alexametrics
31 C
Sidoarjo
Sunday, 26 June 2022

Pamerkan Cerita Perjalanan Sidoarjo dalam Sebuah Lukisan

Komunitas Gradasi Sidoarjo

Cerita perjalanan suatu daerah rupanya dapat digambarkan dalam sebuah lukisan yang menarik. Setidaknya hal itulah yang terwujud dalam sebuah pameran bertajuk “Sidoarjo dalam Gambar”.

LUKMAN AL FARISI/Wartawan Radar Sidoarjo

Puluhan lukisan tampak berjejer rapi di sebuah rumah budaya Jalan Malik Ibrahim 39 Sidoarjo. Gambar yang berisi berbagai cerita perjalanan Sidoarjo itu merupakan hasil karya 15 perupa Kota Delta.

Mereka merupakan para seniman yang tergabung dalam komunitas Gradasi. Salah satu komunitas yang berisi para perupa Sidoarjo. Beberapa lukisan terlihat sangat menarik. Misalnya, lukisan bertajuk Jetis Kampung Batik.

Sebuah wanita tampak memegang selembar kain dengan canting batik pada tangan kanannya seperti nyata. Lukisan tersebut memperlihatkan aktivitas membatik di kampung Jetis Sidoarjo yang masih eksis hingga saat ini.

“Gambar-gambar yang dipamerkan ini mencerminkan identitas Sidoarjo yang syarat dengan fenomena baik buruknya. Ini menjadi legacy dari siapa dan untuk siapa,” ujar Wahyu Sigit Crueng, sang kurator.

Selain lukisan bertajuk Jetis Kampung Batik, ada lukisan yang bertema Korupsi Bukan Tradisi. Sebuah lukisan berukuran 40×50 sentimeter tersebut merupakan buah karya Widodo Basuki. Seorang seniman dari Sukolegok, Desa Suko, Sukodono.

Lukisan tersebut menunjukkan sebuhan wayang dengan beberapa tangan tak tanpa tubuh. Di sampingnya gambar berbagai uang.

Ketua Komunitas Gradasi Sentot Usdek mengatakan, ini merupakan event yang pertama kali gelar. Sekaligus memperingati bulan menggambar nasional 2022 yang digagas forum drawing Indonesia.

Pameran tersebut juga mendapat apresiasi dari Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Sidoarjo, Sukartini. Menurutnya, pameran drawing exhibition tersebut dapat menjadi wadah bagi para seniman untuk terus berkarya tanpa harus menggantungkan kepada pemerintah.

“Ini bisa berdiri sendiri, dan tidak menggantungkan kepada pemerintah. Memunculkan ide mandiri. Karena pemerintah belum bisa mendukung satu persatu,” jelasnya. (*/vga)

 

Komunitas Gradasi Sidoarjo

Cerita perjalanan suatu daerah rupanya dapat digambarkan dalam sebuah lukisan yang menarik. Setidaknya hal itulah yang terwujud dalam sebuah pameran bertajuk “Sidoarjo dalam Gambar”.

LUKMAN AL FARISI/Wartawan Radar Sidoarjo

Puluhan lukisan tampak berjejer rapi di sebuah rumah budaya Jalan Malik Ibrahim 39 Sidoarjo. Gambar yang berisi berbagai cerita perjalanan Sidoarjo itu merupakan hasil karya 15 perupa Kota Delta.

Mereka merupakan para seniman yang tergabung dalam komunitas Gradasi. Salah satu komunitas yang berisi para perupa Sidoarjo. Beberapa lukisan terlihat sangat menarik. Misalnya, lukisan bertajuk Jetis Kampung Batik.

Sebuah wanita tampak memegang selembar kain dengan canting batik pada tangan kanannya seperti nyata. Lukisan tersebut memperlihatkan aktivitas membatik di kampung Jetis Sidoarjo yang masih eksis hingga saat ini.

“Gambar-gambar yang dipamerkan ini mencerminkan identitas Sidoarjo yang syarat dengan fenomena baik buruknya. Ini menjadi legacy dari siapa dan untuk siapa,” ujar Wahyu Sigit Crueng, sang kurator.

Selain lukisan bertajuk Jetis Kampung Batik, ada lukisan yang bertema Korupsi Bukan Tradisi. Sebuah lukisan berukuran 40×50 sentimeter tersebut merupakan buah karya Widodo Basuki. Seorang seniman dari Sukolegok, Desa Suko, Sukodono.

Lukisan tersebut menunjukkan sebuhan wayang dengan beberapa tangan tak tanpa tubuh. Di sampingnya gambar berbagai uang.

Ketua Komunitas Gradasi Sentot Usdek mengatakan, ini merupakan event yang pertama kali gelar. Sekaligus memperingati bulan menggambar nasional 2022 yang digagas forum drawing Indonesia.

Pameran tersebut juga mendapat apresiasi dari Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Sidoarjo, Sukartini. Menurutnya, pameran drawing exhibition tersebut dapat menjadi wadah bagi para seniman untuk terus berkarya tanpa harus menggantungkan kepada pemerintah.

“Ini bisa berdiri sendiri, dan tidak menggantungkan kepada pemerintah. Memunculkan ide mandiri. Karena pemerintah belum bisa mendukung satu persatu,” jelasnya. (*/vga)

 

Most Read

Berita Terbaru


/