alexametrics
28 C
Sidoarjo
Tuesday, 21 September 2021

Rawat Kucing Tak Sehat dengan Terapi Akupuntur

Aktivitas Pecinta Kucing Domestik

Kucing di jalanan kerap tak terawat. Hal itu membuat Yana Heksa merasa iba. Pecinta kucing itu lalu merawatnya walaupun harus merogoh kocek uang sendiri.

LUKMAN AL FARISI

Wartawan Radar Sidoarjo

Sore itu, seekor kucing red tabby nampak berjalan tertatih-tatih. Kaki belakang bagian kanannya tak bisa tegak lurus. Saat berjalan, hewan jinak itu seperti menyeret kaki kanannya. Ingin berlari kencang namun tak bisa. Yana hanya bisa mengelusnya lembut.

“Kucing itu saya dapatkan dari titipan orang warung, katanya habis tertabrak mobil, tapi ini bukan patah, hanya sarafnya yang tidak normal,” kata Yana Heksa, Ketua Komunitas Surabaya Sidoarjo Peduli Kucing Domestik (S2PKD).

Di tangan Yana, kucing lokal itu dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Bersama seorang dokter hewan, Drh Dewa Ayu Putu Arie SS, kucing itu rutin diterapi. Salah satunya dengan akupuntur. Hewan berbulu tersebut diterapi dua pekan sekali.

Tekniknya tak kalah dengan akupuntur pada manusia. Selain menggunakan jarum, juga memakai akupuntur laser di bagian-bagian tubuh tertentu. Agar mau diterapi, kucing harus dielus-elus. Setelah jinak, jarum dan laser mulai ditaruh di badan kucing.

“Jadi kucing itu kan kulitnya lebih tipis dari anjing, maka jarumnya juga disesuaikan, ini juga diarahkan pada bagian tubuh kucing agar aliran darahnya lancar,” kata dokter Ayu.

Alumnus Universitas Udayana Bali itu mengatakan, menerapi hewan seperti kucing susah-susah gampang. Baginya, melihat kondisi kucing semakin membaik adalah kebahagiaan yang tak ternilai. Bersama Yana, dia terus berupaya agar hewan yang dirawatnya sembuh.

“Apalagi kucing itu sebenarnya lucu, maka merawatnya harus sabar, setiap terapi, 15 menit sudah selesai,” ujarnya. (*/nis)

 

Aktivitas Pecinta Kucing Domestik

Kucing di jalanan kerap tak terawat. Hal itu membuat Yana Heksa merasa iba. Pecinta kucing itu lalu merawatnya walaupun harus merogoh kocek uang sendiri.

LUKMAN AL FARISI

Wartawan Radar Sidoarjo

Sore itu, seekor kucing red tabby nampak berjalan tertatih-tatih. Kaki belakang bagian kanannya tak bisa tegak lurus. Saat berjalan, hewan jinak itu seperti menyeret kaki kanannya. Ingin berlari kencang namun tak bisa. Yana hanya bisa mengelusnya lembut.

“Kucing itu saya dapatkan dari titipan orang warung, katanya habis tertabrak mobil, tapi ini bukan patah, hanya sarafnya yang tidak normal,” kata Yana Heksa, Ketua Komunitas Surabaya Sidoarjo Peduli Kucing Domestik (S2PKD).

Di tangan Yana, kucing lokal itu dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Bersama seorang dokter hewan, Drh Dewa Ayu Putu Arie SS, kucing itu rutin diterapi. Salah satunya dengan akupuntur. Hewan berbulu tersebut diterapi dua pekan sekali.

Tekniknya tak kalah dengan akupuntur pada manusia. Selain menggunakan jarum, juga memakai akupuntur laser di bagian-bagian tubuh tertentu. Agar mau diterapi, kucing harus dielus-elus. Setelah jinak, jarum dan laser mulai ditaruh di badan kucing.

“Jadi kucing itu kan kulitnya lebih tipis dari anjing, maka jarumnya juga disesuaikan, ini juga diarahkan pada bagian tubuh kucing agar aliran darahnya lancar,” kata dokter Ayu.

Alumnus Universitas Udayana Bali itu mengatakan, menerapi hewan seperti kucing susah-susah gampang. Baginya, melihat kondisi kucing semakin membaik adalah kebahagiaan yang tak ternilai. Bersama Yana, dia terus berupaya agar hewan yang dirawatnya sembuh.

“Apalagi kucing itu sebenarnya lucu, maka merawatnya harus sabar, setiap terapi, 15 menit sudah selesai,” ujarnya. (*/nis)

 


Berita HITS

Berita Terbaru

Trending Tags