Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Adu Kekuatan di Kesenian Ujung Kecamatan Tarik yang Hampir Punah

V
Penulis: Vega Dwi Arista❯
Processed with VSCO with al3 preset
Processed with VSCO with al3 preset
Hampir Punah, Dilestarikan Lagi oleh Warga Tarik

Kesenian Ujung yang hampir punah dan menjadi warisan leluhur, kini dilestarikan kembali oleh warga Kecamatan Tarik. Seni adu kekuatan dengan saling mencambuk tubuh lawan itu konon merupakan tradisi peninggalan leluhur sejak zaman Kerajaan Majapahit.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Kecamatan Tarik memiliki banyak sejarah dan kesenian yang terkenal. Bahkan menurut legenda, dahulu kala merupakan salah satu benteng Majapahit.

Untuk itu, upaya melestarikan budaya dan kesenian terus dilakukan. Salah satunya atraksi kesenian Ujung yang biasanya dilangsungkan dalam rangka acara sedekah bumi.

Dalam penampilannya, sebuah panggung disiapkan di pendopo desa sebagai arena seni adu cambuk. Alunan musik tradisional yang dimainkan oleh warga sekitar mengiringi pertandingan.

Dua pemain diwajibkan bertelanjang dada dan secara bergiliran adu cambuk dengan menggunakan sebilah rotan. Yakni dengan aba-aba dari wasit yang berkostum loreng merah kemeja hitam.

Dalam atraksi adu cambuk, mereka melakukan tarian mengikuti irama gamelan. Tak jarang dari mereka yang mengalami luka-luka di punggungnya akibat terkena sebetan cambuk rotan tersebut.

Meski begitu, peserta seolah tak merasakan sakit dari luka akibat sabetan rotan panjang 1 meter dari lawan mereka. Rupanya pemain menggunakan pisang hijau sebagai penangkal untuk menghilangkan rasa sakit dan menghentikan pendarahan.

Setelah memukul peserta, mereka pun berjoget mengikuti iringan musik gamelan Gending Jathen.

Menurut Ketua Persatuan Kesenian Ujung Abu Hasan, kesenian tersebut merupakan kesenian milik warga Jawa Timur. Awalnya, kesenian itu adalah Kanuragan. Artinya digunakan untuk mengasah kemampuan diri. ''Kemudian dikembangkan menjadi kesenian Ujung,'' katanya.

Dia menjelaskan, dalam era modernisasi, kesenian Ujung dikembangkan lagi dengan tarian. Sekarang dikenal sebagai seni tari tradisional Ujung.

Sementara itu, Kepala Desa Tarik Ifanul Ahmad mengatakan bahwa kesenian Ujung ini adalah tradisi warga Tarik. Digelar dalam rangka sedekah bumi ini. Kesenian tersebut digelar kembali untuk melestarikan kebudayaan warisan leluhur yang hampir punah tergerus zaman.

"Kesenian Ujung ini adalah uri-uri budaya leluhur," ujar Ifanul.

Ifanul mengatakan, kesenian Ujung dulunya digunakan untuk mengetes ilmu kekebalan tubuh, dengan menggunakan mantra-mantra khusus. Ilmu tersebut digunakan oleh warga untuk perang melawan penjajah di masa lalu. (*/vga) 

Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Polisi Musnahkan Perlengkapan Diduga Arena Sabung Ayam di Tarik Sidoarjo

Polisi Musnahkan Perlengkapan Diduga Arena Sabung Ayam di Tarik Sidoarjo

Polsek Tarik, Polresta Sidoarjo, menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan aktivitas sabung ayam di Dusun Bokong Tengah, Desa Klantingsari, Kecamatan Tarik.

Pikap Box Selip, Tabrak Pagar Rumah hingga Timpa Xpander di Tarik Sidoarjo

Pikap Box Selip, Tabrak Pagar Rumah hingga Timpa Xpander di Tarik Sidoarjo

Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Raya Surabaya-Mojokerto, Desa Kramattemenggung, Kecamatan Tarik, Sidoarjo, Sabtu (26/9). 

Pemotor Tercebur ke Sungai Brantas di Sidoarjo, Polisi Masih Cari Korban

Pemotor Tercebur ke Sungai Brantas di Sidoarjo, Polisi Masih Cari Korban

Kecelakaan terjadi di Jalan Mliriprowo, Kecamatan Tarik, Sidoarjo, tepatnya di utara Rolak Songo, Senin (17/8) sekitar pukul 05.00 WIB.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer