alexametrics
30 C
Sidoarjo
Saturday, 21 May 2022

Penyuluh KB Bantu Cegah Klaster Keluarga

SIDOARJO – Pandemi Covid-19 sejak Februari 2020 telah berdampak pada program keluarga berencana (KB) di Jawa Timur. Angka drop out (DO) peserta KB selama enam bulan terakhir mengalami kenaikan. SR BKKBN mencatat Juli terdapat DO KB sebesar 10,46 persen. Dan angka itu naik 9,33 persen dari Februari yang sebesar 1,13 persen.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, penyuluh KB (PLKB) ini multi tugas. Seorang penyuluh KB, bagi Khofifah adalah sosok luar biasa. Sebab mereka adalah orang yang memiliki kemampuan konseling luar biasa. Selain mengajak akseptor untuk tetap menjalani KB selama pandemi, tim PLKB diminta untuk mensosialisasikan pentingnya protokol kesehatan. “Mencegah klaster keluarga sebagaimana yang diinstruksikan presiden,” katanya saat bertemu tim PLKB Jatim di Sidoarjo Rabu (30/9).

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Sukaryo Teguh Santoso mengatakan, kenaikan DO KB ini berdampak pada peningkatan persentase pasangan usia subur (PUS) hamil.

Untuk itu, pihaknya selalu menyerukan kepada masyarakat untuk menunda kehamilan selama pandemi saat ini. Sebab, semester tiga pertama di masa kehamilan banyak keluhan dan imunitas ibu akan menurun. “Ini sangat berpotensi terjadinya penularan Covid-19,” jelasnya.

Apalagi, saat ini, di Jawa Timur juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk menurunkan angka stunting. “Bila angka kehamilan selama masa pandemi ini terus meningkat maka baby boom sangat berpontensi untuk terjadi,” imbuhnya.

Teguh menyebutkan sebanyak 2.000 PLKB dan 8.513 Kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) terus melakukan sosialisasi untuk tidak putus pakai KB. (rpp/vga)

SIDOARJO – Pandemi Covid-19 sejak Februari 2020 telah berdampak pada program keluarga berencana (KB) di Jawa Timur. Angka drop out (DO) peserta KB selama enam bulan terakhir mengalami kenaikan. SR BKKBN mencatat Juli terdapat DO KB sebesar 10,46 persen. Dan angka itu naik 9,33 persen dari Februari yang sebesar 1,13 persen.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, penyuluh KB (PLKB) ini multi tugas. Seorang penyuluh KB, bagi Khofifah adalah sosok luar biasa. Sebab mereka adalah orang yang memiliki kemampuan konseling luar biasa. Selain mengajak akseptor untuk tetap menjalani KB selama pandemi, tim PLKB diminta untuk mensosialisasikan pentingnya protokol kesehatan. “Mencegah klaster keluarga sebagaimana yang diinstruksikan presiden,” katanya saat bertemu tim PLKB Jatim di Sidoarjo Rabu (30/9).

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Sukaryo Teguh Santoso mengatakan, kenaikan DO KB ini berdampak pada peningkatan persentase pasangan usia subur (PUS) hamil.

Untuk itu, pihaknya selalu menyerukan kepada masyarakat untuk menunda kehamilan selama pandemi saat ini. Sebab, semester tiga pertama di masa kehamilan banyak keluhan dan imunitas ibu akan menurun. “Ini sangat berpotensi terjadinya penularan Covid-19,” jelasnya.

Apalagi, saat ini, di Jawa Timur juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk menurunkan angka stunting. “Bila angka kehamilan selama masa pandemi ini terus meningkat maka baby boom sangat berpontensi untuk terjadi,” imbuhnya.

Teguh menyebutkan sebanyak 2.000 PLKB dan 8.513 Kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) terus melakukan sosialisasi untuk tidak putus pakai KB. (rpp/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/