alexametrics
31 C
Sidoarjo
Sunday, 26 June 2022

Pras Imansyah Jadikan Trek House Wadah Kolaborasi Musisi

Bantu Penggarapan Lagu Taman Nada hingga Silampukau

Industri musik turut terdampak pandemi. Tak ada konser, produktivitas pun relatif menurun. Setelah dua tahun dihajar Covid-19, Indonesia berhasil masuk ke masa transisi. Situasi kembali pulih. Termasuk industri musik lokal.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Studio Rekaman Trek House di Kelurahan Wage, Sidoarjo kini jadi wadah bagi para musisi untuk mengejar ketertinggalan selama dua tahun terakhir.

Pemilik Trek House Pras Imansyah membuka pintu studio yang terletak di Grand Royal Regency Official Wage, Sabtu (21/5). Vokalis Taman Nada Atthur Razaki yang datang dari Surabaya dipersilahkan masuk. “Mau minum apa? Monggo ambil sendiri,” kata Pras.

Keduanya sudah kenal lama. Pras juga musisi. Dia drummer dari berbagai macam band. Salah satunya band bergenre, ska, rocksteady dan reggae: Ska Banton.

Beberapa hari ini Pras masih sibuk dengan penggarapan audio akun YouTube lagu anak-anak terbesar di Indonesia. Yakni Lagu Anak Indonesia Balita. Atau lebih dikenal dengan sebutan Baba, Lili, dan Tata. Yang subscribernya sudah mencapai 8,72 juta. Sedangkan total penonton menembus 4,14 miliar.

Salah satu project utama Trek House adalah video Balita tersebut. Nah, di sela waktunya dia meluangkan untuk para musisi yang personelnya tersebar di Surabaya dan Sidoarjo.

“Yang ke sini, Taman Nada, Humi Dumi, Seeds, Jam or Jets sampai Silampukau,” kata Pras kemarin (23/5).

Personel Taman Nada yang datang Sore itu meminta bantuan Pras untuk merampungkan proses rekaman album yang tertunda sejak 2016. Mereka bertemu di studio lantai dua. Peralatan musik lengkap berjejer di dekat pintu masuk. Ampli, speaker, headphones, microphones tertata rapi di sudut ruangan yang bernuansa gelap itu.

Satu persatu lagu dibedah. Proses mixing dan mastering dilakukan agar lagu yang diluncurkan nantinya bisa diterima pendengar. Prosesnya tidak bisa satu atau dua hari. “Rencana launching Juli. Ini sedang cocokan jadwal sama pras. Mudah-mudahan rilisnya jadi tahun ini,” kata Atthur, warga Sepanjang yang kini tinggal di Surabaya itu.

Pras dengan senang hati membantu. Sejak awal Trek House dibangun sebagai wadah bagi anak muda untuk berkolaborasi, memadukan berbagai disiplin ilmu dalam berkreasi dengan semangat kekeluargaan. Dengan begitu tercipta sebuah karya yang berkualitas baik secara konsep, audio, maupun visual. (*/vga)

Bantu Penggarapan Lagu Taman Nada hingga Silampukau

Industri musik turut terdampak pandemi. Tak ada konser, produktivitas pun relatif menurun. Setelah dua tahun dihajar Covid-19, Indonesia berhasil masuk ke masa transisi. Situasi kembali pulih. Termasuk industri musik lokal.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Studio Rekaman Trek House di Kelurahan Wage, Sidoarjo kini jadi wadah bagi para musisi untuk mengejar ketertinggalan selama dua tahun terakhir.

Pemilik Trek House Pras Imansyah membuka pintu studio yang terletak di Grand Royal Regency Official Wage, Sabtu (21/5). Vokalis Taman Nada Atthur Razaki yang datang dari Surabaya dipersilahkan masuk. “Mau minum apa? Monggo ambil sendiri,” kata Pras.

Keduanya sudah kenal lama. Pras juga musisi. Dia drummer dari berbagai macam band. Salah satunya band bergenre, ska, rocksteady dan reggae: Ska Banton.

Beberapa hari ini Pras masih sibuk dengan penggarapan audio akun YouTube lagu anak-anak terbesar di Indonesia. Yakni Lagu Anak Indonesia Balita. Atau lebih dikenal dengan sebutan Baba, Lili, dan Tata. Yang subscribernya sudah mencapai 8,72 juta. Sedangkan total penonton menembus 4,14 miliar.

Salah satu project utama Trek House adalah video Balita tersebut. Nah, di sela waktunya dia meluangkan untuk para musisi yang personelnya tersebar di Surabaya dan Sidoarjo.

“Yang ke sini, Taman Nada, Humi Dumi, Seeds, Jam or Jets sampai Silampukau,” kata Pras kemarin (23/5).

Personel Taman Nada yang datang Sore itu meminta bantuan Pras untuk merampungkan proses rekaman album yang tertunda sejak 2016. Mereka bertemu di studio lantai dua. Peralatan musik lengkap berjejer di dekat pintu masuk. Ampli, speaker, headphones, microphones tertata rapi di sudut ruangan yang bernuansa gelap itu.

Satu persatu lagu dibedah. Proses mixing dan mastering dilakukan agar lagu yang diluncurkan nantinya bisa diterima pendengar. Prosesnya tidak bisa satu atau dua hari. “Rencana launching Juli. Ini sedang cocokan jadwal sama pras. Mudah-mudahan rilisnya jadi tahun ini,” kata Atthur, warga Sepanjang yang kini tinggal di Surabaya itu.

Pras dengan senang hati membantu. Sejak awal Trek House dibangun sebagai wadah bagi anak muda untuk berkolaborasi, memadukan berbagai disiplin ilmu dalam berkreasi dengan semangat kekeluargaan. Dengan begitu tercipta sebuah karya yang berkualitas baik secara konsep, audio, maupun visual. (*/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/