alexametrics
27 C
Sidoarjo
Saturday, 21 May 2022

Owner Jahitin.com, Terhubung dengan 200 Penjahit, Tampung Pekerja PHK

Asri Wijayanti Owner Jahitin.com

Asri Wijayanti tambah kreatif. Pandemi Covid-19 membuat dia semakin banyak ide mengembangkan usahanya. Salah satunya melalui jahitin.com. Perusahaan rintisan yang menghubungkan penjahit rumahan dengan pelanggan yang membutuhkan jasa menjahit.

Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo

Jahitin telah bekerjasama dengan berbagai pihak dan dipercaya untuk berkolaborasi melalui order jahitan dan juga event project dalam mewujudkan supply chain fesyen Indonesia yang lebih baik.

Asri Wijayanti adalah dalang utama di balik layar jahitin.com. Memulai pada 2016 hingga kini, Asri mampu menghimpun dua ribu anggota. Lebih dari 200 di antaranya sangat aktif menerima orderan jahit.

Sesuai namanya, bisnis ini bergerak di bidang jahit-menjahit khusus busana. Bisa pria ataupun wanita. Jahitin.com dicetuskan Asri agar pelanggan mudah menemukan penjahit. Mereka tidak harus puyeng ke sana kemari mencari penjahit yang dikehendaki. Tinggal pilih yang sesuai. Lalu, lakukan transaksi.

Bagaimana kualitas hasil jahitan? Jangan khawatir, warga Sedati Sedati Agung ini berusaha memberikan pelayanan terbaik. Konsumen bisa merasa puas. Sebab, Asri menyediakan banyak pilihan penjahit. Mereka berasal dari mana saja. Dari seluruh Indonesia.

Asri menceritakan awal merintis usaha ini. Yakni, fokus untuk menjahit personal. Kondisi berubah, setelah menyaksikan eks pekerja pabrik besar banyak yang resign terdampak pandemi. Pabrik gagal bayar hingga pegawai dirumahkan.

“Setelah kita teliti, selama pandemi itu bisnis fashion angkanya tidak turun. Malah semakin banyak. Masyarakat masih punya uang untuk dibelanjakan dan masih banyak juga mereka belanja pakaian,” imbuhnya.

Ternyata banyak juga brand fashion bermunculan. Asri melihat fenomena itu sebagai peluang. “Kita mencari penjahit yang kapabel. Terpercaya atau tidak. Kita filternya. Ada 2 ribu anggota. Lebih dari 200 kelompok penjahit sangat aktif. Penjahit tas, baju, sablon, bordir kita semua ada. Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, Kediri,” jabarnya.

Dari pemberdayaan itu, kata Asri, mampu meningkatkan taraf hidup penjahit bahkan sampai meningkatkan kapasitas produksi. Mulanya punya lima mesin jadi 25 mesin.

Apa rahasianya? Asri mengatakan, para penjahit itu dibayar lebih layak daripada ketika bekerja di pabrik. Membuat satu lembar masker kain misalnya. Kerja keras para penjahit dihargai Rp 3 -5 ribu per lembar. “Lebih baik daripada di pabrik dibayar Rp 300 saja,” ungkapnya. (*/vga)

 

Asri Wijayanti Owner Jahitin.com

Asri Wijayanti tambah kreatif. Pandemi Covid-19 membuat dia semakin banyak ide mengembangkan usahanya. Salah satunya melalui jahitin.com. Perusahaan rintisan yang menghubungkan penjahit rumahan dengan pelanggan yang membutuhkan jasa menjahit.

Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo

Jahitin telah bekerjasama dengan berbagai pihak dan dipercaya untuk berkolaborasi melalui order jahitan dan juga event project dalam mewujudkan supply chain fesyen Indonesia yang lebih baik.

Asri Wijayanti adalah dalang utama di balik layar jahitin.com. Memulai pada 2016 hingga kini, Asri mampu menghimpun dua ribu anggota. Lebih dari 200 di antaranya sangat aktif menerima orderan jahit.

Sesuai namanya, bisnis ini bergerak di bidang jahit-menjahit khusus busana. Bisa pria ataupun wanita. Jahitin.com dicetuskan Asri agar pelanggan mudah menemukan penjahit. Mereka tidak harus puyeng ke sana kemari mencari penjahit yang dikehendaki. Tinggal pilih yang sesuai. Lalu, lakukan transaksi.

Bagaimana kualitas hasil jahitan? Jangan khawatir, warga Sedati Sedati Agung ini berusaha memberikan pelayanan terbaik. Konsumen bisa merasa puas. Sebab, Asri menyediakan banyak pilihan penjahit. Mereka berasal dari mana saja. Dari seluruh Indonesia.

Asri menceritakan awal merintis usaha ini. Yakni, fokus untuk menjahit personal. Kondisi berubah, setelah menyaksikan eks pekerja pabrik besar banyak yang resign terdampak pandemi. Pabrik gagal bayar hingga pegawai dirumahkan.

“Setelah kita teliti, selama pandemi itu bisnis fashion angkanya tidak turun. Malah semakin banyak. Masyarakat masih punya uang untuk dibelanjakan dan masih banyak juga mereka belanja pakaian,” imbuhnya.

Ternyata banyak juga brand fashion bermunculan. Asri melihat fenomena itu sebagai peluang. “Kita mencari penjahit yang kapabel. Terpercaya atau tidak. Kita filternya. Ada 2 ribu anggota. Lebih dari 200 kelompok penjahit sangat aktif. Penjahit tas, baju, sablon, bordir kita semua ada. Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, Kediri,” jabarnya.

Dari pemberdayaan itu, kata Asri, mampu meningkatkan taraf hidup penjahit bahkan sampai meningkatkan kapasitas produksi. Mulanya punya lima mesin jadi 25 mesin.

Apa rahasianya? Asri mengatakan, para penjahit itu dibayar lebih layak daripada ketika bekerja di pabrik. Membuat satu lembar masker kain misalnya. Kerja keras para penjahit dihargai Rp 3 -5 ribu per lembar. “Lebih baik daripada di pabrik dibayar Rp 300 saja,” ungkapnya. (*/vga)

 

Most Read

Berita Terbaru


/