alexametrics
31 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

Edukasi Fotografi Yang Bermakna

Komunitas Pecinta Seni di Sidoarjo

Semua orang kini berlomba-lomba memberikan informasi dengan cepat. Tulisan lengkap disertai foto dan sosial media, jadi tempat favorit warga untuk membagikannya. Namun tidak semua foto yang dibagikan tersebut memiliki makna khusus. Dari sinilah komunitas pecinta seni di Sidoarjo tergerak mengedukasi milenial lebih memahami seni fotografi.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Urip iku urup. Layaknya lilin menyala, lalu menerangi kegelapan. Perumpamaan itu disampaikan oleh Sirojul Muttaqin dalam sebuah foto yang menampilkan sosok ibu sedang mengayuh sepeda sambil membawa dagangan jamu. Bagi siswa SMAN 3 Sidoarjo itu, si ibu itu seorang pahlawan. Setiap kucuran keringatnya terdapat secercah kasih sayang untuk menghidupi keluarga. Terutama anaknya yang masih duduk di bangku sekolah.

Berbeda dengan Nur Rachmad Arifin. Dia menunjukkan foto guru yang sedang mengajar di sawah sambil memakai baju bermotif lurik. Menurutnya, guru juga pahlawan. Foto-foto lain yang dipajang dalam Rumah Budaya Sidoarjo, Kelurahan Pucang, Kecamatan Sidoarjo, sangat beragam. Namun bertemakan sama. Yakni pahlawan dalam lensa.

Hasil jepretan foto yang dipamerkan sungguh epik. Selain milik Sirojul dan Arifin, ada foto yng menggambarkan nenek paruh baya fokus membatik. Kulit tangannya yang keriput memegang canting dengan erat. Perlahan, ia menggoreskannya pada selembar kain.

“Melalui foto, kita bisa memberikan edukasi,” kata Boy Slamet, fotografer senior. Dia menyampaikan semua orang mudah mengakses media sosial. Saking mudahnya, mereka berlomba-lomba memberikan informasi. Baik dalam bentuk tulisan maupun foto. “Foto ini bukan asal jepret. Tapi potretlah untuk bisa menyampaikan pesan didalamnya,” tuturnya.

Co-Founder Sidoarjo Bisa Yonathan Toar Sangari menyampaikan pameran ini dilaksanakan dalam rangka Hari Pahlawan. Mulai awal hingga akhir November, para peserta mengirimkan foto orisinil bertema Pahlawan Dalam lensa. “Total ada 42 foto yang terkumpul. Semua kita pajang di Rumah Budaya Sidoarjo,” katanya.

Yonathan menyebutkan peserta berasal dari kalangan pelajar. Mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mewadahi para pecinta foto. Mereka berkompetisi menghasilkan jepretan terbaik. Tak hanya itu, mereka juga dapat berbagi ilmu dengan fotografer senior.

Sebelum dijadikan Rumah Budaya Sidoarjo, bangunan yang berada di jalan Malik Ibrahim nomor 39 itu hanya digunakan untuk posko. “Kami berharap Rumah Budaya ini menjadi tempat aktualisasi bagi anak milenial. Kedepan pihaknya akan menyelenggarkan event-event lain,” ujarnya. (*/opi)

 

Komunitas Pecinta Seni di Sidoarjo

Semua orang kini berlomba-lomba memberikan informasi dengan cepat. Tulisan lengkap disertai foto dan sosial media, jadi tempat favorit warga untuk membagikannya. Namun tidak semua foto yang dibagikan tersebut memiliki makna khusus. Dari sinilah komunitas pecinta seni di Sidoarjo tergerak mengedukasi milenial lebih memahami seni fotografi.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Urip iku urup. Layaknya lilin menyala, lalu menerangi kegelapan. Perumpamaan itu disampaikan oleh Sirojul Muttaqin dalam sebuah foto yang menampilkan sosok ibu sedang mengayuh sepeda sambil membawa dagangan jamu. Bagi siswa SMAN 3 Sidoarjo itu, si ibu itu seorang pahlawan. Setiap kucuran keringatnya terdapat secercah kasih sayang untuk menghidupi keluarga. Terutama anaknya yang masih duduk di bangku sekolah.

Berbeda dengan Nur Rachmad Arifin. Dia menunjukkan foto guru yang sedang mengajar di sawah sambil memakai baju bermotif lurik. Menurutnya, guru juga pahlawan. Foto-foto lain yang dipajang dalam Rumah Budaya Sidoarjo, Kelurahan Pucang, Kecamatan Sidoarjo, sangat beragam. Namun bertemakan sama. Yakni pahlawan dalam lensa.

Hasil jepretan foto yang dipamerkan sungguh epik. Selain milik Sirojul dan Arifin, ada foto yng menggambarkan nenek paruh baya fokus membatik. Kulit tangannya yang keriput memegang canting dengan erat. Perlahan, ia menggoreskannya pada selembar kain.

“Melalui foto, kita bisa memberikan edukasi,” kata Boy Slamet, fotografer senior. Dia menyampaikan semua orang mudah mengakses media sosial. Saking mudahnya, mereka berlomba-lomba memberikan informasi. Baik dalam bentuk tulisan maupun foto. “Foto ini bukan asal jepret. Tapi potretlah untuk bisa menyampaikan pesan didalamnya,” tuturnya.

Co-Founder Sidoarjo Bisa Yonathan Toar Sangari menyampaikan pameran ini dilaksanakan dalam rangka Hari Pahlawan. Mulai awal hingga akhir November, para peserta mengirimkan foto orisinil bertema Pahlawan Dalam lensa. “Total ada 42 foto yang terkumpul. Semua kita pajang di Rumah Budaya Sidoarjo,” katanya.

Yonathan menyebutkan peserta berasal dari kalangan pelajar. Mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mewadahi para pecinta foto. Mereka berkompetisi menghasilkan jepretan terbaik. Tak hanya itu, mereka juga dapat berbagi ilmu dengan fotografer senior.

Sebelum dijadikan Rumah Budaya Sidoarjo, bangunan yang berada di jalan Malik Ibrahim nomor 39 itu hanya digunakan untuk posko. “Kami berharap Rumah Budaya ini menjadi tempat aktualisasi bagi anak milenial. Kedepan pihaknya akan menyelenggarkan event-event lain,” ujarnya. (*/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/