alexametrics
27 C
Sidoarjo
Wednesday, 17 August 2022

Punden Kedungkeras di Tulangan, Butuh Dukungan Pemkab Eskavasi Penyelamatan

Situs Punden Kedungkeras di Desa Tulangan (2-habis)

Bentuk struktur bangunan kuno situs Punden Kedungkeras di Desa Tulangan makin jelas setelah dibongkar tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim. Kini butuh dukungan dari Pemkab Sidoarjo untuk langkah penyelamatan lanjutan.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Selepas penemuan struktur bangunan kuno di Punden Kedungkeras, warga juga langsung melapor ke pihak terkait. Yakni dengan mensurati BPCB Jatim. Hal itu juga langsung direspon oleh BPCB Jatim.

Pada 25 Mei lalu, tim dari BPCB Jatim datang ke lokasi tersebut. “Kami melakukan survei penyelamatan. Itu juga berdasarkan laporan penemuan dari warga,” kata Ketua Tim Ekskavasi BPCB Jatim, Albertus Agung Vidi Susanto.

Vidi menambahkan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo terkait kegiatan tesebut. Sekitar 3 hari, tim berupaya mengutak-atik lokasi gundukan tanah itu. Hasil survei itu merekomendasikan bahwa situs Punden Kedungkeras itu memiliki potensi untuk dilakukan eskavasi penyelamatan.

Vidi melanjutkan, jika dilakukan eskavasi penyelamatan maka juga membutuhkan suplai dana untuk kegiatan tersebut. “Bisa dari BPCB, atau juga bisa dari Pemkab. Untuk pendanaan kabupaten harus ikut memikirkan,” cetusnya.

Menurut Vidi, kegiatan survei yang dilakukan timnya juga menjadi pemantik agar pihak-pihak terkait juga mau turun tangan untuk melestarikan warisan peradaban itu. “BPCB hanya bisa membantu,” imbuhnya.

Vidi menerangkan, dugaan terkait Situs Punden Kedungkeras adalah warisan peradaban juga dikuatkan dengan analisa sejumlah prasasti yang telah ada. “Nama Tulangan sudah disebutkan beberapa kali dalam beberapa prasasti dari masa Medang atau Mataram Kuno abad 10 hingga masa Hayam Wuruk abad 14,” katanya.

Pada Mataram Kuno ada di Prasasti Tulangan, sementara pada masa Majapahit ada di Prasasti Trowulan I atau Canggu. Harapannya langkah pelestarian itu juga direspon baik pemerintah daerah setempat.

Selain menemukan struktur bangunan dan bata kuno, warga juga sempat menemukan logam berwarna kemasan berbentuk naga dan kura-kura. Logam itu ditemukan di dinding sumur. (*/vga)

Situs Punden Kedungkeras di Desa Tulangan (2-habis)

Bentuk struktur bangunan kuno situs Punden Kedungkeras di Desa Tulangan makin jelas setelah dibongkar tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim. Kini butuh dukungan dari Pemkab Sidoarjo untuk langkah penyelamatan lanjutan.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Selepas penemuan struktur bangunan kuno di Punden Kedungkeras, warga juga langsung melapor ke pihak terkait. Yakni dengan mensurati BPCB Jatim. Hal itu juga langsung direspon oleh BPCB Jatim.

Pada 25 Mei lalu, tim dari BPCB Jatim datang ke lokasi tersebut. “Kami melakukan survei penyelamatan. Itu juga berdasarkan laporan penemuan dari warga,” kata Ketua Tim Ekskavasi BPCB Jatim, Albertus Agung Vidi Susanto.

Vidi menambahkan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo terkait kegiatan tesebut. Sekitar 3 hari, tim berupaya mengutak-atik lokasi gundukan tanah itu. Hasil survei itu merekomendasikan bahwa situs Punden Kedungkeras itu memiliki potensi untuk dilakukan eskavasi penyelamatan.

Vidi melanjutkan, jika dilakukan eskavasi penyelamatan maka juga membutuhkan suplai dana untuk kegiatan tersebut. “Bisa dari BPCB, atau juga bisa dari Pemkab. Untuk pendanaan kabupaten harus ikut memikirkan,” cetusnya.

Menurut Vidi, kegiatan survei yang dilakukan timnya juga menjadi pemantik agar pihak-pihak terkait juga mau turun tangan untuk melestarikan warisan peradaban itu. “BPCB hanya bisa membantu,” imbuhnya.

Vidi menerangkan, dugaan terkait Situs Punden Kedungkeras adalah warisan peradaban juga dikuatkan dengan analisa sejumlah prasasti yang telah ada. “Nama Tulangan sudah disebutkan beberapa kali dalam beberapa prasasti dari masa Medang atau Mataram Kuno abad 10 hingga masa Hayam Wuruk abad 14,” katanya.

Pada Mataram Kuno ada di Prasasti Tulangan, sementara pada masa Majapahit ada di Prasasti Trowulan I atau Canggu. Harapannya langkah pelestarian itu juga direspon baik pemerintah daerah setempat.

Selain menemukan struktur bangunan dan bata kuno, warga juga sempat menemukan logam berwarna kemasan berbentuk naga dan kura-kura. Logam itu ditemukan di dinding sumur. (*/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/