alexametrics
26 C
Sidoarjo
Tuesday, 17 May 2022

Juru Bahasa Isyarat Sidoarjo, Hati Terketuk untuk Para Difabel Tuna Rungu

Mufti Lazuardi, Juru Bahasa Isyarat Sidoarjo

Masyarakat penyandang tuna rungu masih bisa menerima informasi berita dengan baik. Hal itu tidak lepas dari peran para Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang ikut menjadi penerjemah saat penyampaian sebuah berita.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Salah satu JBI yang aktif di Sidoarjo adalah Mufti Lazuardi. Pria asli Candi itu sering menjadi JBI saat ada konferensi pers di Mapolresta Sidoarjo. Berkat pria 28 tahun itu, berita ungkap kasus yang dilaksanakan Polresta Sidoarjo dapat dicerna dengan baik bagi masyarakat difabel penyandang tuna rungu.

Dengan baju serba hitam khas JBI, Mufti kerap nampak di samping Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro saat konferensi pers. Ia bukan sebagai anggota reskrim ataupun penyidik yang bakal menjelaskan kasus yang diungkap. Namun, Mufti akan menerjemahkan apa yang disampaikan polisi dalam bahasa isyarat.

Mufti mengungkapkan, ia sudah 6 tahun berkecimpung dalam dunia JBI. “Murni panggilan sosial, ingin membantu rekan-rekan penyandang tuna rungu,” katanya.

6 tahun silam Mufti memantapkan diri untuk mempelajari bahasa isyarat. Caranya dengan bergabung dengan komunitas sesama JBI.

“Belajar dari komunitas,” sambungnya.

Baginya, mempelajari bahasa isyarat juga bukanlah hal mudah. Tetapi dengan tekat dan ketekunan dalam belajar bakal menguasai bahasa yang yang dibantu dengan gerakan tangan itu.

Menurutnya, para difabel tuli masih menjadi masyarakat yang berhak akan akses informasi yang memadai. Tetapi mereka membutuhkan sarana informasi yang tentu tidak sama dengan orang normal.

Sementara itu tidak semua orang normal bisa menyampaikan pesan kepada para difabel tuna rungu. Karena itulah, hati Mufti tergerak untuk menggeluti dunia bahasa isyarat tersebut.

Selain dalam konferensi pers, para JBI bakal membantu polisi dalam proses penyidikan kasus. Utamanya saat memeriksa para pelaku yang memang dalam kondisi tuli.

Selain di kepolisian, JBI juga banyak terlibat di instansi lain. Seperti saat sidang di pengadilan, hingga saat acara debat publik pemilihan kepala daerah hingga pemilihan presiden.

“Kapan hari juga terlibat saat pilkada di Sidoarjo,” pungkasnya. (*/vga)

Mufti Lazuardi, Juru Bahasa Isyarat Sidoarjo

Masyarakat penyandang tuna rungu masih bisa menerima informasi berita dengan baik. Hal itu tidak lepas dari peran para Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang ikut menjadi penerjemah saat penyampaian sebuah berita.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Salah satu JBI yang aktif di Sidoarjo adalah Mufti Lazuardi. Pria asli Candi itu sering menjadi JBI saat ada konferensi pers di Mapolresta Sidoarjo. Berkat pria 28 tahun itu, berita ungkap kasus yang dilaksanakan Polresta Sidoarjo dapat dicerna dengan baik bagi masyarakat difabel penyandang tuna rungu.

Dengan baju serba hitam khas JBI, Mufti kerap nampak di samping Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro saat konferensi pers. Ia bukan sebagai anggota reskrim ataupun penyidik yang bakal menjelaskan kasus yang diungkap. Namun, Mufti akan menerjemahkan apa yang disampaikan polisi dalam bahasa isyarat.

Mufti mengungkapkan, ia sudah 6 tahun berkecimpung dalam dunia JBI. “Murni panggilan sosial, ingin membantu rekan-rekan penyandang tuna rungu,” katanya.

6 tahun silam Mufti memantapkan diri untuk mempelajari bahasa isyarat. Caranya dengan bergabung dengan komunitas sesama JBI.

“Belajar dari komunitas,” sambungnya.

Baginya, mempelajari bahasa isyarat juga bukanlah hal mudah. Tetapi dengan tekat dan ketekunan dalam belajar bakal menguasai bahasa yang yang dibantu dengan gerakan tangan itu.

Menurutnya, para difabel tuli masih menjadi masyarakat yang berhak akan akses informasi yang memadai. Tetapi mereka membutuhkan sarana informasi yang tentu tidak sama dengan orang normal.

Sementara itu tidak semua orang normal bisa menyampaikan pesan kepada para difabel tuna rungu. Karena itulah, hati Mufti tergerak untuk menggeluti dunia bahasa isyarat tersebut.

Selain dalam konferensi pers, para JBI bakal membantu polisi dalam proses penyidikan kasus. Utamanya saat memeriksa para pelaku yang memang dalam kondisi tuli.

Selain di kepolisian, JBI juga banyak terlibat di instansi lain. Seperti saat sidang di pengadilan, hingga saat acara debat publik pemilihan kepala daerah hingga pemilihan presiden.

“Kapan hari juga terlibat saat pilkada di Sidoarjo,” pungkasnya. (*/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/