alexametrics
32 C
Sidoarjo
Tuesday, 17 May 2022

Kumpulkan Pring Petuk Selama 30 Tahun, Ketagihan untuk Terus Mengoleksi

Dipercaya Istimewa, Ketagihan untuk Terus Mengoleksi

Puluhan ranting bambu tampak dijejer Soemarto di kediamannya. Bukan bambu biasa, itu adalah bambu petuk atau yang biasa disebut pring petuk. Yakni bambu yang dua bukunya saling berhadapan.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Banyak orang percaya bambu itu memiliki keistimewaan. Seperti ada kekuatan magis di dalamnya. Atau tempat bersemayamnya makhluk halus. Namun, Soemarto tidak mengumpulkannya karena alasan tersebut. ”Ya hobi saja, ini kan barang langka,” katanya.

Soemarto mulai mengumpulkannya sejak 30 tahun lalu. Ada yang didapatnya ketika menjaga hutan. Bahkan ada yang usianya sudah ratusan tahun.

Diakuinya, memang banyak mitos yang beredar tentang pring petuk. Bahkan banyak yang bilang bahwa mengoleksi pring petuk butuh keberanian serta wiridan yang tinggi. Tapi hingga saat ini Soemarto belum membuktikan itu semua.

Warga Desa Wonokalang, Kecamatan Krian tersebut menceritakan, bahkan sebagian orang ada yang menyakini pring petuk tersebut seperti sebuah pusaka. ”Ada yang dijual-belikan dengan harga puluhan hingga ratusan juta,” tambahnya.

Tidak jarang juga orang memburu pring petuk karena diyakini memiliki khasiat dan seribu manfaat yang menguntungkan. Seperti mengundang rezeki, pelaris atau apa saja yang menguntungkan bagi pemiliknya.

Sebagian masyarakat ada yang percaya pemiliknya bisa memiliki kharisma yang luar biasa. ”Kalau saya memiliki beraneka macam dan keunikan pring ini hanya untuk koleksi,” jelasnya.

Seluruh koleksi pring petuk miliknya itu digunakan untuk hiburan. Bahkan salah satu koleksi miliknya konon dikatakan dapat mengusir hewan buas seperti macan. Benda tersebut dia dapat pada saat masih muda ketika bekerja menjaga hutan.

Menurut dia, antara percaya atau tidak percaya tergantung orang yang meyakini. Yang jelas itu hanya sebatang ranting pring atau bambu yang tercipta secara alam. ”Apapun itu semua kembali ke masing-masing orang yang memutuskan dan kembali ke sang yang Maha Pencipta, kalau saya hanya koleksi saja,” pungkas Soemarto. (*/vga)

 

Dipercaya Istimewa, Ketagihan untuk Terus Mengoleksi

Puluhan ranting bambu tampak dijejer Soemarto di kediamannya. Bukan bambu biasa, itu adalah bambu petuk atau yang biasa disebut pring petuk. Yakni bambu yang dua bukunya saling berhadapan.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Banyak orang percaya bambu itu memiliki keistimewaan. Seperti ada kekuatan magis di dalamnya. Atau tempat bersemayamnya makhluk halus. Namun, Soemarto tidak mengumpulkannya karena alasan tersebut. ”Ya hobi saja, ini kan barang langka,” katanya.

Soemarto mulai mengumpulkannya sejak 30 tahun lalu. Ada yang didapatnya ketika menjaga hutan. Bahkan ada yang usianya sudah ratusan tahun.

Diakuinya, memang banyak mitos yang beredar tentang pring petuk. Bahkan banyak yang bilang bahwa mengoleksi pring petuk butuh keberanian serta wiridan yang tinggi. Tapi hingga saat ini Soemarto belum membuktikan itu semua.

Warga Desa Wonokalang, Kecamatan Krian tersebut menceritakan, bahkan sebagian orang ada yang menyakini pring petuk tersebut seperti sebuah pusaka. ”Ada yang dijual-belikan dengan harga puluhan hingga ratusan juta,” tambahnya.

Tidak jarang juga orang memburu pring petuk karena diyakini memiliki khasiat dan seribu manfaat yang menguntungkan. Seperti mengundang rezeki, pelaris atau apa saja yang menguntungkan bagi pemiliknya.

Sebagian masyarakat ada yang percaya pemiliknya bisa memiliki kharisma yang luar biasa. ”Kalau saya memiliki beraneka macam dan keunikan pring ini hanya untuk koleksi,” jelasnya.

Seluruh koleksi pring petuk miliknya itu digunakan untuk hiburan. Bahkan salah satu koleksi miliknya konon dikatakan dapat mengusir hewan buas seperti macan. Benda tersebut dia dapat pada saat masih muda ketika bekerja menjaga hutan.

Menurut dia, antara percaya atau tidak percaya tergantung orang yang meyakini. Yang jelas itu hanya sebatang ranting pring atau bambu yang tercipta secara alam. ”Apapun itu semua kembali ke masing-masing orang yang memutuskan dan kembali ke sang yang Maha Pencipta, kalau saya hanya koleksi saja,” pungkas Soemarto. (*/vga)

 

Most Read

Berita Terbaru


/