alexametrics
31 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

Munculkan Batik Mangkak Usai Bertemu Makhluk Gaib

Jelajah Alam dengan Membatik

Bagi Sugianto, mendaki bukan sekadar hobi. Namun juga untuk mengaktualisasi diri. Tiap kali menjelajah, dia selalu membawa perlengkapan membatik. Motif-motif yang hasilkan pun alami. Sampai sekarang, kegiatan jelajah alam dengan membatik (Jelantik) masih dilakukan. Ada ratusan karya kain batik yang dibuat. Dia menamai batiknya Batik Giwatun. Gik untuk Sugianto. Wa untuk Wage dan Tun, nama ibunya.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Sugianto membuka lemari kayu di sisi barat ruang tamu. Isinya penuh dengan koleksi kain batik buatan sendiri. Warga Desa Wage, Kecamatan Taman itu menunjukkan satu per satu. Tiap kain yang ditunjukkan punya beragam motif. Menariknya ada motif yang didapat dari hasil jelajah alam

“Ini motif dihasilkan dari bentuk batu di sungai Gerbo dekat Nongkojajar, Pasuruan,” ujar Gik, sapaan akrab Sugianto. Waktu itu, lanjutnya, dia hendak menuju pendakian Gunung Bromo. Ketika melintasi sungai Gerbo, dia berhenti untuk istirahat sambil membatik.

Segala perlengkapan membatik selalu dibawa setiap kali perjalanan. Terutama mendaki. Tak heran, beberapa teman sependakian menjuluki Gik, sang pembatik alam. Sampai-sampai Gik sendiri menyebut dirinya sebagai kelompok Jelantik (Jelajah Alam Dengan Membatik).

Gik menyampaikan ada dua karya yang tidak bisa dijual. Pertama batik getah pisang. Batik tersebut dibuat dengan proses tetesan getah pisang di hutan. Pria 49 tahun itu menjelaskan setiap tetesan yang jatuh akan menempel di bentangan kain putih secara alami. Tak dipola sedikitpun. “Hasil motif sangat natural. Tak ada duanya,” tuturnya.

Kedua adalah batik mangkak. Gik menamai batik mangkak karena motif dibuat samar-samar. Dari jauh tak terlihat, tapi saat diamati lebih lama maka tampak motif yang tersembunyi. “Batik mangkak ini dibuat saat mendaki ke Gunung Argapuro, Jember,” jelasnya.

Dia bercerita pembuatan batik mangkak sangat spontan. Tak ada perencanaan. Bahkan selama proses pembuatannya, dia sempat didatangi makhluk gaib berwarna putih. “Lama-lama mendekat dan semakin jelas. Saya pun berhenti membatik dan melanjutkannya esok hari. Ide motif mangkak ini pun muncul,” tambahnya. (*/nis)

 

Jelajah Alam dengan Membatik

Bagi Sugianto, mendaki bukan sekadar hobi. Namun juga untuk mengaktualisasi diri. Tiap kali menjelajah, dia selalu membawa perlengkapan membatik. Motif-motif yang hasilkan pun alami. Sampai sekarang, kegiatan jelajah alam dengan membatik (Jelantik) masih dilakukan. Ada ratusan karya kain batik yang dibuat. Dia menamai batiknya Batik Giwatun. Gik untuk Sugianto. Wa untuk Wage dan Tun, nama ibunya.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Sugianto membuka lemari kayu di sisi barat ruang tamu. Isinya penuh dengan koleksi kain batik buatan sendiri. Warga Desa Wage, Kecamatan Taman itu menunjukkan satu per satu. Tiap kain yang ditunjukkan punya beragam motif. Menariknya ada motif yang didapat dari hasil jelajah alam

“Ini motif dihasilkan dari bentuk batu di sungai Gerbo dekat Nongkojajar, Pasuruan,” ujar Gik, sapaan akrab Sugianto. Waktu itu, lanjutnya, dia hendak menuju pendakian Gunung Bromo. Ketika melintasi sungai Gerbo, dia berhenti untuk istirahat sambil membatik.

Segala perlengkapan membatik selalu dibawa setiap kali perjalanan. Terutama mendaki. Tak heran, beberapa teman sependakian menjuluki Gik, sang pembatik alam. Sampai-sampai Gik sendiri menyebut dirinya sebagai kelompok Jelantik (Jelajah Alam Dengan Membatik).

Gik menyampaikan ada dua karya yang tidak bisa dijual. Pertama batik getah pisang. Batik tersebut dibuat dengan proses tetesan getah pisang di hutan. Pria 49 tahun itu menjelaskan setiap tetesan yang jatuh akan menempel di bentangan kain putih secara alami. Tak dipola sedikitpun. “Hasil motif sangat natural. Tak ada duanya,” tuturnya.

Kedua adalah batik mangkak. Gik menamai batik mangkak karena motif dibuat samar-samar. Dari jauh tak terlihat, tapi saat diamati lebih lama maka tampak motif yang tersembunyi. “Batik mangkak ini dibuat saat mendaki ke Gunung Argapuro, Jember,” jelasnya.

Dia bercerita pembuatan batik mangkak sangat spontan. Tak ada perencanaan. Bahkan selama proses pembuatannya, dia sempat didatangi makhluk gaib berwarna putih. “Lama-lama mendekat dan semakin jelas. Saya pun berhenti membatik dan melanjutkannya esok hari. Ide motif mangkak ini pun muncul,” tambahnya. (*/nis)

 

Most Read

Berita Terbaru


/