alexametrics
24 C
Sidoarjo
Wednesday, 17 August 2022

Budi Daya Magot dan Lele untuk Kurangi Sampah Organik di Sidoarjo

Callysta Kusuma Azalia, Pelajar Kelas 4 SD

Ide dari Callysta Kusuma Azalia ini patut diacungi jempol. Pelajar kelas 4 SD itu berhasil mengembangkan proyek pengurai sampah organik dengan membudidayakan maggot. Uniknya lagi, larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) itu juga telah dikembangkan untuk pakan lele.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Bocah yang akrab dipanggil Tita itu memulai proyeknya di rumahnya yang berada di Griya Permata Gedangan, Kecamatan Gedangan. “Sejak awal Februari lalu,” katanya.

Dia menceritakan, ide awal budidaya maggot itu bermula dari keprihatinannya terkait masalah sampah. Sampah rumah tangga khususnya sampah organik perlu didaur ulang agar tidak menumpuk dan mencemari lingkungan. Ia pun kemudian belajar untuk membudidayakan maggot.

Selain itu, budi daya magot juga terinspirasi sebagai pengganti pakan ternak. “Harga pelet (pakan lele, Red) mahal, makanya diganti dengan olahan maggot yang lebih murah,” ujar siswa SDN Kaliasin 1 Surabaya itu.

Anak dari pasangan M Rockhidin dan Intiyas Purwigati itu kemudian memanfaatkan sebidang tanah di samping rumahnya untuk memulai budi daya maggot. Total sudah ada 2.300 kg maggot dewasa telah dibudidaya.

“Panennya 60-70 gram per 2 hari,” imbuh bocah yang juga finalis Putri Lingkungan Hidup 2022 itu.

Tita menambahkan, 1 gram maggot jika dibudidaya dapat menghasilkan 1-2 kg maggot dewasa. Karena itu budi daya tersebut patut untuk terus dikembangkan di masyarakat.

Kini proyek Tita juga makin lengkap. Selain membudidaya maggot, Tita juga mengkombinasikan dengan budi daya lele dan kangkung. Tentunya, budi daya itu juga produk penyambung dari budi daya maggot.

Mulanya, maggot hasil panen diolah menjadi pakan lele. Caranya dengan mencampurkan sejumlah bahan tambahan. Seperti ampas kedelai dan dedak padi. “Digiling dan dioven,” katanya.

Olahan dari maggot itulah yang jadi pakan lele. Sementara kangkung ditempatkan di atas ember tempat budi daya lele. Secara otomatis, kangkung itu juga memanfaatkan limbah air dari budi daya lele. “Lelenya lebih cepat panen, karena olahan maggot lebih tinggi protein,” sambung Tita.

Dia berharap budi daya maggot dan lele itu bisa diikuti masyarakat baik di Sidoarjo maupun  Surabaya. Sehingga mampu membantu untuk mengurangi sampah-sampah organik tapi juga memberikan manfaat ekonomis. (*/vga)

Callysta Kusuma Azalia, Pelajar Kelas 4 SD

Ide dari Callysta Kusuma Azalia ini patut diacungi jempol. Pelajar kelas 4 SD itu berhasil mengembangkan proyek pengurai sampah organik dengan membudidayakan maggot. Uniknya lagi, larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) itu juga telah dikembangkan untuk pakan lele.

Hendrik Muchlison, Wartawan Radar Sidoarjo

Bocah yang akrab dipanggil Tita itu memulai proyeknya di rumahnya yang berada di Griya Permata Gedangan, Kecamatan Gedangan. “Sejak awal Februari lalu,” katanya.

Dia menceritakan, ide awal budidaya maggot itu bermula dari keprihatinannya terkait masalah sampah. Sampah rumah tangga khususnya sampah organik perlu didaur ulang agar tidak menumpuk dan mencemari lingkungan. Ia pun kemudian belajar untuk membudidayakan maggot.

Selain itu, budi daya magot juga terinspirasi sebagai pengganti pakan ternak. “Harga pelet (pakan lele, Red) mahal, makanya diganti dengan olahan maggot yang lebih murah,” ujar siswa SDN Kaliasin 1 Surabaya itu.

Anak dari pasangan M Rockhidin dan Intiyas Purwigati itu kemudian memanfaatkan sebidang tanah di samping rumahnya untuk memulai budi daya maggot. Total sudah ada 2.300 kg maggot dewasa telah dibudidaya.

“Panennya 60-70 gram per 2 hari,” imbuh bocah yang juga finalis Putri Lingkungan Hidup 2022 itu.

Tita menambahkan, 1 gram maggot jika dibudidaya dapat menghasilkan 1-2 kg maggot dewasa. Karena itu budi daya tersebut patut untuk terus dikembangkan di masyarakat.

Kini proyek Tita juga makin lengkap. Selain membudidaya maggot, Tita juga mengkombinasikan dengan budi daya lele dan kangkung. Tentunya, budi daya itu juga produk penyambung dari budi daya maggot.

Mulanya, maggot hasil panen diolah menjadi pakan lele. Caranya dengan mencampurkan sejumlah bahan tambahan. Seperti ampas kedelai dan dedak padi. “Digiling dan dioven,” katanya.

Olahan dari maggot itulah yang jadi pakan lele. Sementara kangkung ditempatkan di atas ember tempat budi daya lele. Secara otomatis, kangkung itu juga memanfaatkan limbah air dari budi daya lele. “Lelenya lebih cepat panen, karena olahan maggot lebih tinggi protein,” sambung Tita.

Dia berharap budi daya maggot dan lele itu bisa diikuti masyarakat baik di Sidoarjo maupun  Surabaya. Sehingga mampu membantu untuk mengurangi sampah-sampah organik tapi juga memberikan manfaat ekonomis. (*/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/