alexametrics
25 C
Sidoarjo
Friday, 30 July 2021

Koleksi Artefak Diduga Peninggalan Kerajaan Majapahit

Museum Alas Trik Kedung Bocok, Tarik (1)

Desa Kedung Bocok, Kecamatan Tarik memiliki bangunan untuk menyimpan benda-benda kuno peninggalan kerajaan Majapahit. Namanya Museum Alas Trik.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Museum Alas Trik yang ada di ujung barat Sidoarjo ini memang jarang didengar. Namanya masih kalah populer dengan Museum Mpu Tantular di Buduran.

Bangunan itu letaknya tepat di belakang Kantor Desa Kedung Bocok, Kecamatan Tarik. Tidak luas, hanya sekitar 5×7 meter persegi. Tetapi sudah nampak kokoh dengan dinding yang sudah terlapisi bata dan semen layaknya rumah warga.

Agus Subagyo, Ketua Komunitas Garda Wilwatikta menceritakan, museum itu mulai berdiri pada 2019 lalu. Dulunya gudang untuk penyimpanan pupuk.

“Kepala desa waktu itu menyetujui untuk dibangun jadi museum,” katanya.

Bangunannya masih sederhana. Namun, di dalam museum desa itu telah banyak menyimpan koleksi benda-benda kuno. Jika dihitung bisa mencapai ribuan.

Mulai dari batu-batuan yang berbentuk seperti umpak, saluran air kuno, batu bata kuno dengan ukuran tidak lazim, pecahan keramik hingga koin kuno.

“Ini ditemukan di area desa sini (Desa Kedung Bocok, Red),” imbuh Agus.

Artefak-artefak itu ditata sedemikan rupa sehingga tetap mudah untuk diamati. Selain artefak yang ada di dalam museum, sebenarnya masih ada batu-batu kuno berukuran besar yang belum tersimpan di dalam museum.

Karena ukurannya yang terlalu besar membuat warga kesulitan untuk memindahkan. Batu-batu dengan bentuk seperti engsel pintu hingga umpak bangunan itu disimpan di area kantor desa Kedung Bocok.

“Temuan itu membuat warga sekitar kagum,” ucapnya. (*/bersambung/vga)

 

Museum Alas Trik Kedung Bocok, Tarik (1)

Desa Kedung Bocok, Kecamatan Tarik memiliki bangunan untuk menyimpan benda-benda kuno peninggalan kerajaan Majapahit. Namanya Museum Alas Trik.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Museum Alas Trik yang ada di ujung barat Sidoarjo ini memang jarang didengar. Namanya masih kalah populer dengan Museum Mpu Tantular di Buduran.

Bangunan itu letaknya tepat di belakang Kantor Desa Kedung Bocok, Kecamatan Tarik. Tidak luas, hanya sekitar 5×7 meter persegi. Tetapi sudah nampak kokoh dengan dinding yang sudah terlapisi bata dan semen layaknya rumah warga.

Agus Subagyo, Ketua Komunitas Garda Wilwatikta menceritakan, museum itu mulai berdiri pada 2019 lalu. Dulunya gudang untuk penyimpanan pupuk.

“Kepala desa waktu itu menyetujui untuk dibangun jadi museum,” katanya.

Bangunannya masih sederhana. Namun, di dalam museum desa itu telah banyak menyimpan koleksi benda-benda kuno. Jika dihitung bisa mencapai ribuan.

Mulai dari batu-batuan yang berbentuk seperti umpak, saluran air kuno, batu bata kuno dengan ukuran tidak lazim, pecahan keramik hingga koin kuno.

“Ini ditemukan di area desa sini (Desa Kedung Bocok, Red),” imbuh Agus.

Artefak-artefak itu ditata sedemikan rupa sehingga tetap mudah untuk diamati. Selain artefak yang ada di dalam museum, sebenarnya masih ada batu-batu kuno berukuran besar yang belum tersimpan di dalam museum.

Karena ukurannya yang terlalu besar membuat warga kesulitan untuk memindahkan. Batu-batu dengan bentuk seperti engsel pintu hingga umpak bangunan itu disimpan di area kantor desa Kedung Bocok.

“Temuan itu membuat warga sekitar kagum,” ucapnya. (*/bersambung/vga)

 


Berita HITS

Berita Terbaru

Trending Tags