019-2020 penduduk perempuan di Kabupaten Sidoarjo mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik sehingga penduduk perempuan yang bersekolah dan melanjutkan pendidikan semakin banyak.

Pengeluaran perkapita yang disesuaikan penduduk perempuan turun 1,138 persen, sedangkan untuk penduduk laki-laki turun sebesar 0,710 persen. Salah satu penyebab turunnya pendapatan perkapita yang disesuaikan adalah terjadinya pandemi Covid-19 yang membatasi ruang gerak segala aspek dalam kehidupan, salah satunya perekonomian.

Terdapat selisih yang cukup signifikan untuk pengeluaran perkapita yang disesuaikan antara perempuan dan laki-laki. Hal tersebut berarti bahwa selama terjadinya pandemi tahun 2020 penduduk laki-laki memiliki kesempatan yang jauh lebih besar dalam pasar tenaga kerja dibandingkan dengan penduduk perempuan.

“Dengan melihat capaian masing-masing komponen, diharapkan Pemerintah Daerah mendapatkan input untuk meningkatkan kesetaraan gender melalui pembangunan indikator yang dianggap potensial,” pungkasnya. (rpp/opi)

 

SIDOARJO – Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sidoarjo menunjukkan pembangunan gender di Kota Delta, terus mengalami kenaikan pada tahun 2020. Nilai Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kabupaten Sidaorjo adalah 94,13 naik sebesar 0,36 persen dari tahun 2019.

Melalui IPG dapat dilihat bagaimana masing-masing baik laki-laki dan perempuan dalam mengakses pendidikan, kesehatan, dan juga memiliki stadar hidup layak.

Kepala BPS Sidoarjo Indriya Purwaningsih menjelaskan meskipun nilai IPG Kabupaten Sidoarjo tergolong tinggi selama 2010–2020 yaitu diatas 90, namun selama rentang waktu tersebut nilainya masih kurang dari 100.

Berdasarkan nilainya, IPG dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Sebab untuk nilai IPG kurang dari 100 berarti bahwa capaian perempuan kurang dari capaian laki-laki, untuk nilai IPG sama dengan 100 berarti bahwa capaian perempuan sama dengan capaian laki-laki, dan niali IPG lebih dari 100 berarti bahwa capaian perempuan lebih dari capaian laki-laki.

Meskipun pencapaian pembangunan sempat mengalami penurunan pada tahun 2017 yakni 93,33, namun pembangunan gender di Kabupaten Sidoarjo masih tergolong cukup tinggi. Kesetaraan dan keadilan gender kembali mengalami kenaikan pada tahun 2018-2020 masing-masing nilainya adalah 93,33 , 93,79 dan 94,13 pada skala 0–100.

“Nilai tersebut berarti bahwa pencapaian pembangunan penduduk perempuan kurang dari pencapaian penduduk laki-laki,” katanya.

Pencapaian pembangunan gender ini, kata Indri, diukur dengan memperhatikan tiga aspek esensial yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Oleh karena itu, peningkatan capaian pembangunan gender tidak terlepas dari peningkatan setiap komponennya.

Umur Harapan Hidup (UHH) laki-laki tahun 2019 sebesar 72.06. Tahun 2020 sebesar 72.12 naik 0,083. Sedangkan UHH perempuan tumbuh 0,053 pada 2019 sebesar 75.79 pada 2020 menjadi 75.83. Sementara Harapan Lama Sekolah (HLS) laki-laki naik 0,135 dan perempuan 0,133. Pertumbuhan tertinggi adalah indikator rata-rata lama sekolah (RLS) untuk jenis kelamin perempuan, yaitu sebesar 3,19 persen.

Artinya selama tahun 2019-2020 penduduk perempuan di Kabupaten Sidoarjo mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik sehingga penduduk perempuan yang bersekolah dan melanjutkan pendidikan semakin banyak.

Pengeluaran perkapita yang disesuaikan penduduk perempuan turun 1,138 persen, sedangkan untuk penduduk laki-laki turun sebesar 0,710 persen. Salah satu penyebab turunnya pendapatan perkapita yang disesuaikan adalah terjadinya pandemi Covid-19 yang membatasi ruang gerak segala aspek dalam kehidupan, salah satunya perekonomian.

Terdapat selisih yang cukup signifikan untuk pengeluaran perkapita yang disesuaikan antara perempuan dan laki-laki. Hal tersebut berarti bahwa selama terjadinya pandemi tahun 2020 penduduk laki-laki memiliki kesempatan yang jauh lebih besar dalam pasar tenaga kerja dibandingkan dengan penduduk perempuan.

“Dengan melihat capaian masing-masing komponen, diharapkan Pemerintah Daerah mendapatkan input untuk meningkatkan kesetaraan gender melalui pembangunan indikator yang dianggap potensial,” pungkasnya. (rpp/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/