alexametrics
29 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Soekarno Ingin Terbitkan Buku tentang Kerajaan Jenggala

Sejarah Kerajaan Jenggolo Versi Sejarawan Lokal (1)

Kerajaan Jenggolo menjadi salah satu sejarah yang tak banyak diungkap orang. Bahkan tak sedikit warga Sidoarjo yang tak mengenalnya. Hal itu membuat seniman, budayawan, sekaligus sejarawan asal Desa Wunut Kecamatan Porong, Soekarno, berniat menerbitkan buku yang berisi sejarah yang luar biasa itu.

LUKMAN AL FARISI
Wartawan Radar Sidoarjo

Sore itu Soekarno menunjukkan berbagai koleksi buku bacaannya. Di antara tumpukan buku itu, tersimpan sebuah buku yang dia tulis sendiri, berjudul Kerajaan Jenggala. Buku berkover orange itu menjadi saksi bisu perjalannya menelusuri kerajaan Jenggolo hingga ke Ibu Kota. “Salah satu prasasti peninggalan Erlangga, Gondhokuti adalah bukti sejarah yang ada di Museum Pusat di Jakarta yang pernah saya teliti,” kata seniman seni rupa itu.

Catatan demi catatan dia kumpulkan. Salah satunya menyangkut berdirinya kerajaan Jenggolo yang diyakini berdiri Rabu Pahing, 24 November, 1042 M. Kerajaan Jenggolo diyakini pernah tegak berdiri hingga 1115 M, atau sekitar 73 tahun.

Prasasti Gondhokuti itu ditemukan di Keboan Pasar, yang saat ini dikenal Keboan Sikep, Gedangan. Kerajaan Jenggolo diyakini oleh Soekarno dipimpin oleh anak kedua Erlangga dengan Dewi Laksmi, Sri Maharaja Garasakan. Menurut Soekarno, anak pertama Raja Erlangga, Dewi Kili Suci menolak menjadi raja. “Dewi Kili Suci memilih menjadi pertapa dan akhirnya diserahkan ke anak keduanya, yaitu Garasakan, tapi sempat mau direbut oleh Samarawijaya,” ujarnya.

Sri Samarawijaya diyakini oleh para ilmuan sebagai anak dari Erlangga. Namun begitu Soekarno memilih tak meyakininya sebagai anak dari Raja Erlangga. Sebab, menurut dia, Samarawijaya merupakan keturunan dari Dharmawangsa Teguh yang tak lain adalah metua Erlangga. “Banyak hal yang saya yakini ceritanya luar biasa, makanya sekarang saya sedang susun naskahnya sekitar 300 halaman, saya ingin sejarah ini muncul,” ujarnya. (*/opi/bersambung)

Sejarah Kerajaan Jenggolo Versi Sejarawan Lokal (1)

Kerajaan Jenggolo menjadi salah satu sejarah yang tak banyak diungkap orang. Bahkan tak sedikit warga Sidoarjo yang tak mengenalnya. Hal itu membuat seniman, budayawan, sekaligus sejarawan asal Desa Wunut Kecamatan Porong, Soekarno, berniat menerbitkan buku yang berisi sejarah yang luar biasa itu.

LUKMAN AL FARISI
Wartawan Radar Sidoarjo

Sore itu Soekarno menunjukkan berbagai koleksi buku bacaannya. Di antara tumpukan buku itu, tersimpan sebuah buku yang dia tulis sendiri, berjudul Kerajaan Jenggala. Buku berkover orange itu menjadi saksi bisu perjalannya menelusuri kerajaan Jenggolo hingga ke Ibu Kota. “Salah satu prasasti peninggalan Erlangga, Gondhokuti adalah bukti sejarah yang ada di Museum Pusat di Jakarta yang pernah saya teliti,” kata seniman seni rupa itu.

Catatan demi catatan dia kumpulkan. Salah satunya menyangkut berdirinya kerajaan Jenggolo yang diyakini berdiri Rabu Pahing, 24 November, 1042 M. Kerajaan Jenggolo diyakini pernah tegak berdiri hingga 1115 M, atau sekitar 73 tahun.

Prasasti Gondhokuti itu ditemukan di Keboan Pasar, yang saat ini dikenal Keboan Sikep, Gedangan. Kerajaan Jenggolo diyakini oleh Soekarno dipimpin oleh anak kedua Erlangga dengan Dewi Laksmi, Sri Maharaja Garasakan. Menurut Soekarno, anak pertama Raja Erlangga, Dewi Kili Suci menolak menjadi raja. “Dewi Kili Suci memilih menjadi pertapa dan akhirnya diserahkan ke anak keduanya, yaitu Garasakan, tapi sempat mau direbut oleh Samarawijaya,” ujarnya.

Sri Samarawijaya diyakini oleh para ilmuan sebagai anak dari Erlangga. Namun begitu Soekarno memilih tak meyakininya sebagai anak dari Raja Erlangga. Sebab, menurut dia, Samarawijaya merupakan keturunan dari Dharmawangsa Teguh yang tak lain adalah metua Erlangga. “Banyak hal yang saya yakini ceritanya luar biasa, makanya sekarang saya sedang susun naskahnya sekitar 300 halaman, saya ingin sejarah ini muncul,” ujarnya. (*/opi/bersambung)

Most Read

Berita Terbaru


/