alexametrics
32 C
Sidoarjo
Monday, 23 May 2022

Inginkan Generasi Muda Produktif Buat Buku

Eko Henri Nurcahyo, Budayawan dan Penggerak Literasi Sidoarjo

Kecanggihan teknologi saat ini mestinya harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh generasi muda. Tapi kenyataannya malah banyak digunakan bersosial media dan berswafoto.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

“Mengapa tidak digunakan untuk mengeksplor kemampuan untuk berlatih menulis secara terus menerus. Sehingga bisa menjadi buku. Dengan kecanggihan teknologi sekarang ini, buku itu tidak harus kertas,” kata Eko Henri Nurcahyo budayawan Sidoarjo yang juga penggerak literasi ini.

Henri yang pernah mendapat Penghargaan Seni Budaya dari Gubernur Jawa Timur sebagai Penggerak Kesenian Bidang Penulisan 2001 itu menjelaskan, kondisi sekarang ini jauh lebih mudah dibanding dengan zaman dahulu. “Fasilitas tersedia, tinggal klik sudah bisa,” ungkapnya.

Hanya saja persoalannya bukan pada kecanggihan, tapi pada rasa ingin tahu, minat, tujuan dan pada yang ingin disampaikan. “Tapi kalau mereka mempunyai rasa ingin tahu dan ingin mengetahui segala hal yang sesuai dengan keinginannya. Jadi bukan pada alat, tapi pada kemauan. Itu persoalan pada generasi sekarang,” ungkap penulis buku Sidoarjo Tempoe Doeloe ini.

Menurut Henri, daripada gadget hanya dimanfaatkan untuk bersosial media, mestinya bisa dijadikan sarana latihan menulis. Sangat disayangkan yang terjadi sekarang hanya sering copy paste.

Pria yang sudah menulis 40 judul buku ini menyarankan segala hal pengalaman atau pandangan seseorang mengenai suatu hal bisa dijadikan bahan menulis. Bagaimana pendapatnya tentang banjir, bagaimana pendapatnya tentang Sidoarjo, bagaimana pendapatnya tentang pemuda, tetang sekolah atau tentang budaya.

“Ketik saja semampunya, tidak harus banyak, hanya beberapa kalimat saja sudah jadi. Kondisi kemajuan teknologi sekarang ini, buku tidak harus kertas. Bisa memanfaatkan e-book dan lainnya, semuanya sudah ada dalam genggaman kita,” jabar pendiri Ekologi Budaya ini.

Sekarang bisa dicek, ada berapa anak muda yang mempunyai blog sebagai sarana untuk menulis. Coba lihat di statusnya, mereka berselfie atau menulis. Karena mereka rata-rata hanya senang bermain HP, tapi tidak dimanfaatkan untuk menulis.
Termasuk menulis tentang sejarah Majapahit, banyak anak muda yang menyalahkan saya bahwa itu sudah kuno. Mereka tidak paham, justru sekarang ini banyak hal-hal yang sangat relevan dengan Majapahit.

“Peninggalan Majapahit ini tidak pernah mereka pahami, karena memang mereka tidak pernah belajar,” tegas Dosen Luar Biasa Kajian Panji (Antropologi Sastra) di Universitas PGRI Adibuana (Unipa) Surabaya ini. (*/opi)

Eko Henri Nurcahyo, Budayawan dan Penggerak Literasi Sidoarjo

Kecanggihan teknologi saat ini mestinya harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh generasi muda. Tapi kenyataannya malah banyak digunakan bersosial media dan berswafoto.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

“Mengapa tidak digunakan untuk mengeksplor kemampuan untuk berlatih menulis secara terus menerus. Sehingga bisa menjadi buku. Dengan kecanggihan teknologi sekarang ini, buku itu tidak harus kertas,” kata Eko Henri Nurcahyo budayawan Sidoarjo yang juga penggerak literasi ini.

Henri yang pernah mendapat Penghargaan Seni Budaya dari Gubernur Jawa Timur sebagai Penggerak Kesenian Bidang Penulisan 2001 itu menjelaskan, kondisi sekarang ini jauh lebih mudah dibanding dengan zaman dahulu. “Fasilitas tersedia, tinggal klik sudah bisa,” ungkapnya.

Hanya saja persoalannya bukan pada kecanggihan, tapi pada rasa ingin tahu, minat, tujuan dan pada yang ingin disampaikan. “Tapi kalau mereka mempunyai rasa ingin tahu dan ingin mengetahui segala hal yang sesuai dengan keinginannya. Jadi bukan pada alat, tapi pada kemauan. Itu persoalan pada generasi sekarang,” ungkap penulis buku Sidoarjo Tempoe Doeloe ini.

Menurut Henri, daripada gadget hanya dimanfaatkan untuk bersosial media, mestinya bisa dijadikan sarana latihan menulis. Sangat disayangkan yang terjadi sekarang hanya sering copy paste.

Pria yang sudah menulis 40 judul buku ini menyarankan segala hal pengalaman atau pandangan seseorang mengenai suatu hal bisa dijadikan bahan menulis. Bagaimana pendapatnya tentang banjir, bagaimana pendapatnya tentang Sidoarjo, bagaimana pendapatnya tentang pemuda, tetang sekolah atau tentang budaya.

“Ketik saja semampunya, tidak harus banyak, hanya beberapa kalimat saja sudah jadi. Kondisi kemajuan teknologi sekarang ini, buku tidak harus kertas. Bisa memanfaatkan e-book dan lainnya, semuanya sudah ada dalam genggaman kita,” jabar pendiri Ekologi Budaya ini.

Sekarang bisa dicek, ada berapa anak muda yang mempunyai blog sebagai sarana untuk menulis. Coba lihat di statusnya, mereka berselfie atau menulis. Karena mereka rata-rata hanya senang bermain HP, tapi tidak dimanfaatkan untuk menulis.
Termasuk menulis tentang sejarah Majapahit, banyak anak muda yang menyalahkan saya bahwa itu sudah kuno. Mereka tidak paham, justru sekarang ini banyak hal-hal yang sangat relevan dengan Majapahit.

“Peninggalan Majapahit ini tidak pernah mereka pahami, karena memang mereka tidak pernah belajar,” tegas Dosen Luar Biasa Kajian Panji (Antropologi Sastra) di Universitas PGRI Adibuana (Unipa) Surabaya ini. (*/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/