alexametrics
25 C
Sidoarjo
Saturday, 28 May 2022

Jaga Kualitas, Pertahankan Ciri Khas Sidoarjo

Perajin Batik Nurul Huda

Perajin batik tulis Al Huda mampu tetap eksis di tengah pandemi Covid-19. Salah satu upayanya adalah dengan mempertahankan kualitas dan ciri khas dari batik khas Kota Delta.

Hendrik Muchlison
Wartawan Radar Sidoarjo

Batik tulis Al Huda adalah salah satu UMKM andalan Sidoarjo. Bertempat di Perumahan Sidokare Asri, batik tersebut sudah sangat populer. Nama Al Huda juga terinspirasi dari pemiliknya yakni Nurul Huda.

Menurut Huda, situasi krisis di saat pandemi Covid-19 memang jadi tantangan berat. Apalagi, penjualan batik juga tak semoncer pada tahun biasanya. “Memang sangat berpengaruh tapi kita harus bisa survive,” ujarnya.

Salah satu alasannya bisa bertahan adalah komitmen. Kualitas yang bisa dipercaya jadi andalannya. Sebelum masa pandemi Covid-19 tepatnya pada Desember 2019 lalu, dia sempat mendapat orderan besar. Sekitar tujuh ribu batik. “Itu yang juga membuat kami bertahan,” sambungnya.

Dia mengakui, terasa sulit bagi para perajin batik saat dihadapkan pada saat seperti sekarang. Sebab, batik bukan satu-satunya kebutuhan masyarakat. “Kami baru bisa kembali menerima order setelah beberapa bulan pandemi,” katanya.

Huda menerangkan, salah satu strategi batiknya tidak gulung tikar adalah dengan mempertahankan kualitas. Termasuk ciri khas dari batik asli Sidoarjo.

Ada tiga ciri khas yang menjadi ikon Sidoarjo. Yakni, beras utah (tumpah), kembang tebu dan udang bandeng. “Dari tiga ikon itulah sudah banyak saya kembangkan menjadi batik dengan kualitas terpercaya,” pungkasnya. (*/nis)

Perajin Batik Nurul Huda

Perajin batik tulis Al Huda mampu tetap eksis di tengah pandemi Covid-19. Salah satu upayanya adalah dengan mempertahankan kualitas dan ciri khas dari batik khas Kota Delta.

Hendrik Muchlison
Wartawan Radar Sidoarjo

Batik tulis Al Huda adalah salah satu UMKM andalan Sidoarjo. Bertempat di Perumahan Sidokare Asri, batik tersebut sudah sangat populer. Nama Al Huda juga terinspirasi dari pemiliknya yakni Nurul Huda.

Menurut Huda, situasi krisis di saat pandemi Covid-19 memang jadi tantangan berat. Apalagi, penjualan batik juga tak semoncer pada tahun biasanya. “Memang sangat berpengaruh tapi kita harus bisa survive,” ujarnya.

Salah satu alasannya bisa bertahan adalah komitmen. Kualitas yang bisa dipercaya jadi andalannya. Sebelum masa pandemi Covid-19 tepatnya pada Desember 2019 lalu, dia sempat mendapat orderan besar. Sekitar tujuh ribu batik. “Itu yang juga membuat kami bertahan,” sambungnya.

Dia mengakui, terasa sulit bagi para perajin batik saat dihadapkan pada saat seperti sekarang. Sebab, batik bukan satu-satunya kebutuhan masyarakat. “Kami baru bisa kembali menerima order setelah beberapa bulan pandemi,” katanya.

Huda menerangkan, salah satu strategi batiknya tidak gulung tikar adalah dengan mempertahankan kualitas. Termasuk ciri khas dari batik asli Sidoarjo.

Ada tiga ciri khas yang menjadi ikon Sidoarjo. Yakni, beras utah (tumpah), kembang tebu dan udang bandeng. “Dari tiga ikon itulah sudah banyak saya kembangkan menjadi batik dengan kualitas terpercaya,” pungkasnya. (*/nis)

Most Read

Berita Terbaru


/