alexametrics
27 C
Sidoarjo
Saturday, 21 May 2022

YAICI-PP Muslimat NU, Cegah Stunting Tingkatkan Pemahaman Gizi Masyarakat

SIDOARJO – Pemkab Sidoarjo terus berupaya menekan angka stunting dan gizi buruk. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sidoarjo, pada Agustus 2020 angkanya sempat mencapai sekitar 8,24 persen atau 6.207 anak, dari jumlah pengukuran atau penimbangan.

Sedangkan di Februari 2021, angka stunting ini turun menjadi 7,9 persen atau 5.239 anak dari 66.353 yang diperiksa. Meski terjadi penurunan prevalensi stunting, namun upaya-upaya pencegahan stunting harus tetap digencarkan.

Mengambil peran dalam upaya pengentasan stunting, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama PP Muslimat NU melanjutkan edukasi gizi dan pengumpulan fakta konsumsi susu kental manis oleh masyarakat. Di Sidoarjo, kegiatan dilakukan di kantor PC Muslimat NU, Minggu (6/3).

Hadir sebagai narasumber Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU Erna Yulia Soefihara, Ketua Harian YAICI Arif Hidayat dan Dr. dr. Wiwik Winarningsih, MARS dan Ketua PC Muslimat NU Sidoarjo Ainun Jariyah.

Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU Erna Yulia Soefihara mengatakan, PP Muslimat NU akan terus menyampaikan edukasi mengenai gizi kepada masyarakat terutama kader-kader NU. Sebab, pemahaman mengenai gizi berkaitan langsung dengan kesehatan anak dalam keluarga.

“Mengenai stunting, yang pertama kali terganggu itu adalah otak anak. Begitu anak lahir, otak anak tidak berkembang sebagaimana mestinya, ini adalah akibat ketidaktahuan ibu,” jelas Erna.

Lebih lanjut, Erna juga menegaskan untuk membatasi konsumsi gula harian. Sebab gula adalah media yang paling disenangi sel-sel kanker. Jadi sebaiknya konsumsi makanan minuman tinggi gula dihindari.

“Maka dari itu penderita kanker sebaiknya membatasi konsumsi gula, apalagi susu kental manis, ini sangat disukai oleh sel-sel kanker untuk tumbuh,” imbuhnya.

Dr. dr. Wiwik Winarningsih, MARS mengingatkan, edukasi mengenai gizi dan susu kental manis seharusnya tidak hanya menyasar ibu-ibu atau calon ibu. Melainkan, generasi sebelumnya seperti nenek, eyang juga harus diedukasi.

Wiwik mengakui bahwa konsumsi susu kental manis sebagai minuman untuk anak masih lumrah dilakukan oleh masyarakat Sidoarjo. “Memang masih banyak anak-anak yang mengkonsumsi susu kental manis sebagai minuman susu, makanya ini sangat mengkhawatirkan. Saya juga sekaligus apresiasi kepada YAICI dan kader PP Muslimat NU yang rutin memberikan edukasi untuk masyarakat. Karena masih banyak yang tidak paham sebenarnya,” jelas Wiwik.

Sementara itu, Ketua Harian YAICI Arif Hidayat menjelaskan edukasi yang telah dilakukan YAICI bersama PP Muslimat NU. Di antara yang telah dilakukan adalah edukasi dan sosialisasi melalui kader, edukasi langsung ke masyarakat, penelitian hingga penggalian data langsung ke masyarakat yang mengkonsumsi susu kental manis.

“Persoalan-persoalan yang kami temukan di lapangan itu beragam. Ada yang orang tua memang tidak tahu mengenai kandungan susu kental manis, atau bahkan ada yang sudah tahu tapi masih memberikan susu kental manis untuk anaknya. Alasannya juga macam-macam, ada yang karena lebih murah atau anaknya lebih suka,” jelas Arif.

