alexametrics
26.7 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Tradisi Ramadan Masjid Al Abror, Terapkan Ngaji Kitab Kuning dan Sajian Kolak

Tradisi Ramadan di Masjid Al Abror, Tertua di Sidoarjo, Masih Terapkan Ngaji Kitab Kuning dan Sajian Kolak Srikaya

Suasana Masjid Al Abror saat Ramadan terasa sangat kental. Mulai dari ngabuburit, saat berbuka puasa, hingga salat Tarawih. Ada berbagai tradisi yang terus dijalankan hingga saat ini.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Masjid Al Abror merupakan masjid tertua di Sidoarjo. Meski begitu, bangunannya saat ini terlihat sangat modern. Beberapa kali pemugaran dilakukan. Namun ada satu bukti sejarah yang dipertahankan.

Takmir masjid Al Abror, Aminullah mengatakan, beberapa kali pemugaran yang dilakukan tidak mengubah satu titik di masjid tersebut. Yakni gapura pintu di sisi utara. Pintu tersebut hanya dibuka saat salat Jumat.

Saat ini bangunan tersebut masih terlihat kokoh. Dindingnya tebal. Di bagian atas ada ornamen khas kerajaan. Selain gapura yang masih asli, arsitektur bangunan masjid tersebut masih mempertahankan tradisi Jawa.

Atap bangunan masjid berbentuk tiga kuncup yang mencerminkan filosofi iman, islam dan ihsan. Selain itu, ada kultur lain yang hingga kini masih terjaga. Yakni ngaji kitab kuning setiap hari seusai salat Maghrib.

Saat bulan Ramadan, hal unik lain yang ditemui dan merupakan tradisi Masjid Al Abror adalah disediakannya kolak srikaya untuk hidangan tadarus malam.

Menurut sejarah, masjid tersebut berdiri pada masa Kerajaan Mataram di tahun 1678. Keberadaan masjid sangat erat kaitannya dengan kelahiran Kabupaten Sidoarjo yang awalnya bernama Kadipaten Sidokare.

Seperti sejarah tata kelola kota lain, Masjid Jami’ pasti berada di Kampung Kauman yang di depannya terdapat Alun-alun. Begitu juga di Sidoarjo. Awalnya, Alun-alun Kota Delta berada di depan Masjid Jami’ Al Abror itu. (*/vga)

Tradisi Ramadan di Masjid Al Abror, Tertua di Sidoarjo, Masih Terapkan Ngaji Kitab Kuning dan Sajian Kolak Srikaya

Suasana Masjid Al Abror saat Ramadan terasa sangat kental. Mulai dari ngabuburit, saat berbuka puasa, hingga salat Tarawih. Ada berbagai tradisi yang terus dijalankan hingga saat ini.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Masjid Al Abror merupakan masjid tertua di Sidoarjo. Meski begitu, bangunannya saat ini terlihat sangat modern. Beberapa kali pemugaran dilakukan. Namun ada satu bukti sejarah yang dipertahankan.

Takmir masjid Al Abror, Aminullah mengatakan, beberapa kali pemugaran yang dilakukan tidak mengubah satu titik di masjid tersebut. Yakni gapura pintu di sisi utara. Pintu tersebut hanya dibuka saat salat Jumat.

Saat ini bangunan tersebut masih terlihat kokoh. Dindingnya tebal. Di bagian atas ada ornamen khas kerajaan. Selain gapura yang masih asli, arsitektur bangunan masjid tersebut masih mempertahankan tradisi Jawa.

Atap bangunan masjid berbentuk tiga kuncup yang mencerminkan filosofi iman, islam dan ihsan. Selain itu, ada kultur lain yang hingga kini masih terjaga. Yakni ngaji kitab kuning setiap hari seusai salat Maghrib.

Saat bulan Ramadan, hal unik lain yang ditemui dan merupakan tradisi Masjid Al Abror adalah disediakannya kolak srikaya untuk hidangan tadarus malam.

Menurut sejarah, masjid tersebut berdiri pada masa Kerajaan Mataram di tahun 1678. Keberadaan masjid sangat erat kaitannya dengan kelahiran Kabupaten Sidoarjo yang awalnya bernama Kadipaten Sidokare.

Seperti sejarah tata kelola kota lain, Masjid Jami’ pasti berada di Kampung Kauman yang di depannya terdapat Alun-alun. Begitu juga di Sidoarjo. Awalnya, Alun-alun Kota Delta berada di depan Masjid Jami’ Al Abror itu. (*/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/