alexametrics
26.7 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Pencipta Tari Banjarkemuning, Ingin Tarian Jadi Muatan Lokal di Sekolah 

Pencipta Tari Banjarkemuning, Agustinus Heri Sugianto

Agustinus merupakan seniman sejati. Sejak kecil kesenian menjadi bagian dari hidupnya. Ia tetap berkarya hingga memasuki usia senja. Jika dihitung, pria kelahiran 26 April 1963 itu telah menelurkan berbagai karya. Tarian hingga lagu.

Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo

Salah satu masterpiece yang banyak diketahui adalah Tari Banjarkemuning. Sebuah tarian yang menceritakan kehidupan masyarakat pesisir di Kecamatan Sedati.

Agus menceritakan, tarian tersebut ia ciptakan tahun 1999. Inspirasi itu datang begitu saja padanya. “Lalu diterjemahkan oleh penari. Hingga jadi tarian yang terstruktur tarian Banjarkemuning itu sampai finishingnya,” terangnya.

Gerakan pada Tari Banjarkemuning ini menggunakan tempo yang cepat serta dinamis dengan selendang yang berkali-kali dikibaskan. Hal ini yang juga menjadi daya tarik dan seperti ingin mengajak semua pengunjung yang menyaksikan untuk menumbuhkan semangat baru bersama-sama.

Belum lama ini, pada 14 Januari 2022 hasil karya pria asal Madiun itu telah terabadikan dalam Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal Ekspresi Budaya Tradisional Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM.

Dengan kondisi tubuh yang belum sehat benar sejak empat tahun lalu terserang stroke, Agus dengan semangat dan penuh rasa bangga mendapatkan sertifikat itu di Pendapa Delta Wibawa.

Sebuah perjuangan panjang selama empat tahun berbuah hasil. “Alhamdulillah sudah tercatat. Sudah saya ajukan empat tahun lalu,” katanya.

Dengan pencatatan itu, menurut Agustinus, sangat penting bagi Tari Banjarkemuning. “Untuk mendapatkan hak agar tidak diakui daerah lain. Melestarikan budaya bahwa tarian ini adalah milik kita sebagai identitas bangsa,” ungkapnya.

Ia ingin tarian tersebut bisa lebih banyak dipelajari para generasi muda. Terutama di sekolah-sekolah. Harapannya, tari Banjarkemuning masuk dalam kurikulum di sekolah. Jadi muatan lokal.

Selama ini Tari Banjarkemuning telah dipelajari siswa lewat ekstrakurikuler di SMA saja.

“Harapannya mendapat dorongan dari pemkab menjadi pembelajaran seni budaya dan keterampilan tidak hanya SMA. Tapi juga SMP,” pungkasnya. (*/vga)

Pencipta Tari Banjarkemuning, Agustinus Heri Sugianto

Agustinus merupakan seniman sejati. Sejak kecil kesenian menjadi bagian dari hidupnya. Ia tetap berkarya hingga memasuki usia senja. Jika dihitung, pria kelahiran 26 April 1963 itu telah menelurkan berbagai karya. Tarian hingga lagu.

Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo

Salah satu masterpiece yang banyak diketahui adalah Tari Banjarkemuning. Sebuah tarian yang menceritakan kehidupan masyarakat pesisir di Kecamatan Sedati.

Agus menceritakan, tarian tersebut ia ciptakan tahun 1999. Inspirasi itu datang begitu saja padanya. “Lalu diterjemahkan oleh penari. Hingga jadi tarian yang terstruktur tarian Banjarkemuning itu sampai finishingnya,” terangnya.

Gerakan pada Tari Banjarkemuning ini menggunakan tempo yang cepat serta dinamis dengan selendang yang berkali-kali dikibaskan. Hal ini yang juga menjadi daya tarik dan seperti ingin mengajak semua pengunjung yang menyaksikan untuk menumbuhkan semangat baru bersama-sama.

Belum lama ini, pada 14 Januari 2022 hasil karya pria asal Madiun itu telah terabadikan dalam Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal Ekspresi Budaya Tradisional Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM.

Dengan kondisi tubuh yang belum sehat benar sejak empat tahun lalu terserang stroke, Agus dengan semangat dan penuh rasa bangga mendapatkan sertifikat itu di Pendapa Delta Wibawa.

Sebuah perjuangan panjang selama empat tahun berbuah hasil. “Alhamdulillah sudah tercatat. Sudah saya ajukan empat tahun lalu,” katanya.

Dengan pencatatan itu, menurut Agustinus, sangat penting bagi Tari Banjarkemuning. “Untuk mendapatkan hak agar tidak diakui daerah lain. Melestarikan budaya bahwa tarian ini adalah milik kita sebagai identitas bangsa,” ungkapnya.

Ia ingin tarian tersebut bisa lebih banyak dipelajari para generasi muda. Terutama di sekolah-sekolah. Harapannya, tari Banjarkemuning masuk dalam kurikulum di sekolah. Jadi muatan lokal.

Selama ini Tari Banjarkemuning telah dipelajari siswa lewat ekstrakurikuler di SMA saja.

“Harapannya mendapat dorongan dari pemkab menjadi pembelajaran seni budaya dan keterampilan tidak hanya SMA. Tapi juga SMP,” pungkasnya. (*/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/