Lebih lanjut, PP Muslimat NU dan YAICI berkomitmen akan terus melaksanakan edukasi tentang gizi dan cara yang tepat mengkonsumsi kental manis. “Kita tidak bisa hanya menunggu pemerintah dan produsen yang melakukan sosialisasi. Saat ini kami didukung oleh mitra seperti PP Muslimat NU, maka kita akan lanjutkan edukasi kepada masyarakat,” pungkas Arif. (rpp/vga)

SIDOARJO – Pemkab Sidoarjo terus berupaya menekan angka stunting dan gizi buruk. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sidoarjo, pada Agustus 2020 angkanya sempat mencapai sekitar 8,24 persen atau 6.207 anak, dari jumlah pengukuran atau penimbangan.

Sedangkan di Februari 2021, angka stunting ini turun menjadi 7,9 persen atau 5.239 anak dari 66.353 yang diperiksa. Meski terjadi penurunan prevalensi stunting, namun upaya-upaya pencegahan stunting harus tetap digencarkan.

Mengambil peran dalam upaya pengentasan stunting, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama PP Muslimat NU melanjutkan edukasi gizi dan pengumpulan fakta konsumsi susu kental manis oleh masyarakat. Di Sidoarjo, kegiatan dilakukan di kantor PC Muslimat NU, Minggu (6/3).

Hadir sebagai narasumber Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU Erna Yulia Soefihara, Ketua Harian YAICI Arif Hidayat dan Dr. dr. Wiwik Winarningsih, MARS dan Ketua PC Muslimat NU Sidoarjo Ainun Jariyah.

Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU Erna Yulia Soefihara mengatakan, PP Muslimat NU akan terus menyampaikan edukasi mengenai gizi kepada masyarakat terutama kader-kader NU. Sebab, pemahaman mengenai gizi berkaitan langsung dengan kesehatan anak dalam keluarga.

“Mengenai stunting, yang pertama kali terganggu itu adalah otak anak. Begitu anak lahir, otak anak tidak berkembang sebagaimana mestinya, ini adalah akibat ketidaktahuan ibu,” jelas Erna.

Lebih lanjut, Erna juga menegaskan untuk membatasi konsumsi gula harian. Sebab gula adalah media yang paling disenangi sel-sel kanker. Jadi sebaiknya konsumsi makanan minuman tinggi gula dihindari.

“Maka dari itu penderita kanker sebaiknya membatasi konsumsi gula, apalagi susu kental manis, ini sangat disukai oleh sel-sel kanker untuk tumbuh,” imbuhnya.

Dr. dr. Wiwik Winarningsih, MARS mengingatkan, edukasi mengenai gizi dan susu kental manis seharusnya tidak hanya menyasar ibu-ibu atau calon ibu. Melainkan, generasi sebelumnya seperti nenek, eyang juga harus diedukasi.

Wiwik mengakui bahwa konsumsi susu kental manis sebagai minuman untuk anak masih lumrah dilakukan oleh masyarakat Sidoarjo. “Memang masih banyak anak-anak yang mengkonsumsi susu kental manis sebagai minuman susu, makanya ini sangat mengkhawatirkan. Saya juga sekaligus apresiasi kepada YAICI dan kader PP Muslimat NU yang rutin memberikan edukasi untuk masyarakat. Karena masih banyak yang tidak paham sebenarnya,” jelas Wiwik.

Sementara itu, Ketua Harian YAICI Arif Hidayat menjelaskan edukasi yang telah dilakukan YAICI bersama PP Muslimat NU. Di antara yang telah dilakukan adalah edukasi dan sosialisasi melalui kader, edukasi langsung ke masyarakat, penelitian hingga penggalian data langsung ke masyarakat yang mengkonsumsi susu kental manis.

“Persoalan-persoalan yang kami temukan di lapangan itu beragam. Ada yang orang tua memang tidak tahu mengenai kandungan susu kental manis, atau bahkan ada yang sudah tahu tapi masih memberikan susu kental manis untuk anaknya. Alasannya juga macam-macam, ada yang karena lebih murah atau anaknya lebih suka,” jelas Arif.

Lebih lanjut, PP Muslimat NU dan YAICI berkomitmen akan terus melaksanakan edukasi tentang gizi dan cara yang tepat mengkonsumsi kental manis. “Kita tidak bisa hanya menunggu pemerintah dan produsen yang melakukan sosialisasi. Saat ini kami didukung oleh mitra seperti PP Muslimat NU, maka kita akan lanjutkan edukasi kepada masyarakat,” pungkas Arif. (rpp/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/