alexametrics
29 C
Sidoarjo
Sunday, 29 May 2022

Museum Kreweng Krian, Jadi Alternatif Wisata Edukasi

SIDOARJO – Tak perlu ritual khusus, pengelola Museum Kreweng Agus Mulyono bersama warga setempat, hanya bermodal kuas dan air untuk merawat ratusan koleksi museum di Desa Terung Wetan, Krian, itu. Berbagai benda kuno yang diduga peninggalan Kadipaten Terung tersebut, kini dapat dinikmati warga sebagai salah satu alternatif wisata edukasi.

Agus Mulyono alis Mbah Mulo memang gemar sejarah sejak duduk di bangku sekolah. Tak heran jika ia sangat tergerak untuk memajukan Museum Kreweng yang ada di kampungnya itu. Pemilihan nama Museum Kreweng juga bukan tanpa alasan.

Mbah Mulo menceritakan, kreweng atau biasa disebut pecahan atau fragmen dapat dimaknai sebuah cerita yang belum utuh. Artinya, benda-benda kuno ini memang masih dalam bentuk pecahan secara fisik. Tetapi secara pemahaman sejarah juga masih dalam bentuk cerita yang masih belum utuh. “Kami kumpulkan untuk membentuk cerita sejarah yang sempurna,” ucapnya.

Disamping mengumpulkan sejarah, Mbah Mulo bersama sejumlah rekannya juga rajin merawat benda kuno yang ada di museum itu. Caranya juga mudah. Hanya dibersihkan dengan air biasa dan kuas.

Selain ratusan benda-benda kuno, di lokasi lahan milik Mbah Sahuri itu juga sempat ditemukan struktur bangungan bata kuno di kedalaman 2 meter. Saat ini upaya penggalian juga masih dilakukan. Para pegiat sejarah dan arkeolog masih berusaha mengungkap fakta sejarah struktur bangunan bata kuno itu.

Biasanya setahun sekali warga desa akan mengadakan kegiatan bersih-bersih di situs tersebut. Hal itu juga dalam rangka merawat temuan situs sejarah di Desa Terung Wetan. (son/nis/opi/habis)

SIDOARJO – Tak perlu ritual khusus, pengelola Museum Kreweng Agus Mulyono bersama warga setempat, hanya bermodal kuas dan air untuk merawat ratusan koleksi museum di Desa Terung Wetan, Krian, itu. Berbagai benda kuno yang diduga peninggalan Kadipaten Terung tersebut, kini dapat dinikmati warga sebagai salah satu alternatif wisata edukasi.

Agus Mulyono alis Mbah Mulo memang gemar sejarah sejak duduk di bangku sekolah. Tak heran jika ia sangat tergerak untuk memajukan Museum Kreweng yang ada di kampungnya itu. Pemilihan nama Museum Kreweng juga bukan tanpa alasan.

Mbah Mulo menceritakan, kreweng atau biasa disebut pecahan atau fragmen dapat dimaknai sebuah cerita yang belum utuh. Artinya, benda-benda kuno ini memang masih dalam bentuk pecahan secara fisik. Tetapi secara pemahaman sejarah juga masih dalam bentuk cerita yang masih belum utuh. “Kami kumpulkan untuk membentuk cerita sejarah yang sempurna,” ucapnya.

Disamping mengumpulkan sejarah, Mbah Mulo bersama sejumlah rekannya juga rajin merawat benda kuno yang ada di museum itu. Caranya juga mudah. Hanya dibersihkan dengan air biasa dan kuas.

Selain ratusan benda-benda kuno, di lokasi lahan milik Mbah Sahuri itu juga sempat ditemukan struktur bangungan bata kuno di kedalaman 2 meter. Saat ini upaya penggalian juga masih dilakukan. Para pegiat sejarah dan arkeolog masih berusaha mengungkap fakta sejarah struktur bangunan bata kuno itu.

Biasanya setahun sekali warga desa akan mengadakan kegiatan bersih-bersih di situs tersebut. Hal itu juga dalam rangka merawat temuan situs sejarah di Desa Terung Wetan. (son/nis/opi/habis)

Most Read

Berita Terbaru


/