alexametrics
25 C
Sidoarjo
Saturday, 28 May 2022

Kain Batik Ecoprint, Makin digemari, Setiap Motif Hanya Ada Satu Lembar

Kreasi Kain Batik Menggunakan Ecoprint

Seni membatik di Sidoarjo terus berkembang. Tidak hanya batik tulis dan cap saja, kini batik ecoprint juga mulai digemari masyarakat. Butuh ketelatenan dan waktu yang lama untuk membuatnya. Apalagi, setiap lembar kain motifnya tidak sama.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Salah satu perajin batik di Sidoarjo yang menggunakan teknik ecoprint adalah Siti Harnanik. Warga Desa Sruni, Kecamatan Gedangan tersebut menggunakan zat pewarna alami dari daun.

Daun yang digunakan bisa beragam jenis dan bentuk. Seperti daun jati, jarak wulung, jarak kepyar, red tanama, hingga tabebuya.

Menurutnya, zat pewarna alami tidak kalah dari pewarna buatan. Warna yang dihasilkan unik dan indah. ”Semuanya berasal dari alam, sehingga ramah lingkungan,” katanya.

Dia menjelaskan, setiap daun ada karakter masing-masing. Misalnya daun kenikir warnanya oranye, daun jati cenderung merah, sedangkan daun lanang warnanya hijau.

Siti menyebutkan, salah satu alasan batik ecoprint digemari adalah karena motif setiap lembar kain berbeda. Berbeda dengan batik print atau cap yang bisa membuat motif sama persis. ”Sebab jejak setiap daun berbeda-beda,” imbuhnya.

Untuk itu, dalam sehari pun dirinya hanya bisa memproduksi 10 lembar kain. Prosesnya membutuhkan waktu lama, sedangkan SDM-nya juga terbatas. Meski begitu, pesanannya melimpah.

Apalagi saat menjelang Lebaran kemarin, pesanannya meningkat hingga 40 persen. Kain batiknya banyak digunakan untuk hampers dan mukena. Selain itu ecoprint juga bisa digunakan untuk tas, sepatu, dompet, dan aksesoris.

Untuk menjual hasil karyanya, ibu dua anak itu memanfaatkan media sosial. Satu lembar kain dibanderol dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta. ”Tergantung jenis kain dan tingkat kesulitan motifnya,” jelasnya. (*/vga)

 

Kreasi Kain Batik Menggunakan Ecoprint

Seni membatik di Sidoarjo terus berkembang. Tidak hanya batik tulis dan cap saja, kini batik ecoprint juga mulai digemari masyarakat. Butuh ketelatenan dan waktu yang lama untuk membuatnya. Apalagi, setiap lembar kain motifnya tidak sama.

Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo

Salah satu perajin batik di Sidoarjo yang menggunakan teknik ecoprint adalah Siti Harnanik. Warga Desa Sruni, Kecamatan Gedangan tersebut menggunakan zat pewarna alami dari daun.

Daun yang digunakan bisa beragam jenis dan bentuk. Seperti daun jati, jarak wulung, jarak kepyar, red tanama, hingga tabebuya.

Menurutnya, zat pewarna alami tidak kalah dari pewarna buatan. Warna yang dihasilkan unik dan indah. ”Semuanya berasal dari alam, sehingga ramah lingkungan,” katanya.

Dia menjelaskan, setiap daun ada karakter masing-masing. Misalnya daun kenikir warnanya oranye, daun jati cenderung merah, sedangkan daun lanang warnanya hijau.

Siti menyebutkan, salah satu alasan batik ecoprint digemari adalah karena motif setiap lembar kain berbeda. Berbeda dengan batik print atau cap yang bisa membuat motif sama persis. ”Sebab jejak setiap daun berbeda-beda,” imbuhnya.

Untuk itu, dalam sehari pun dirinya hanya bisa memproduksi 10 lembar kain. Prosesnya membutuhkan waktu lama, sedangkan SDM-nya juga terbatas. Meski begitu, pesanannya melimpah.

Apalagi saat menjelang Lebaran kemarin, pesanannya meningkat hingga 40 persen. Kain batiknya banyak digunakan untuk hampers dan mukena. Selain itu ecoprint juga bisa digunakan untuk tas, sepatu, dompet, dan aksesoris.

Untuk menjual hasil karyanya, ibu dua anak itu memanfaatkan media sosial. Satu lembar kain dibanderol dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta. ”Tergantung jenis kain dan tingkat kesulitan motifnya,” jelasnya. (*/vga)

 

Most Read

Berita Terbaru


/