Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Bung Tomo Keliling Jawa Naik Sepeda, Pulang Pergi Sidoarjo-Jakarta 20 Hari
V
Penulis: Vega Dwi Arista❯

Hobi gowes Slamet tidak main-main. Bukan hanya sekedar mencari keringat, pria yang akrab disapa Bung Tomo itu bahkan sudah keliling Jawa dengan menggunakan sepeda angin kesayangannya. Terakhir, dia pulang pergi Sidoarjo-Jakarta-Surabaya dalam 20 hari.
Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo
Bung Tomo menceritakan, perjalanan itu ditempuhnya dalam rangka memperingati Hari Pahlawan pada 10 November lalu. Pria 64 tahun tersebut mengayuh sepedanya sejauh 1.800 kilometer. Dia berangkat dari Sidoarjo pada Kamis (20/10). Kemudian kembali tepat pada Kamis (10/11).
Pria yang tinggal di Buduran itu mengaku perjalanan tersebut memang sudah menjadi cita-citanya sejak lama. Mengibarkan bendera Merah-Putih di Monas kemudian kembali ke Tugu Pahlawan pada Hari Pahlawan. ''Syukurlah sudah bisa terwujud,'' katanya.
Diakuinya, dalam perjalanan tersebut dia mengambil rute tengah saat berangkat. Sedangkan pulangnya dia memilih jalur selatan.
Selama perjalanan, Bung Tomo menyebut dirinya hampir mengalami kecelakan selama dua kali. Ketika hampir sampai Jakarta, dia merasa mengantuk. Namun tetap memaksa mengayuh sepedanya. ''Akhirnya oleng ke kiri dan hampir masuk ke selokan,'' ujarnya.
Kemudian saat berada di Kendal, Kaliwungu Semarang, sepedanya ditabrak sepeda motor dari belakang. Hal itu mengakibatkan as roda belakang sepedanya rusak. Saat itu dia kesulitan mencari bengkel. Sehingga harus menuntun sepedanya sejauh beberapa kilometer.
Selama menempuh perjalanan, Bung Tomo memilih beristirahat di balai desa setempat. Atau jika terpaksa, di SPBU atau warung-warung di pingir jalan.
Dirinya tiba kembali di Tugu Pahlawan Surabaya sebelum pukul 10.00 tepat di Hari Pahlawan. Kedatangannya disambut teman-teman onthelis.
Dia mengatakan, bukan kali ini saja dirinya ngontel dengan rute jauh. Beberapa kali dirinya juga ngontel ke luar daerah. Seperti Madura, Semarang serta Banyuwangi.
Menurut dia, dipilihnya Tugu Pahlawan sebagai dermaga terakhir ngontelnya karena tugu di Kota Surabaya itu sangat bersejarah sebagai salah satu simbol perjuangan pahlawan.
Menurutnya, tidak ada persiapan khusus sebelum ngontel jauh. Hanya tidur yang cukup waktu dan nyenyak, badan sudah terasa segar. ''Sejak kecil saya memang senang bersepeda,” pungkasnya. (*/vga)
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement
