alexametrics
29 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Sejak Pandemi, Penggemar Kucing Meningkat

Breeding Indukan dari Rusia dan Ukraina Laku Keras

Pecinta kucing pasti sudah tidak asing dengan istilah breeding. Mengawinkan indukan dari satu ras dengan ras lainnya yang menghasilkan anakan unik. Namun, breeding tidak bisa dilakukan sembarang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Salah satu breeder kucing yang ada di Waru, Mujianto, sudah menggeluti dunia ini sejak 10 tahun lalu. Awalnya sekedar hobi, namun banyak teman dan pecinta kucing yang tertarik dengan hasil breedingnya. Dia pun menjadi peternak kucing jenis bulu pendek atau shorthair.

Namun, dia mengaku breeding kucing tidak bisa sembarangan. Apalagi dipaksa. Dia harus memperhatikan keturunan, golongan darah, dan jenis rasnya.

“Yang penting insting breedingnya harus kuat,” katanya.

Saat ini Mujianto memiliki 60 ekor kucing dari berbagai ras. Seperti british shorthair, scottish fold, dan munchkin atau kucing kaki pendek. Delapan di antaranya merupakan indukan. Bahkan ada yang diimpor dari Rusia dan Ukraina.

British shorthair, scottish fold, dan munchkin adalah kucing jenis bulu pendek asal Eropa. Mereka memiliki sertifikat pedigree dari negara asalnya. Mujianto menyebut, setiap jenis ras memiliki kelebihan masing-masing.

Kucing jenis british memiliki ciri-ciri ukuran tubuh yang lebih besar daripada kucing domestik. Scottish fold memiliki ciri telinga menutup ke depan, sedangkan kucing munchkin memilih keunggulan pada kakinya yang pendek.

Untuk hasil breeding satu ekor anakan kucing non ped berusia 3 bulan, Mujianto mematok harga Rp 15 juta hingga Rp 17 juta. Sedangkan anakan kucing bersertifikat pedigree dibanderol mulai Rp 25 juta hingga Rp 40 juta.

Harga itu sebanding dengan perawatan yang diberikan. Untuk perawatan satu ekor kucing membutuhkan dana Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta. Digunakan untuk vaksin, makanan, vitamin dan grooming.

Dia mengaku memilih kucing jenis british shorthair untuk dibreeding, karena menurutnya jenis ini berbulu lebih padat, lembut dan perawatannya pun mudah. Karakternya yang manja dan penurut sangat cocok sekali dijadikan hewan peliharaan di rumah. “Terutama untuk anak-anak,” terangnya.

Mujianto mengaku selama pandemi penjualannya meningkat drastis, banyak permintaan dari berbagai kota se-Indonesia. Bahkan dia mengaku sampai kewalahan. “Mungkin orang-orang banyak menghabiskan di rumah, sehingga butuh hiburan,” imbuhnya.

Dalam satu bulan dia bisa menghasilkan 20 anakan. Biasanya laku 4 hingga 5 ekor. Penghasilannya sekitar Rp 60 hingga Rp 70 juta. (*/vga)

 

Breeding Indukan dari Rusia dan Ukraina Laku Keras

Pecinta kucing pasti sudah tidak asing dengan istilah breeding. Mengawinkan indukan dari satu ras dengan ras lainnya yang menghasilkan anakan unik. Namun, breeding tidak bisa dilakukan sembarang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Salah satu breeder kucing yang ada di Waru, Mujianto, sudah menggeluti dunia ini sejak 10 tahun lalu. Awalnya sekedar hobi, namun banyak teman dan pecinta kucing yang tertarik dengan hasil breedingnya. Dia pun menjadi peternak kucing jenis bulu pendek atau shorthair.

Namun, dia mengaku breeding kucing tidak bisa sembarangan. Apalagi dipaksa. Dia harus memperhatikan keturunan, golongan darah, dan jenis rasnya.

“Yang penting insting breedingnya harus kuat,” katanya.

Saat ini Mujianto memiliki 60 ekor kucing dari berbagai ras. Seperti british shorthair, scottish fold, dan munchkin atau kucing kaki pendek. Delapan di antaranya merupakan indukan. Bahkan ada yang diimpor dari Rusia dan Ukraina.

British shorthair, scottish fold, dan munchkin adalah kucing jenis bulu pendek asal Eropa. Mereka memiliki sertifikat pedigree dari negara asalnya. Mujianto menyebut, setiap jenis ras memiliki kelebihan masing-masing.

Kucing jenis british memiliki ciri-ciri ukuran tubuh yang lebih besar daripada kucing domestik. Scottish fold memiliki ciri telinga menutup ke depan, sedangkan kucing munchkin memilih keunggulan pada kakinya yang pendek.

Untuk hasil breeding satu ekor anakan kucing non ped berusia 3 bulan, Mujianto mematok harga Rp 15 juta hingga Rp 17 juta. Sedangkan anakan kucing bersertifikat pedigree dibanderol mulai Rp 25 juta hingga Rp 40 juta.

Harga itu sebanding dengan perawatan yang diberikan. Untuk perawatan satu ekor kucing membutuhkan dana Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta. Digunakan untuk vaksin, makanan, vitamin dan grooming.

Dia mengaku memilih kucing jenis british shorthair untuk dibreeding, karena menurutnya jenis ini berbulu lebih padat, lembut dan perawatannya pun mudah. Karakternya yang manja dan penurut sangat cocok sekali dijadikan hewan peliharaan di rumah. “Terutama untuk anak-anak,” terangnya.

Mujianto mengaku selama pandemi penjualannya meningkat drastis, banyak permintaan dari berbagai kota se-Indonesia. Bahkan dia mengaku sampai kewalahan. “Mungkin orang-orang banyak menghabiskan di rumah, sehingga butuh hiburan,” imbuhnya.

Dalam satu bulan dia bisa menghasilkan 20 anakan. Biasanya laku 4 hingga 5 ekor. Penghasilannya sekitar Rp 60 hingga Rp 70 juta. (*/vga)

 

Most Read

Berita Terbaru


/