alexametrics
29 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Potensi Satra Sidoarjo Tergantung Gairah Para Penulis

Anggota komite sastra Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) terus semangat mengobarkan gairah kepenulisan di Kota Delta. Kajian-kajian tidak henti dilakukan agar sastra di Sidoarjo semakin kaya.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Kekuatannya berada di tangan para penulis-penulis Sidoarjo yang sudah cukup banyak. Kalimat itulah yang diucapkan ketua Komunitas Malam Puisi Sidoarjo Ferdi Afrar saat ditanya seberapa besar peluang sastra di Sidoarjo.

“Potensi Sastra Sidoarjo itu sebenarnya bergantung dari gairah penulis untuk mengeksplor hal-hal terkait Sidoarjo.Misalkan, tentang kehidupan warga yang terus berkembang di Sidoarjo. Hal itu dapat dijadikan sebagai sumber menulis karya sastra,” ungkapnya.

Apalagi di masa pandemi para penulis justru menjamur di Sidoarjo. Kelas menulis yang belakangan ini muncul, dapat menumbuhkan potensi sastra Sidoarjo itu sendiri. Komite Sastra-Dekesda pun dapat menyelenggarakan kelas menulis sastra secara daring dengan tema khas Sidoarjo.

Bagaimana potensi kesusastraan di Sidoarjo? Apa kendala pengembangan potensi sastra Sidoarjo? Tema-tema kultural apa yang menarik untuk digarap oleh sastrawan Sidoarjo? Bagaimana membahasakan latar geografis Sidoarjo dalam karya sastra? Bagaimanakah karya sastra yang selaras dengan karakteristik Sidoarjo?

Begitu juga dengan Novi Larasati yang mengungkap bahwa kelas menulis semacam itu sudah dilakukan oleh komunitas menulis yang ada di Sidoarjo. Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Sidoarjo itu menyebutkan banyak nama-nama penulis muda yang potensial untuk menulis sastra. “Bahkan karyanya juga sudah dimuat di media massa,” katanya.

Tak kalah pentingnya, dalam membincang tersebut harus dipikirkan juga pasar dan produk yang akan dihasilkan. “Sidoarjo ini perlu membangun sebuah ekosistem untuk menciptakan pasar bagi karya sastra Sidoarjo. Secara pribadi, saya sudah melakukan hal itu dengan mengumpulkan buku-buku sastra yang berkaitan dengan Sidoarjo,” tegas Iffa Suraiyya, pemilik perpustakaan Bait Kata.

Dekesda sebagai organisasi seni dan budaya akan sangat mendukung kegiatan apapun yang berhubungan dengan sastra. “Kami mendukung penuh kegiatan apapun yang dapat menaikkan citra sastra di Sidoarjo,” pungkas ketua Dekesda Sidoarjo Ali Aspandi. (*/opi)

 

Anggota komite sastra Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) terus semangat mengobarkan gairah kepenulisan di Kota Delta. Kajian-kajian tidak henti dilakukan agar sastra di Sidoarjo semakin kaya.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Kekuatannya berada di tangan para penulis-penulis Sidoarjo yang sudah cukup banyak. Kalimat itulah yang diucapkan ketua Komunitas Malam Puisi Sidoarjo Ferdi Afrar saat ditanya seberapa besar peluang sastra di Sidoarjo.

“Potensi Sastra Sidoarjo itu sebenarnya bergantung dari gairah penulis untuk mengeksplor hal-hal terkait Sidoarjo.Misalkan, tentang kehidupan warga yang terus berkembang di Sidoarjo. Hal itu dapat dijadikan sebagai sumber menulis karya sastra,” ungkapnya.

Apalagi di masa pandemi para penulis justru menjamur di Sidoarjo. Kelas menulis yang belakangan ini muncul, dapat menumbuhkan potensi sastra Sidoarjo itu sendiri. Komite Sastra-Dekesda pun dapat menyelenggarakan kelas menulis sastra secara daring dengan tema khas Sidoarjo.

Bagaimana potensi kesusastraan di Sidoarjo? Apa kendala pengembangan potensi sastra Sidoarjo? Tema-tema kultural apa yang menarik untuk digarap oleh sastrawan Sidoarjo? Bagaimana membahasakan latar geografis Sidoarjo dalam karya sastra? Bagaimanakah karya sastra yang selaras dengan karakteristik Sidoarjo?

Begitu juga dengan Novi Larasati yang mengungkap bahwa kelas menulis semacam itu sudah dilakukan oleh komunitas menulis yang ada di Sidoarjo. Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Sidoarjo itu menyebutkan banyak nama-nama penulis muda yang potensial untuk menulis sastra. “Bahkan karyanya juga sudah dimuat di media massa,” katanya.

Tak kalah pentingnya, dalam membincang tersebut harus dipikirkan juga pasar dan produk yang akan dihasilkan. “Sidoarjo ini perlu membangun sebuah ekosistem untuk menciptakan pasar bagi karya sastra Sidoarjo. Secara pribadi, saya sudah melakukan hal itu dengan mengumpulkan buku-buku sastra yang berkaitan dengan Sidoarjo,” tegas Iffa Suraiyya, pemilik perpustakaan Bait Kata.

Dekesda sebagai organisasi seni dan budaya akan sangat mendukung kegiatan apapun yang berhubungan dengan sastra. “Kami mendukung penuh kegiatan apapun yang dapat menaikkan citra sastra di Sidoarjo,” pungkas ketua Dekesda Sidoarjo Ali Aspandi. (*/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/