alexametrics
24 C
Sidoarjo
Thursday, 26 May 2022

Dedikasikan Diri Untuk Pendidikan Inklusif

Asam garam sudah dirasakan Rukmini Ambarwati selama berkecimpung di dunia pendidikan inklusif. Kuncinya sabar dan telaten selalu dipegang Ambar saat mengajar.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Ambar sudah bisa membuktikan dengan meraih berbagai prestasi. Mengajar dan melayani siswa degan sepenuh hati mengantarkannya menjadi guru berprestasi baik ditingkat kabupaten Sidoarjo maupun tingkat provinsi Jawa Timur.

Semua bermula pada tahun 2012, ia mendapatkan amanah menangani siswa berkebutuhan khusus di SMAN 1 Gedangan yang saat itu ditunjuk menjadi Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif. Dimana siswa berkebutuhan khusus belajar bersama dalam satu kelas dengan siswa regular di sekolah umum. Saat itu Ambar mendapat siswa ABK, low vision, autis, celebral palsy, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan slow learner.

Tantangan terbesarnya saat itu justru datang dari rekan sejawat, hal itu wajar karena belum memahami bagaimana kurikulum, cara mengajar dan cara menangani siswa berkebutuhan khusus tersebut. Tantangan yang lain datang dari siswa dan orang tua siswa regular. Bahkan yang ekstrim mengatakan kalau siswa ABK tidak semestinya sekolah di sekolah umum, namun yang pantas adalah di sekolah luar biasa.

Bahkan saat itu, Ambarpun rela untuk memberikan toilet training pada salah satu siswa ABK Autis yang belum bisa buang air kecil di kamar mandi selama 6 bulan. Tugas yang tidak pernah dibayangkan, namun harus dijalankannya. “Pengalaman yang tidak terlupakan,” ujar perempuan yang saat ini menjadi pengawas jenjang SMA di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Sidoarjo ini.

Agar siswa ABK bisa diterima menjadi mahasiswa di perguruan tinggi tersebut pada 2014, Ambar berhasil melakukan MoU dengan beberapa perguruan tinggi. Tugas belum selesai saat ABK lulus dari sekolah, Ambar sendiri yang mendaftarkan Ke Perguruan Tinggi beserta orang tuanya.

Dan masih berlanjut karena perguruan tinggi masih memintanya untuk menjadi partner dalam penanganan selama mereka menimba ilmu di kampus. “Akhirnya pada 2018 ABK yang saya didampingi selama tersebut bisa menggenggam ijazah sarjana,” kisahnya.

Yang paling dikenang perempuan kelahiran Trenggalek ini, pada 2017 siswa ABK yang dibimbing dalam literasi memenangkan lomba menulis esai tingkat nasional, dengan predikat juara dua bersama anak muridnya.

Kini sudah 14 buku yang sudah dihasilkannya. Beberapa buku sudah berengger manis di toko buku Surabaya dan Malang. Karya bukunya mulai Pendidikan Inklusif, Bimbingan Karir, Bimbingan Konseling sampai curahan hati siswanya. (*/opi)

Asam garam sudah dirasakan Rukmini Ambarwati selama berkecimpung di dunia pendidikan inklusif. Kuncinya sabar dan telaten selalu dipegang Ambar saat mengajar.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Ambar sudah bisa membuktikan dengan meraih berbagai prestasi. Mengajar dan melayani siswa degan sepenuh hati mengantarkannya menjadi guru berprestasi baik ditingkat kabupaten Sidoarjo maupun tingkat provinsi Jawa Timur.

Semua bermula pada tahun 2012, ia mendapatkan amanah menangani siswa berkebutuhan khusus di SMAN 1 Gedangan yang saat itu ditunjuk menjadi Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif. Dimana siswa berkebutuhan khusus belajar bersama dalam satu kelas dengan siswa regular di sekolah umum. Saat itu Ambar mendapat siswa ABK, low vision, autis, celebral palsy, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan slow learner.

Tantangan terbesarnya saat itu justru datang dari rekan sejawat, hal itu wajar karena belum memahami bagaimana kurikulum, cara mengajar dan cara menangani siswa berkebutuhan khusus tersebut. Tantangan yang lain datang dari siswa dan orang tua siswa regular. Bahkan yang ekstrim mengatakan kalau siswa ABK tidak semestinya sekolah di sekolah umum, namun yang pantas adalah di sekolah luar biasa.

Bahkan saat itu, Ambarpun rela untuk memberikan toilet training pada salah satu siswa ABK Autis yang belum bisa buang air kecil di kamar mandi selama 6 bulan. Tugas yang tidak pernah dibayangkan, namun harus dijalankannya. “Pengalaman yang tidak terlupakan,” ujar perempuan yang saat ini menjadi pengawas jenjang SMA di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Sidoarjo ini.

Agar siswa ABK bisa diterima menjadi mahasiswa di perguruan tinggi tersebut pada 2014, Ambar berhasil melakukan MoU dengan beberapa perguruan tinggi. Tugas belum selesai saat ABK lulus dari sekolah, Ambar sendiri yang mendaftarkan Ke Perguruan Tinggi beserta orang tuanya.

Dan masih berlanjut karena perguruan tinggi masih memintanya untuk menjadi partner dalam penanganan selama mereka menimba ilmu di kampus. “Akhirnya pada 2018 ABK yang saya didampingi selama tersebut bisa menggenggam ijazah sarjana,” kisahnya.

Yang paling dikenang perempuan kelahiran Trenggalek ini, pada 2017 siswa ABK yang dibimbing dalam literasi memenangkan lomba menulis esai tingkat nasional, dengan predikat juara dua bersama anak muridnya.

Kini sudah 14 buku yang sudah dihasilkannya. Beberapa buku sudah berengger manis di toko buku Surabaya dan Malang. Karya bukunya mulai Pendidikan Inklusif, Bimbingan Karir, Bimbingan Konseling sampai curahan hati siswanya. (*/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/