alexametrics
25 C
Sidoarjo
Saturday, 28 May 2022

Nelayan Kupang Mayoritas Generasi Tua

Desa Balongdowo,Kecamatan Candi dikenal sebagai kampung kupang. Sebab di kampung ini mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan pencari kupang, hewan laut semacam kerang kecil. Kini, para nelayan di sana mayoritas berusia tua. Regenerasi para pencari kupang dari kaum muda sangat dibutuhkan.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Aktivitas mencari kupang dimulai sore hari. Setelah semalaman berada di tengah laut, pagi selepas subuh kapal para nelayan tiba di dermaga sungai desa setempat dengan membawa kupang.

Jumlahnya sangat banyak. Berkarung-karung goni. Hasil tersebut didapat saat melaut di perairan Kepetingan hingga Selat Madura. Pada saat kapal nelayan ini bersandar, penduduk sekitar langsung berebut kupang untuk diolah.

Proses pengolahannya yakni saat merebus kupang, membutuhkan waktu lima jam sebelum akhirnya siap dijual. Kupang ini tidak hanya disandingkan dengan lontong yang merupakan makanan khas Sidoarjo.

Tapi, warga setempat juga mengolah kupang untuk dijadikan kerupuk dan petis. Tidak hanya itu saja, cangkang keras kupang juga bisa dijadikan campuran makanan ternak.

Melimpahnya hasil kupang yang dibawa setiap hari ternyata memunculkan kekhawatiran dari nelayan saat ini bahwa kampung kupang akan mati. Mengapa ?

Abdul Munir salah satu nelayan mengatakan saat ini tak tampak lagi ada regenerasi nelayan seperti di masa remajanya dulu.

“Sekarang lihatlah, nelayan dan warga yang mengolah kupang merupakan generasi tua. Anak muda mana ada yang mau bekerja seperti ini. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik,” ungkapnya.

Masih lekat di ingatannya, dulu di kampungnya ini ada lebih dari 50 kapal yang mondar-mandir ke laut mencari kupang. Berbeda dengan sekarang jumlah kapal yang tersisa tinggal lima buah saja. “Mereka telah menjual kapal-kapalnya dan beraih profesi. Saya juga telah berhenti,” imbuh pria 55 tahun ini.

Hingga anak Munir pun telah memintanya untuk mengakhiri karirnya sebagai nelayan pencari kupang sejak tiga tahun lalu. Munir tetap pada pendiriannya mencari penghidupan dari menjaring kupang di laut. (*/opi)

Desa Balongdowo,Kecamatan Candi dikenal sebagai kampung kupang. Sebab di kampung ini mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan pencari kupang, hewan laut semacam kerang kecil. Kini, para nelayan di sana mayoritas berusia tua. Regenerasi para pencari kupang dari kaum muda sangat dibutuhkan.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Aktivitas mencari kupang dimulai sore hari. Setelah semalaman berada di tengah laut, pagi selepas subuh kapal para nelayan tiba di dermaga sungai desa setempat dengan membawa kupang.

Jumlahnya sangat banyak. Berkarung-karung goni. Hasil tersebut didapat saat melaut di perairan Kepetingan hingga Selat Madura. Pada saat kapal nelayan ini bersandar, penduduk sekitar langsung berebut kupang untuk diolah.

Proses pengolahannya yakni saat merebus kupang, membutuhkan waktu lima jam sebelum akhirnya siap dijual. Kupang ini tidak hanya disandingkan dengan lontong yang merupakan makanan khas Sidoarjo.

Tapi, warga setempat juga mengolah kupang untuk dijadikan kerupuk dan petis. Tidak hanya itu saja, cangkang keras kupang juga bisa dijadikan campuran makanan ternak.

Melimpahnya hasil kupang yang dibawa setiap hari ternyata memunculkan kekhawatiran dari nelayan saat ini bahwa kampung kupang akan mati. Mengapa ?

Abdul Munir salah satu nelayan mengatakan saat ini tak tampak lagi ada regenerasi nelayan seperti di masa remajanya dulu.

“Sekarang lihatlah, nelayan dan warga yang mengolah kupang merupakan generasi tua. Anak muda mana ada yang mau bekerja seperti ini. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik,” ungkapnya.

Masih lekat di ingatannya, dulu di kampungnya ini ada lebih dari 50 kapal yang mondar-mandir ke laut mencari kupang. Berbeda dengan sekarang jumlah kapal yang tersisa tinggal lima buah saja. “Mereka telah menjual kapal-kapalnya dan beraih profesi. Saya juga telah berhenti,” imbuh pria 55 tahun ini.

Hingga anak Munir pun telah memintanya untuk mengakhiri karirnya sebagai nelayan pencari kupang sejak tiga tahun lalu. Munir tetap pada pendiriannya mencari penghidupan dari menjaring kupang di laut. (*/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/