alexametrics
28 C
Sidoarjo
Wednesday, 18 May 2022

Komisi D Sarankan Evaluasi Shelter Isoman yang Masih Sepi

SIDOARJO – Komisi D DPRD Sidoarjo menyarankan Pemkab Sidoarjo memiliki data pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman) dengan lebih detail. Hal itu menyikapi masih sepinya minat warga untuk isolasi di shelter yang telah disiapkan.

Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo, Bangun Winarso menegaskan, data yang lebih detail akan membantu pemerintah dalam memetakan kondisi warga yang menjalani isoman. Sehingga dalam pengambilan kebijakan akan lebih tepat sasaran dan diminati warga. Salah satunya soal pembangunan shelter isolasi.

“Harus ada basis data dulu dari masing-masing desa terkait warganya yang positif. Pemetaannya jelas antara gejala yang tergolong ringan, sedang, dan berat. Berat jelas harus ke rumah sakit, yang sedang dan ringan bisa ke shelter,” katanya.

Menurut Bangun, warga yang menjalani isoman di rumah sebenarnya juga lebih riskan menyebabkan klaster keluarga. Karena tidak semuanya memiliki kamar mandi yang lebih dari satu dan kamar tidur yang cukup untuk menunjang isoman.

Seharusnya, imbuhnya, adanya shelter bisa memfasilitasi warga. Tetapi nyatanya minat warga rendah untuk ke shelter.

“Di lapangan sepertinya belum maksimal koordinasi dan komunikasi antara pemkab dan petugas lapangan. Sehingga shelter kurang peminat,” ujar politisi PAN itu.

Saat ini ada enam shelter isolasi milik Pemkab Sidoarjo. Yakni, di Puskesmas Porong, SMPN 2 Taman, SMPN 2 Sidoarjo, Puskesmas Sedati, Mal Pelayanan Publik, dan Rusunawa Tambak Kemerakan Krian. (son/vga)

SIDOARJO – Komisi D DPRD Sidoarjo menyarankan Pemkab Sidoarjo memiliki data pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman) dengan lebih detail. Hal itu menyikapi masih sepinya minat warga untuk isolasi di shelter yang telah disiapkan.

Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo, Bangun Winarso menegaskan, data yang lebih detail akan membantu pemerintah dalam memetakan kondisi warga yang menjalani isoman. Sehingga dalam pengambilan kebijakan akan lebih tepat sasaran dan diminati warga. Salah satunya soal pembangunan shelter isolasi.

“Harus ada basis data dulu dari masing-masing desa terkait warganya yang positif. Pemetaannya jelas antara gejala yang tergolong ringan, sedang, dan berat. Berat jelas harus ke rumah sakit, yang sedang dan ringan bisa ke shelter,” katanya.

Menurut Bangun, warga yang menjalani isoman di rumah sebenarnya juga lebih riskan menyebabkan klaster keluarga. Karena tidak semuanya memiliki kamar mandi yang lebih dari satu dan kamar tidur yang cukup untuk menunjang isoman.

Seharusnya, imbuhnya, adanya shelter bisa memfasilitasi warga. Tetapi nyatanya minat warga rendah untuk ke shelter.

“Di lapangan sepertinya belum maksimal koordinasi dan komunikasi antara pemkab dan petugas lapangan. Sehingga shelter kurang peminat,” ujar politisi PAN itu.

Saat ini ada enam shelter isolasi milik Pemkab Sidoarjo. Yakni, di Puskesmas Porong, SMPN 2 Taman, SMPN 2 Sidoarjo, Puskesmas Sedati, Mal Pelayanan Publik, dan Rusunawa Tambak Kemerakan Krian. (son/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/