alexametrics
27 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

Saksi Sejarah Perjuangan Kiai-Santri yang Sempat Hendak Dijual

Bangunan Markas Besar Oelama (MBO)

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya menyisakan banyak sejarah. Di antaranya perjuangan kaum santri. Jejaknya salah satunya, Markas Besar Oelama (MBO) yang masih berdiri kokoh. Konon, tempat itu menjadi lokasi kiai sepuh dan santri, merumuskan strategi perang.

LUKMAN AL FARISI
Wartawan Radar Sidoarjo

Siang itu, Markas Besar Oelama di Jalan Satria RT 17/RW 03, Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, nampak sepi. Hanya terlihat lalu lalang kendaraan di depannya. Bangunan tua itu sekilas terlihat hampir roboh. Temboknya mengelupas, dan bata merahnya terlihat jelas. Di pagarnya, bendera merah putih nampak sedikit kusut berkibar mengikuti hembusan angin.

“Rumah ini dahulu milik H Rois. Di sinilah KH Bisri Syansuri atas perintah KH Hasyim Asy’ari berkumpul lalu mengatur strategi perang pada 10 November,” kata Ahmad Ghozali, penjaga bangunan itu.

Pria 50 tahun itu merupakan generasi ke empat setelah ayah, ibu dan kakaknya yang menjaga bangunan itu. Ghozali ingat betul, bagaimana bangunan setinggi sekitar tujuh meter itu sempat hendak dijual. Awalnya, rumah itu sempat disewakan kepada dua orang keturunan Jawa, bernama Ali dan Miskun.

Usai disewa oleh dua orang itu, kemudian disewakan kembali kepada warga keturunan Arab, Mat Alwi. Saat itu, bangunan yang sempat menjadi persinggahan KH Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah selaku pemimpin komando barisan Mujahidin sempat akan dijual. Beruntung kabar itu diketahui oleh Kiai Asep Saifuddin Chalim.

“Kiai Asep itu kan orang NU (Nahdlatul Ulama, Red), jadi ketika tahu kabar akan dibeli Mat Alwi, akhirnya langsung dibeli oleh Kiai Asep,” ujar Ghozali.

Beruntung, rumah yang dibangun pada 1927 itu berhasil diselamatkan. Sayang, bagian belakang, seperti dapur dan kamar mandi nampak tak bisa digunakan lagi. Sementara atap-atapnya terlihat bocor. Tak jarang, ketika hujan deras menerjang, banjir tak dapat dihindari. Bahkan sampai selutut kaki orang dewasa.

“Saya harap segera ada renovasi, karena bangunan ini bersejarah, kadang kalau banjir saya harus tidur di musala, kalau di luar paling 50 centimer banjirnya, tapi kalau masuk ke dalam bisa selutut saya,” bebernya. (*/nis)

 

Bangunan Markas Besar Oelama (MBO)

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya menyisakan banyak sejarah. Di antaranya perjuangan kaum santri. Jejaknya salah satunya, Markas Besar Oelama (MBO) yang masih berdiri kokoh. Konon, tempat itu menjadi lokasi kiai sepuh dan santri, merumuskan strategi perang.

LUKMAN AL FARISI
Wartawan Radar Sidoarjo

Siang itu, Markas Besar Oelama di Jalan Satria RT 17/RW 03, Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, nampak sepi. Hanya terlihat lalu lalang kendaraan di depannya. Bangunan tua itu sekilas terlihat hampir roboh. Temboknya mengelupas, dan bata merahnya terlihat jelas. Di pagarnya, bendera merah putih nampak sedikit kusut berkibar mengikuti hembusan angin.

“Rumah ini dahulu milik H Rois. Di sinilah KH Bisri Syansuri atas perintah KH Hasyim Asy’ari berkumpul lalu mengatur strategi perang pada 10 November,” kata Ahmad Ghozali, penjaga bangunan itu.

Pria 50 tahun itu merupakan generasi ke empat setelah ayah, ibu dan kakaknya yang menjaga bangunan itu. Ghozali ingat betul, bagaimana bangunan setinggi sekitar tujuh meter itu sempat hendak dijual. Awalnya, rumah itu sempat disewakan kepada dua orang keturunan Jawa, bernama Ali dan Miskun.

Usai disewa oleh dua orang itu, kemudian disewakan kembali kepada warga keturunan Arab, Mat Alwi. Saat itu, bangunan yang sempat menjadi persinggahan KH Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah selaku pemimpin komando barisan Mujahidin sempat akan dijual. Beruntung kabar itu diketahui oleh Kiai Asep Saifuddin Chalim.

“Kiai Asep itu kan orang NU (Nahdlatul Ulama, Red), jadi ketika tahu kabar akan dibeli Mat Alwi, akhirnya langsung dibeli oleh Kiai Asep,” ujar Ghozali.

Beruntung, rumah yang dibangun pada 1927 itu berhasil diselamatkan. Sayang, bagian belakang, seperti dapur dan kamar mandi nampak tak bisa digunakan lagi. Sementara atap-atapnya terlihat bocor. Tak jarang, ketika hujan deras menerjang, banjir tak dapat dihindari. Bahkan sampai selutut kaki orang dewasa.

“Saya harap segera ada renovasi, karena bangunan ini bersejarah, kadang kalau banjir saya harus tidur di musala, kalau di luar paling 50 centimer banjirnya, tapi kalau masuk ke dalam bisa selutut saya,” bebernya. (*/nis)

 

Most Read

Berita Terbaru


/