alexametrics
29 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Kolaborasi Komunitas Atasi Hama Tikus, Dirikan Rumah Burung Hantu

Gotong Royong Dirikan Rumah Burung Hantu

Tidak ingin melihat petani sering gagal panen, komunitas pemuda dan pecinta burung hantu di Sidoarjo bekerja sama mendirikan rumah burung hantu (rubuha) tyto alba.  Salah satu burung predator bagi tikus.

Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo

Petani di Desa Pagerngumbuk dilanda keresahan tiap memasuki masa tanam padi. Lahan persawahan mereka sering dilanda hama tikus hingga akhirnya padi gagal panen.

Keresahan tersebut diketahui sendiri oleh Achmad Irfandi, founder Kampung Lali Gadget (KLG). Suatu komunitas pemuda yang bergerak di bidang edukasi yang memperkenalkan anak dengan berbagai macam aktivitas permainan air, tanah dan permainan tradisional lainnya.

KLG sendiri berlokasi di Desa Pagerngumbuk. Maka dari itu tidak heran jika lahan persawahan, menjadi sasaran utama KLG. Di lahan sawah tersebut dijadikan tempat edukasi anak untuk mengetahui asal usul nasi.

Tidak sekedar mengedukasi anak, melalui KLG, Irfandi juga ingin memberi manfaat lebih untuk warga sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Dia ingin membantu mereka lepas dari bayang-bayang hama tikus.

Belum lama ini, KLG mengajak Owl Pride of Sidoarjo (OPOS) mendirikan rumah burung hantu (rubuha). Ketua OPOS Don Adrian mengatakan burung hantu merupakan binatang pemburu tikus yang handal, sehingga dapat menjadi predator alami yang efektif untuk mengendalikan hama tikus.

Pemanfaatan musuh alami hama tikus dalam hal ini adalah burung hantu tyto alba. Burung hantu tyto alba merupakan burung karnivora yang aktif pada malam hari.

Dalam waktu sehari, satu ekor burung hantu mampu memakan 10 ekor tikus, dengan daya jelajah kurang lebih 12 hektar. Sehingga lebih efektif membasmi hama tikus, daripada ular atau biawak yang rata-rata makan tikus tiap empat hari sekali.

“Apalagi di musim kawin Februari – Mei dan Juli – Desember, pejantan akan lebih banyak mencari tikus untuk betina yang sedang mengerami telur,” jelasnya.

Adrian menambahkan, tyto alba ini jenis burung hantu liar yang ada di alam. Pada siang hari mereka bersembunyi di pohon-pohon besar atau di tempat datar seperti plafon rumah.

Pemanfaatan burung hantu sebagai predator pengendali hama tikus perlu dikembangkan dengan membuat dan menempatkan rubuha di lahan-lahan persawahan sebagai tempat berkembang biak burung hantu. “Di Tuban dan Lamongan sudah berhasil menekan hama tikus dengan burung hantu,” imbuhnya.

Sebelumnya pada 2020, OPOS mendirikan rubuha di Desa Prasung Kecamatan Buduran. Sepasang burung hantu yang mendiami rubuha tersebut telah menetaskan enam telur.

Pendirian rubuha ini kata Adrian akan terus didirikan. Targetnya 1.000 rubuha di Sidoarjo. Tahun depan rubuha akan didirikan di Prambon. (*/vga)

Gotong Royong Dirikan Rumah Burung Hantu

Tidak ingin melihat petani sering gagal panen, komunitas pemuda dan pecinta burung hantu di Sidoarjo bekerja sama mendirikan rumah burung hantu (rubuha) tyto alba.  Salah satu burung predator bagi tikus.

Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo

Petani di Desa Pagerngumbuk dilanda keresahan tiap memasuki masa tanam padi. Lahan persawahan mereka sering dilanda hama tikus hingga akhirnya padi gagal panen.

Keresahan tersebut diketahui sendiri oleh Achmad Irfandi, founder Kampung Lali Gadget (KLG). Suatu komunitas pemuda yang bergerak di bidang edukasi yang memperkenalkan anak dengan berbagai macam aktivitas permainan air, tanah dan permainan tradisional lainnya.

KLG sendiri berlokasi di Desa Pagerngumbuk. Maka dari itu tidak heran jika lahan persawahan, menjadi sasaran utama KLG. Di lahan sawah tersebut dijadikan tempat edukasi anak untuk mengetahui asal usul nasi.

Tidak sekedar mengedukasi anak, melalui KLG, Irfandi juga ingin memberi manfaat lebih untuk warga sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Dia ingin membantu mereka lepas dari bayang-bayang hama tikus.

Belum lama ini, KLG mengajak Owl Pride of Sidoarjo (OPOS) mendirikan rumah burung hantu (rubuha). Ketua OPOS Don Adrian mengatakan burung hantu merupakan binatang pemburu tikus yang handal, sehingga dapat menjadi predator alami yang efektif untuk mengendalikan hama tikus.

Pemanfaatan musuh alami hama tikus dalam hal ini adalah burung hantu tyto alba. Burung hantu tyto alba merupakan burung karnivora yang aktif pada malam hari.

Dalam waktu sehari, satu ekor burung hantu mampu memakan 10 ekor tikus, dengan daya jelajah kurang lebih 12 hektar. Sehingga lebih efektif membasmi hama tikus, daripada ular atau biawak yang rata-rata makan tikus tiap empat hari sekali.

“Apalagi di musim kawin Februari – Mei dan Juli – Desember, pejantan akan lebih banyak mencari tikus untuk betina yang sedang mengerami telur,” jelasnya.

Adrian menambahkan, tyto alba ini jenis burung hantu liar yang ada di alam. Pada siang hari mereka bersembunyi di pohon-pohon besar atau di tempat datar seperti plafon rumah.

Pemanfaatan burung hantu sebagai predator pengendali hama tikus perlu dikembangkan dengan membuat dan menempatkan rubuha di lahan-lahan persawahan sebagai tempat berkembang biak burung hantu. “Di Tuban dan Lamongan sudah berhasil menekan hama tikus dengan burung hantu,” imbuhnya.

Sebelumnya pada 2020, OPOS mendirikan rubuha di Desa Prasung Kecamatan Buduran. Sepasang burung hantu yang mendiami rubuha tersebut telah menetaskan enam telur.

Pendirian rubuha ini kata Adrian akan terus didirikan. Targetnya 1.000 rubuha di Sidoarjo. Tahun depan rubuha akan didirikan di Prambon. (*/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/