alexametrics
29 C
Sidoarjo
Friday, 20 May 2022

Green Icon Indonesia Ajak Komunitas Berinovasi dalam Penanganan Sampah

Aktivis Peduli Lingkungan, Green Icon Indonesia

Penanganan sampah tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Peran serta masyarakat juga sama pentingnya. Salah satu aktivis peduli lingkungan Sidoarjo Green Icon Indonesia (GII) mengajak masyarakat untuk berinovasi dalam penanganan sampah.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Beberapa waktu lalu, dalam kegiatan pelatihan manajemen budidaya maggit, Ketua GII Ahmad Masad meminta penggerak dan pecinta lingkungan untuk turut andil. “Ada inovasi apa nih yang bisa kita terapkan untuk menangani sampah,” katanya.

Menurut dia, dalam penanganan sampah di Sidoarjo perlu adanya inovasi. Beberapa kelompok pecinta lingkungan dilibatkan. Mulai dari kalangan karang taruna, pondok pesantren, Ansor serta Bansernya, pegiat lingkungan tingkat RT maupun rumahan, pengelola TPST, termasuk dari UPT Pasar, dan lainnya. Semua diajak berembuk.

“Masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama kami ajak dalam penguraian sampah, jika bisa mendatangkan nilai ekonomis, itu bonusnya,” ujarnya.

Salah satunya, Gll menawarkan pelatihan manajemen budidaya maggot. Hal tersebut termasuk upaya dalam pengurangan soal sampah. Juga bisa mendatangkan nilai ekonomis. Memang budidaya maggot terdapat di berbagai tempat, tapi belum menyeluruh.

Timsos Staf Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo Marjati mengapresiasi langkah para pemuda atau masyarakat dalam ikut menangani sampah di Sidoarjo.

Termasuk para pembudidaya maggot, baik personal atapun komunitas, dirinya mendukung secara penuh. “Dengan semakin banyak pembudidaya maggot di Sidoarjo, secara langsung membantu pengurangan sampah organik ke TPST dan TPA di Sidoarjo,” terangnya.

Ditambah lagi, budidaya maggot bukan hanya bisa menjual maggotnya saja. Namun bisa untuk usaha turunan, bisa bersama ternak ayam atau budidaya ikan yang hanya cukup diberi makan maggot.

Sementara itu, Kabid Pasar Rakyat Disperindag Sidoarjo Hoedy Prasetya mendukung ada pengolahan sampah oleh GII bersama kelompok peduli lingkungan yang dikerjasamakan dengan UPT-UPT Pasar di Sidoarjo.

Untuk pasar-pasar besar tentunya nantinya akan jadi prioritas. Karena volume sampah organik yang dihasilkan sangat besar. Seperti Pasar Porong, Pasar Larangan Candi, Pasar Krian, Pasar Taman dan lainnya.

Jika kerjasama sudah dilakukan, setiap pasar yang sudah memiliki mesin pencacah, juga akan dilakukan pemilihan. Dari pasar-pasar besar yang ada, setiap harinya bisa menghasilkan sampah organik, 50 hingga 75 ton.

“Harapan kami memang ada kerjasama dalam pengurangan volume sampah,” paparnya. (*/vga)

Aktivis Peduli Lingkungan, Green Icon Indonesia

Penanganan sampah tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Peran serta masyarakat juga sama pentingnya. Salah satu aktivis peduli lingkungan Sidoarjo Green Icon Indonesia (GII) mengajak masyarakat untuk berinovasi dalam penanganan sampah.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Beberapa waktu lalu, dalam kegiatan pelatihan manajemen budidaya maggit, Ketua GII Ahmad Masad meminta penggerak dan pecinta lingkungan untuk turut andil. “Ada inovasi apa nih yang bisa kita terapkan untuk menangani sampah,” katanya.

Menurut dia, dalam penanganan sampah di Sidoarjo perlu adanya inovasi. Beberapa kelompok pecinta lingkungan dilibatkan. Mulai dari kalangan karang taruna, pondok pesantren, Ansor serta Bansernya, pegiat lingkungan tingkat RT maupun rumahan, pengelola TPST, termasuk dari UPT Pasar, dan lainnya. Semua diajak berembuk.

“Masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama kami ajak dalam penguraian sampah, jika bisa mendatangkan nilai ekonomis, itu bonusnya,” ujarnya.

Salah satunya, Gll menawarkan pelatihan manajemen budidaya maggot. Hal tersebut termasuk upaya dalam pengurangan soal sampah. Juga bisa mendatangkan nilai ekonomis. Memang budidaya maggot terdapat di berbagai tempat, tapi belum menyeluruh.

Timsos Staf Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo Marjati mengapresiasi langkah para pemuda atau masyarakat dalam ikut menangani sampah di Sidoarjo.

Termasuk para pembudidaya maggot, baik personal atapun komunitas, dirinya mendukung secara penuh. “Dengan semakin banyak pembudidaya maggot di Sidoarjo, secara langsung membantu pengurangan sampah organik ke TPST dan TPA di Sidoarjo,” terangnya.

Ditambah lagi, budidaya maggot bukan hanya bisa menjual maggotnya saja. Namun bisa untuk usaha turunan, bisa bersama ternak ayam atau budidaya ikan yang hanya cukup diberi makan maggot.

Sementara itu, Kabid Pasar Rakyat Disperindag Sidoarjo Hoedy Prasetya mendukung ada pengolahan sampah oleh GII bersama kelompok peduli lingkungan yang dikerjasamakan dengan UPT-UPT Pasar di Sidoarjo.

Untuk pasar-pasar besar tentunya nantinya akan jadi prioritas. Karena volume sampah organik yang dihasilkan sangat besar. Seperti Pasar Porong, Pasar Larangan Candi, Pasar Krian, Pasar Taman dan lainnya.

Jika kerjasama sudah dilakukan, setiap pasar yang sudah memiliki mesin pencacah, juga akan dilakukan pemilihan. Dari pasar-pasar besar yang ada, setiap harinya bisa menghasilkan sampah organik, 50 hingga 75 ton.

“Harapan kami memang ada kerjasama dalam pengurangan volume sampah,” paparnya. (*/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/