alexametrics
31 C
Sidoarjo
Friday, 27 May 2022

10 Tahun Blusukan Mengungkap Peradaban Yang Terpendam

Mbah Moelo, Sosok Pelestari Cagar Budaya (1)

Mengunkap sejarah masa lalu memang tak mudah. Sebab, butuh kesabaran dan ketelatenan dalam mencari sisa peninggalannya. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Agus Mulyono. Meski seorang diri, dia kerap blusukan mencari jejak peradaban kerajaan masa lalu.

LUKMAN AL FARISI/Wartawan Radar Sidoarjo

Kecintaan pria yang biasa disapa Mbah Moelo itu, terhadap jejak peningalan masa lalu, perlu diacungi jempol. Terutama dalam menggali dan mengungkap jejak peradaban Kerajaan Kahuripan. Satu per satu bongkahan mulai dia kumpulkan hingga menjadi museum.

“Selama ini yang banyak dikenal adalah peradaban Majapahit. Kasihan dengan Airlangga yang jejaknya mungkin masih bisa ditemui,” katanya.

Pria kelahiran Candi itu mengaku kerap blusukan ke beberapa wilayah. Mulai Krian, Balongbendo hingga Tarik. Sejak 2011 silam, langkah kakinya mulai mencari sisa-sisa peradaban, seperti bongkahan bangunan kuno.

Sejumlah serpihan atau fragmen bangunan seperti batu bata, mulai dikumpulkan. Hasilnya cukup membanggakan. Satu museum tegak berdiri di RT 05/RW 02 Desa Terung Wetan. Museum tersebut Mbah Moelo namai dengan Museum Kreweng.

“Itu wujud kepedulian pelestarian cagar budaya, dan pengelolaannya secara mendiri dan pengunjung yang datang kami gratiskan,” ujarnya.

Bagi Mbah Moelo, blusukan yang dia lakukan tak lain hanya untuk mengungkap peradaban yang terpendam. Sebab dengan begitu, pelestarian cagar budaya bisa dilakukan. Sayangnya, peraturan daerah terkait cagar budaya di Sidoarjo masih belum ada.

“Andai saja ada, itu akan semakin bagus. Sidoarjo banyak peninggalannya, dan itu perlu diungkap,” jelasnya. (*/opi/bersambung)

 

Mbah Moelo, Sosok Pelestari Cagar Budaya (1)

Mengunkap sejarah masa lalu memang tak mudah. Sebab, butuh kesabaran dan ketelatenan dalam mencari sisa peninggalannya. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Agus Mulyono. Meski seorang diri, dia kerap blusukan mencari jejak peradaban kerajaan masa lalu.

LUKMAN AL FARISI/Wartawan Radar Sidoarjo

Kecintaan pria yang biasa disapa Mbah Moelo itu, terhadap jejak peningalan masa lalu, perlu diacungi jempol. Terutama dalam menggali dan mengungkap jejak peradaban Kerajaan Kahuripan. Satu per satu bongkahan mulai dia kumpulkan hingga menjadi museum.

“Selama ini yang banyak dikenal adalah peradaban Majapahit. Kasihan dengan Airlangga yang jejaknya mungkin masih bisa ditemui,” katanya.

Pria kelahiran Candi itu mengaku kerap blusukan ke beberapa wilayah. Mulai Krian, Balongbendo hingga Tarik. Sejak 2011 silam, langkah kakinya mulai mencari sisa-sisa peradaban, seperti bongkahan bangunan kuno.

Sejumlah serpihan atau fragmen bangunan seperti batu bata, mulai dikumpulkan. Hasilnya cukup membanggakan. Satu museum tegak berdiri di RT 05/RW 02 Desa Terung Wetan. Museum tersebut Mbah Moelo namai dengan Museum Kreweng.

“Itu wujud kepedulian pelestarian cagar budaya, dan pengelolaannya secara mendiri dan pengunjung yang datang kami gratiskan,” ujarnya.

Bagi Mbah Moelo, blusukan yang dia lakukan tak lain hanya untuk mengungkap peradaban yang terpendam. Sebab dengan begitu, pelestarian cagar budaya bisa dilakukan. Sayangnya, peraturan daerah terkait cagar budaya di Sidoarjo masih belum ada.

“Andai saja ada, itu akan semakin bagus. Sidoarjo banyak peninggalannya, dan itu perlu diungkap,” jelasnya. (*/opi/bersambung)

 

Most Read

Berita Terbaru


/