alexametrics
29 C
Sidoarjo
Friday, 20 May 2022

Bekas Benteng Tentara Angkatan Laut Jepang

Gedung Juang 45 Pancasila (1)

Kota Delta masih terdapat bangunan berserajah jejak peninggalan perang memperebutkan Kemerdekaan Indonesia. Salah satunya berada di pusat kota Sidoarjo. Yakni Gedung Juang 45 Pancasila yang terletak di Jalan Ahmad Yani itu.

Rizky Putri Pratimi

Wartawan Radar Sidoarjo

Dari luar, bangunan bersejarah yang dibangun pada 1942 ini masih sangat gagah bercat warna cokelat muda. Begitu masuk halaman, pengunjung dapat melihat koleksi meriam, rudal, satu tank dan dua senjata canon. Yang paling mencuri perhatian adalah relief berukuran besar menggambarkan beberapa situasi perang pada saat itu.

Gedung tersebut pada masa penjajahan Jepang digunakan sebagai benteng alat-alat komunikasi (zender radio) Tentara Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Jejaknya dapat terlihat dari ruangan di balik relief besar di sana.

Jika diperhatikan dengan seksama, ada pintu kecil sebagai akses masuk menuju sebuah ruangan. Karena termakan usia, pintu tersebut kini terkunci rapat. Bagi yang penasaran memasuki ruangan tersebut, pengunjung akan diarahkan menuju pintu di sisi selatan yang lebih besar.

“Karena sangat kecil sekali maka dibuatkan pintu tambahan yang cukup lebar. Yakni pada pemugaran gedung di tahun 1984. Untuk kepentingan wisatawan meninjau lokasi museum ini,” urai Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Sidoarjo Achmad Nasikhun yang saat itu mendampingi Radar Sidoarjo.

Masih di dalam ruangan ini, ada sudut berukuran 1×1 meter. Dari situlah para tentara dulunya mengirimkan sebagai berita berbentuk sandi morse untuk kemudian disiarkan melalui radio.

Lalu, di ruangan yang kini digunakan sebagai museum itu masih tersimpan bentuk dan gambaran perjuangan pada masa mempertahankan kemerdekaan. Masih tersimpan dua bendera Pembela Tanah Air (PETA), mortir, helm baja, samurai, ada pula bambu runcing.
Pemanfaatan gedung sebagai benteng Kaigun ini tidak berlansung lama. Kemudian beralih fungsi pada tahun 1945 -1946, digunakan sebagai Markas Batalyon Soetjipto dan Markas Batalyon Soenandar secara bergiliran.

Sebab pada saat itu situasi pertempuran dahsyat yang terjadi di dalam Kota Surabaya sekitar 10 November 1945, memaksa Markas Yon Soenandar yang sejak pembentukkannya berkedudukan di Waru. Di kawasan bekas pabrik gula Waru yang kini pabrik soda Waru. Harus ditarik ke belakang Kota Sidoarjo menempati bangunan-bangunan bekas asrama Kaigun. Sedangkan markas Yon Soetjipto yang semula menempati asrama Kaigun, dipindahkan ke Watutulis menempati bangunan PG Watutulis. (*/opi/bersambung)

Gedung Juang 45 Pancasila (1)

Kota Delta masih terdapat bangunan berserajah jejak peninggalan perang memperebutkan Kemerdekaan Indonesia. Salah satunya berada di pusat kota Sidoarjo. Yakni Gedung Juang 45 Pancasila yang terletak di Jalan Ahmad Yani itu.

Rizky Putri Pratimi

Wartawan Radar Sidoarjo

Dari luar, bangunan bersejarah yang dibangun pada 1942 ini masih sangat gagah bercat warna cokelat muda. Begitu masuk halaman, pengunjung dapat melihat koleksi meriam, rudal, satu tank dan dua senjata canon. Yang paling mencuri perhatian adalah relief berukuran besar menggambarkan beberapa situasi perang pada saat itu.

Gedung tersebut pada masa penjajahan Jepang digunakan sebagai benteng alat-alat komunikasi (zender radio) Tentara Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Jejaknya dapat terlihat dari ruangan di balik relief besar di sana.

Jika diperhatikan dengan seksama, ada pintu kecil sebagai akses masuk menuju sebuah ruangan. Karena termakan usia, pintu tersebut kini terkunci rapat. Bagi yang penasaran memasuki ruangan tersebut, pengunjung akan diarahkan menuju pintu di sisi selatan yang lebih besar.

“Karena sangat kecil sekali maka dibuatkan pintu tambahan yang cukup lebar. Yakni pada pemugaran gedung di tahun 1984. Untuk kepentingan wisatawan meninjau lokasi museum ini,” urai Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Sidoarjo Achmad Nasikhun yang saat itu mendampingi Radar Sidoarjo.

Masih di dalam ruangan ini, ada sudut berukuran 1×1 meter. Dari situlah para tentara dulunya mengirimkan sebagai berita berbentuk sandi morse untuk kemudian disiarkan melalui radio.

Lalu, di ruangan yang kini digunakan sebagai museum itu masih tersimpan bentuk dan gambaran perjuangan pada masa mempertahankan kemerdekaan. Masih tersimpan dua bendera Pembela Tanah Air (PETA), mortir, helm baja, samurai, ada pula bambu runcing.
Pemanfaatan gedung sebagai benteng Kaigun ini tidak berlansung lama. Kemudian beralih fungsi pada tahun 1945 -1946, digunakan sebagai Markas Batalyon Soetjipto dan Markas Batalyon Soenandar secara bergiliran.

Sebab pada saat itu situasi pertempuran dahsyat yang terjadi di dalam Kota Surabaya sekitar 10 November 1945, memaksa Markas Yon Soenandar yang sejak pembentukkannya berkedudukan di Waru. Di kawasan bekas pabrik gula Waru yang kini pabrik soda Waru. Harus ditarik ke belakang Kota Sidoarjo menempati bangunan-bangunan bekas asrama Kaigun. Sedangkan markas Yon Soetjipto yang semula menempati asrama Kaigun, dipindahkan ke Watutulis menempati bangunan PG Watutulis. (*/opi/bersambung)

Most Read

Berita Terbaru


/