alexametrics
29 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

TPST Hasilkan Briket untuk Pasok Industri

TPST Ubah Sampah Jadi Berkah

Sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan, terus dipilah. Di daur ulang menjadi barang baru yang bisa dipakai. Seperti di TPST Banjarbendo. Setahun belakangan, TPST Banjarbendo berhasil mengubah sampah menjadi briket.

Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo

Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di Kota Delta tengah bekerja lebih optimal. TPST diminta menekan jumlah residu sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jabon. Pasalnya saat ini kondisi TPA sudah penuh 97 persen dan hanya mampu bertahan hingga Desember.

Upaya tersebut nampaknya sudah dimulai lebih awal oleh TPST Banjarbendo di Kecamatan Sidoarjo. Sejak tahun lalu mereka memanfaatkan sampah, diolah menjadi briket.

Ketua TPST Banjarbendo Marsono mengatakan, setiap hari ada 38 ton sampah masuk ke TPST ini. Sampah yang masuk kemudian dipilah dengan mesin konveyor dan melibatkan beberapa pemulung.

“Sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang akan kami jual. Biasanya setelah proses ini tersisa 20 ton yang kebanyakan sampah organik,” jelasnya.

Sebanyak 20 ton sampah tersebut akan masuk ke proses pengolahan menjadi briket. Sebelumnya sampah-sampah tersebut dicacah terlebih dahulu menggunakan mesin. Baru kemudian diolah menjadi briket.

“Saat ini kami memiliki satu mesin briket. Setiap hari bisa menghasilkan 4-5 ton briket. Briket-briket tersebut kami jual ke industri dan UMKM yang membutuhkan sebagai pengganti kayu bakar. Sedangkan sampah yang kami kirimkan ke TPA Jabon sekitar 6-7 ton setiap harinya,” jelasnya.

Dari 38 ton sampah yang masuk, kemudian menyisakan residu 6-7 ton untuk dikirim ke TPA Jabon. Artinya TPST Banjarbendo mampu mengolah 80 persen sampah. Ini sudah melebihi target yakni 30 persen.

“Itupun karena mesin kami terbatas. Kami bisa saja mengolah 100 persen sampah sampai habis jadi tidak lagi mengirim ke TPA Jabon,” ujarnya.

Optimisme Marsono tersebut bukan tanpa sebab. Permintaan briket di industri sangatlah besar. Sedangkan pengolahan sampah menjadi briket di Sidoarjo hanyalah ada di TPST Banjarbendo.

“Kami ada permintaan 40 ton briket per hari dari satu perusahaan. Sedangkan saat ini hanya mampu memenuhi 1-2 ton saja, kami bagi dengan permintaan dari UMKM. Sebab, memang awalnya menciptakan briket ini ditujukan untuk UMKM. Sebab, dengan mengganti kayu bakar menjadi briket mampu menghemat pengeluaran mereka hingga 50 persen,” ujarnya. (*/vga)

 

TPST Ubah Sampah Jadi Berkah

Sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan, terus dipilah. Di daur ulang menjadi barang baru yang bisa dipakai. Seperti di TPST Banjarbendo. Setahun belakangan, TPST Banjarbendo berhasil mengubah sampah menjadi briket.

Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo

Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di Kota Delta tengah bekerja lebih optimal. TPST diminta menekan jumlah residu sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jabon. Pasalnya saat ini kondisi TPA sudah penuh 97 persen dan hanya mampu bertahan hingga Desember.

Upaya tersebut nampaknya sudah dimulai lebih awal oleh TPST Banjarbendo di Kecamatan Sidoarjo. Sejak tahun lalu mereka memanfaatkan sampah, diolah menjadi briket.

Ketua TPST Banjarbendo Marsono mengatakan, setiap hari ada 38 ton sampah masuk ke TPST ini. Sampah yang masuk kemudian dipilah dengan mesin konveyor dan melibatkan beberapa pemulung.

“Sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang akan kami jual. Biasanya setelah proses ini tersisa 20 ton yang kebanyakan sampah organik,” jelasnya.

Sebanyak 20 ton sampah tersebut akan masuk ke proses pengolahan menjadi briket. Sebelumnya sampah-sampah tersebut dicacah terlebih dahulu menggunakan mesin. Baru kemudian diolah menjadi briket.

“Saat ini kami memiliki satu mesin briket. Setiap hari bisa menghasilkan 4-5 ton briket. Briket-briket tersebut kami jual ke industri dan UMKM yang membutuhkan sebagai pengganti kayu bakar. Sedangkan sampah yang kami kirimkan ke TPA Jabon sekitar 6-7 ton setiap harinya,” jelasnya.

Dari 38 ton sampah yang masuk, kemudian menyisakan residu 6-7 ton untuk dikirim ke TPA Jabon. Artinya TPST Banjarbendo mampu mengolah 80 persen sampah. Ini sudah melebihi target yakni 30 persen.

“Itupun karena mesin kami terbatas. Kami bisa saja mengolah 100 persen sampah sampai habis jadi tidak lagi mengirim ke TPA Jabon,” ujarnya.

Optimisme Marsono tersebut bukan tanpa sebab. Permintaan briket di industri sangatlah besar. Sedangkan pengolahan sampah menjadi briket di Sidoarjo hanyalah ada di TPST Banjarbendo.

“Kami ada permintaan 40 ton briket per hari dari satu perusahaan. Sedangkan saat ini hanya mampu memenuhi 1-2 ton saja, kami bagi dengan permintaan dari UMKM. Sebab, memang awalnya menciptakan briket ini ditujukan untuk UMKM. Sebab, dengan mengganti kayu bakar menjadi briket mampu menghemat pengeluaran mereka hingga 50 persen,” ujarnya. (*/vga)

 

Most Read

Berita Terbaru


/