alexametrics
25 C
Sidoarjo
Saturday, 28 May 2022

Bikin Satu Kuntum Bunga, Butuh 50 Kali Proses

Kreatifitas Lydia Waskita di Bidang Aksesoris

Lekat dengan kerajinan, Lydia Waskita yang dulunya seorang perangkai bunga, melirik profesi lain sebagai perajin aksesoris. Teknik yang dia punya dari merangkai bunga, dia aplikasikan pada aksesoris yang dibuatnya.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Proses rumit dan panjang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah aksesoris berbahan dasar tembaga. Misalkan saja kalung yang tersusun dari model daun dan bunga mawar. Satu kelopak bunga, perlu 10 kali tahapan proses. “Satu bunga, lima kelopak, ya 50 kali proses” jelas desainer perhiasan Lydia Waskita saat dijumpai di kediamannya di Waru. 

Dalam satu kalung saja, bisa terdiri dari lima kuntum bunga. Ditambah dengan motif lain seperti daun dan sentuhan mutiara. Dari cerita Lydia bisa diketahui bahwa membuat satu produk aksesoris, tidaklah mudah. Belum lagi desain yang diinginkan pelanggan berbeda-beda. “Pelanggan suka yang unik dan tidak sama dengan yang pernah dipakai orang lain,” terangnya.

Di tahun 2011 tepatnya, Lydia mulai bergelut dengan kerajinan aksesoris ini. Tidak ada bekal khusus di dunia aksesoris yang dimilikinya. Modalnya saat itu adalah merangkai bunga. Profesi awalnya itu dia aplikasikan dalam merangkai aksesoris.

Seluruh proses membuat aksesoris, baik itu kalung, gelang atau anting, dia lakoni sendiri. “Karena dasarnya suka seni, saya happy. Belajar sendiri, kadang tanya teman,” kisahnya.

Setiap tahun Lydia selalu berusaha mengeluarkan desain-desain baru. Dan tren tahun ini bentuk abstrak masih disukai penyuka aksesoris.

Fitting dengan pelanggan kata Lydia, jadi proses yang penting. Khususnya untuk aksesoris kalung. Tidak semua perempuan cocok memakai model kalung yang sama. “Menyesuaikan bentuk badan dan model baju. Saya harus lihat dan ukur model yang pas,” jelasnya.

Hingga kini, sudah banyak pelanggan Lydia berdatangan dari luar kota. Bahkan rela berangkat dari Jakarta ke Sidoarjo hanya untuk membeli aksesoris yang dibuat perempuan kelahiran Surabaya itu. (*/nis)

Kreatifitas Lydia Waskita di Bidang Aksesoris

Lekat dengan kerajinan, Lydia Waskita yang dulunya seorang perangkai bunga, melirik profesi lain sebagai perajin aksesoris. Teknik yang dia punya dari merangkai bunga, dia aplikasikan pada aksesoris yang dibuatnya.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Proses rumit dan panjang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah aksesoris berbahan dasar tembaga. Misalkan saja kalung yang tersusun dari model daun dan bunga mawar. Satu kelopak bunga, perlu 10 kali tahapan proses. “Satu bunga, lima kelopak, ya 50 kali proses” jelas desainer perhiasan Lydia Waskita saat dijumpai di kediamannya di Waru. 

Dalam satu kalung saja, bisa terdiri dari lima kuntum bunga. Ditambah dengan motif lain seperti daun dan sentuhan mutiara. Dari cerita Lydia bisa diketahui bahwa membuat satu produk aksesoris, tidaklah mudah. Belum lagi desain yang diinginkan pelanggan berbeda-beda. “Pelanggan suka yang unik dan tidak sama dengan yang pernah dipakai orang lain,” terangnya.

Di tahun 2011 tepatnya, Lydia mulai bergelut dengan kerajinan aksesoris ini. Tidak ada bekal khusus di dunia aksesoris yang dimilikinya. Modalnya saat itu adalah merangkai bunga. Profesi awalnya itu dia aplikasikan dalam merangkai aksesoris.

Seluruh proses membuat aksesoris, baik itu kalung, gelang atau anting, dia lakoni sendiri. “Karena dasarnya suka seni, saya happy. Belajar sendiri, kadang tanya teman,” kisahnya.

Setiap tahun Lydia selalu berusaha mengeluarkan desain-desain baru. Dan tren tahun ini bentuk abstrak masih disukai penyuka aksesoris.

Fitting dengan pelanggan kata Lydia, jadi proses yang penting. Khususnya untuk aksesoris kalung. Tidak semua perempuan cocok memakai model kalung yang sama. “Menyesuaikan bentuk badan dan model baju. Saya harus lihat dan ukur model yang pas,” jelasnya.

Hingga kini, sudah banyak pelanggan Lydia berdatangan dari luar kota. Bahkan rela berangkat dari Jakarta ke Sidoarjo hanya untuk membeli aksesoris yang dibuat perempuan kelahiran Surabaya itu. (*/nis)

Most Read

Berita Terbaru


/