alexametrics
31 C
Sidoarjo
Sunday, 26 June 2022

Lestarikan Tembang Macapat, Ajak Generasi Muda 

Kesenian Tradisonal Jawa

Hampir semua kesenian masih bisa dijumpai di Sidoarjo. Baik kesenian yang masih santer terdengar hingga kesenian yang sudah mulai jarang didengar. Misalnya saja tembang macapat.

LUKMAN AL FARISI, Wartawan Radar Sidoarjo 

Belasan alat musik tradisional tampak menghiasi pendapa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo. Mulai dari gong, kenong, gambang, kendang hingga sarom. Tak lama beberapa pria sepuh memainkannya.

Bunyi yang keluar dari masing-masing alat musik tradisional tersebut terdengar sangat merdu. Pelan namun pasti, tangan para pemain alat musik tersebut tampak lincah saat memainkan alat musik itu secara beraturan.

Tak hanya itu, beberapa anak muda terlihat menyimaknya dengan seksama. “Karena ada perbedaan konsep antara generasi tua dan muda, maka kami perkenalkan dahulu secara pelan-pelan,” ujar Prehantoro seniman senior macapat.

Saat alat musik itu dimainkan, tambang berbahasa Jawa mulai dilantunkan secara merdu. Perpaduan keduanya terasa seperti berada di sebuah keraton atau kerajaan dahulu kala. Sebuah kesenian yang sarat dengan nilai luhur dan pendidikan.

Macapat merupakan tembang alias puisi tradisional Jawa. Setiap baitnya memiliki kalimat yang dikenal dengan istilah gatra. Setiap gatra punya beberapa suku kata tertentu yang diakhiri dengan bunyi sajak akhir atau guru lagu.

“Saya suka mecapat karena memiliki banyak tantangan. Ini adalah panggilan jiwa saya sendiri, karena saya juga pecinta seni jadi ini saya sangat senang sekali,” ujar Fathia Mawar Dani, seorang seniman muda macapat. (*/vga)

Kesenian Tradisonal Jawa

Hampir semua kesenian masih bisa dijumpai di Sidoarjo. Baik kesenian yang masih santer terdengar hingga kesenian yang sudah mulai jarang didengar. Misalnya saja tembang macapat.

LUKMAN AL FARISI, Wartawan Radar Sidoarjo 

Belasan alat musik tradisional tampak menghiasi pendapa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo. Mulai dari gong, kenong, gambang, kendang hingga sarom. Tak lama beberapa pria sepuh memainkannya.

Bunyi yang keluar dari masing-masing alat musik tradisional tersebut terdengar sangat merdu. Pelan namun pasti, tangan para pemain alat musik tersebut tampak lincah saat memainkan alat musik itu secara beraturan.

Tak hanya itu, beberapa anak muda terlihat menyimaknya dengan seksama. “Karena ada perbedaan konsep antara generasi tua dan muda, maka kami perkenalkan dahulu secara pelan-pelan,” ujar Prehantoro seniman senior macapat.

Saat alat musik itu dimainkan, tambang berbahasa Jawa mulai dilantunkan secara merdu. Perpaduan keduanya terasa seperti berada di sebuah keraton atau kerajaan dahulu kala. Sebuah kesenian yang sarat dengan nilai luhur dan pendidikan.

Macapat merupakan tembang alias puisi tradisional Jawa. Setiap baitnya memiliki kalimat yang dikenal dengan istilah gatra. Setiap gatra punya beberapa suku kata tertentu yang diakhiri dengan bunyi sajak akhir atau guru lagu.

“Saya suka mecapat karena memiliki banyak tantangan. Ini adalah panggilan jiwa saya sendiri, karena saya juga pecinta seni jadi ini saya sangat senang sekali,” ujar Fathia Mawar Dani, seorang seniman muda macapat. (*/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/