alexametrics
27 C
Sidoarjo
Wednesday, 17 August 2022

Komunitas Latber Owl, Penggemar Burung Hantu, Kenalan dari Media Sosial

Kopi Darat di Alun-Alun Sidoarjo

Burung hantu merupakan kategori burung buas. Karena termasuk pemakan daging atau karnivora. Tetapi, tidak sedikit masyarakat gemar dengan burung langka itu. Salah satunya komunitas Latihan Bersama (Latber) Owl.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Meski jenis burung ganas, tetapi burung hantu cukup menggemaskan. Hal itulah yang membuat anggota komunitas Latber Owl jatuh hati pada burung yang aktif di malam hari itu.

Ketua Komunitas Latber Owl, Tony menceritakan, komunitasnya masih tergolong baru berdiri. Mereka berkumpul dan membentuk komunitas di 2021 lalu.

Mulanya, kondisi pandemi Covid-19 membuat aktivitas mereka tertahan di rumah. Akhirnya para pecinta itu sering mengotak-atik media sosial. Dari aktivitas itulah kemudian mereka saling ketemu sebagai sesama pecinta burung hantu.

Berbekal kenalan dari media sosial, kemudian berupaya untuk kumpul bersama secara tatap muka. Alun-alun Sidoarjo jadi tempat favorit untuk kopdar. “Ada 17 orang anggota kami sekarang,” sebutnya.

Banyak hal yang dilakukan dalam pertemuan itu. Mulai dari tukar pengalaman, hingga berbagi tips dalam merawat burung hantu.

Menurut Tony, burung hantu miliknya berjenis bubo sumatranus. Diperoleh dari membeli ke teman. Ia membeli ketika usia tiga bulan dengan harga Rp 2 juta. “Kalau rawat dari kecil itu lebih bagus,” imbuhnya.

Ada banyak jenis burung hantu yang tersebar di Indonesia. Antara lain, bubo sumatranus, buffy, obay oriental, celepuk, dan dares. Masing-masing jenis punya keunikan tersendiri.

Perawatan burung hantu juga terbilang mudah. Burung itu bisa mandi sendiri, tinggal disediakan wadah berisi air, mereka akan mandi dengan cara mengepakan sayap berkali-kali.

“Kalau beri makan usahakan hewan hidup, agar insting berburunya tetap ada,” tuturnya. (*/vga)

Kopi Darat di Alun-Alun Sidoarjo

Burung hantu merupakan kategori burung buas. Karena termasuk pemakan daging atau karnivora. Tetapi, tidak sedikit masyarakat gemar dengan burung langka itu. Salah satunya komunitas Latihan Bersama (Latber) Owl.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Meski jenis burung ganas, tetapi burung hantu cukup menggemaskan. Hal itulah yang membuat anggota komunitas Latber Owl jatuh hati pada burung yang aktif di malam hari itu.

Ketua Komunitas Latber Owl, Tony menceritakan, komunitasnya masih tergolong baru berdiri. Mereka berkumpul dan membentuk komunitas di 2021 lalu.

Mulanya, kondisi pandemi Covid-19 membuat aktivitas mereka tertahan di rumah. Akhirnya para pecinta itu sering mengotak-atik media sosial. Dari aktivitas itulah kemudian mereka saling ketemu sebagai sesama pecinta burung hantu.

Berbekal kenalan dari media sosial, kemudian berupaya untuk kumpul bersama secara tatap muka. Alun-alun Sidoarjo jadi tempat favorit untuk kopdar. “Ada 17 orang anggota kami sekarang,” sebutnya.

Banyak hal yang dilakukan dalam pertemuan itu. Mulai dari tukar pengalaman, hingga berbagi tips dalam merawat burung hantu.

Menurut Tony, burung hantu miliknya berjenis bubo sumatranus. Diperoleh dari membeli ke teman. Ia membeli ketika usia tiga bulan dengan harga Rp 2 juta. “Kalau rawat dari kecil itu lebih bagus,” imbuhnya.

Ada banyak jenis burung hantu yang tersebar di Indonesia. Antara lain, bubo sumatranus, buffy, obay oriental, celepuk, dan dares. Masing-masing jenis punya keunikan tersendiri.

Perawatan burung hantu juga terbilang mudah. Burung itu bisa mandi sendiri, tinggal disediakan wadah berisi air, mereka akan mandi dengan cara mengepakan sayap berkali-kali.

“Kalau beri makan usahakan hewan hidup, agar insting berburunya tetap ada,” tuturnya. (*/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/