Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Makam Aulia Pesantren Sono, Jadi Ikon Wisata Religi Sidoarjo

V
Penulis: Vega Dwi Arista❯
ZIARAH: Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Farid Makruf (kiri) saat menabur bunga bersama Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor. (HENDRIK MUCHLISON/RADAR SIDOARJO)
ZIARAH: Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Farid Makruf (kiri) saat menabur bunga bersama Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor. (HENDRIK MUCHLISON/RADAR SIDOARJO)
Revitasliasai Rampung, Jadi Ikon Wisata Religi Baru

Makam Aulia Pesantren Sono di Kecamatan Buduran bakal segera menjadi ikon baru wisata religi di Sidoarjo. Revitalisasi makam di kawasan Asrama Guspusjat Optroni II Puspalad itu segera rampung dan siap dikunjungi masyarakat.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Kawasan makam itu disulap lebih megah oleh Pemkab Sidoarjo. Gerbang masuk makam dibangun gapura megah dengan desain klasik mirip kawasan candi. Di tempat itu juga disediakan area parkir yang cukup luas.

Tepat di samping makam, Pemkab juga telah tuntas membangun pendapa. Cukup megah dan luas. Makam Sono yang berada di lahan seluas 3.956 meter persegi itu bakal menjadi kawasan wisata religi paling luas dan megah di Sidoarjo.

Proyek revitalisasi makam itu hampir tuntas. Pekerja tinggal merapikan paving di beberapa titik. Jumat (6/1), Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Farid Makruf juga datang berziarah ke makam tersebut. Ia juga ditemani langsung Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor.

Pria kelahiran Madura itu mengungkapkan, dalam sejarah Indonesia sinergitas antara ulama dengan militer cukup erat. Hal itu juga patut untuk diteruskan. “Revitalisasi makam ini juga sebagai bentuk menghargai sejarah perjuangan masa lalu. Peran erat antara ulama dan TNI,” jelasnya.

Sebagai pria yang baru menjabat Pangdam V /Brawijaya, pihaknya juga tidak lupa memohon dukungan dan doa restu para tokoh masyarakat. Salah satunya para ulama di Sidoarjo. “Ulama dan TNI adalah benteng perjuangan. Tidak bisa diadu domba,” tegasnya.

Di Makam Sono itu terdapat lima makam utama yang dihormati. Yakni pendiri Pondok Pesantren Sono, Buduran KH Muhayyin, Hj Asfiyah  yang merupakan istri KH Muhayyin.  KH. Abu Mansur dan KH Zarkasyi  yang merupakan putra KH Muhayyin. Lalu cucunya KH Said dan cicitnya KH Maksum.

Karena ketokohannya, sejumlah ulama besar juga sempat menimba ilmu di Pesantren Sono Buduran. Seperti KH Hasyim Ashari Jombang pendiri Nahdlatul Ulama dan KH Abdul Karim Lirboyo Kediri. (*/vga)

Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Perkuat Toleransi, Polsek Krian Gelar Aksi Bersih Bersih Rumah Ibadah di Sidoarjo

Perkuat Toleransi, Polsek Krian Gelar Aksi Bersih Bersih Rumah Ibadah di Sidoarjo

Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada 1 Juli 2026, Polsek Krian Polresta Sidoarjo menggelar kegiatan bakti religi dan bakti sosial di dua rumah ibadah.

Wabup Sidoarjo Mimik Idayana Ajak Teladani Perjuangan Mbah Kyai Kalam di Porong

Wabup Sidoarjo Mimik Idayana Ajak Teladani Perjuangan Mbah Kyai Kalam di Porong

Ribuan warga Kelurahan Juwetkenongo, Kecamatan Porong, memperingati Haul ke-69 Almarhum Mbah Kyai Kalam dan para sesepuh Kelurahan Juwetkenongo, Sabtu malam (18/7).

DPRD Sidoarjo Dorong Pembebasan Lahan Makam Waru Terdampak Frontage Road Dituntaskan

DPRD Sidoarjo Dorong Pembebasan Lahan Makam Waru Terdampak Frontage Road Dituntaskan

DPRD Sidoarjo mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo segera menuntaskan persoalan pembebasan lahan, khususnya area makam di Kecamatan Waru, agar proyek Frontage Road (FR) Waru-Sidoarjo bisa segera tersambung

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer