alexametrics
27 C
Sidoarjo
Tuesday, 17 May 2022

UMKM Butuh Sentuhan Pemasaran

SIDOARJO – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah mengesahkan draf UU Cipta Kerja atau Omnibus Law Cipta Kerja beberapa waktu lalu. Hal itu juga telah mendapat protes berbagai elemen masyarakat di berbagai tempat. Ketua Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) Sidoarjo juga turut berkomentar menyikapi polemik UU Cipta Kerja itu.

Ketua Kadin Sidoarjo Ahmad Roid mengungkapkan, tantangan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) belum tuntas dengan disahkannya UU Cipta Kerja. “UU Cipta Kerja atau Omnibus Law Cipta Kerja itu lebih ke mempermudah perijinan-perijinan. Padahal itu bukan masalah utama para UMKM,” katanya.

Menurut Roid, tantangan utama UMKM di Sidoarjo ini adalah soal pemasaran. Tidak sedikit mereka harus bertarung memasarkan produk dengan sesama UMKM ataupun produk luar negeri. “Banyak barang numbuk di gudang, tapi tidak laku,” imbuhnya.

Karena itulah, pihaknya berharap persoalan pemasaran ini juga menjadi perhatian khusus. Tujuannya juga tidak lain untuk memajukan UMKM di Sidoarjo.

Dalam catatannya, ada sekitar 248 ribu UMKM tumbuh di Sidoarjo. Mereka sangat butuh sentuhan pemasaran agar mampu meningkatkan nilai jual produknya.

Di lain pihak, Mustari, salah satu pelaku UMKM tampar, Desa Wonomelati, Krembung juga mengakui tantangan besar pelaku UMKM di Sidoarjo. Saat ini dirinya banyak survive menjalankan usaha warisan keluarga itu dengan mengandalkan relasi atau pelanggan yang sudah biasa memesan tali tampar kepadanya. “Sudah sejak 2009 lalu saya melakukan usaha ini,” sambungnya. (son/opi)

SIDOARJO – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah mengesahkan draf UU Cipta Kerja atau Omnibus Law Cipta Kerja beberapa waktu lalu. Hal itu juga telah mendapat protes berbagai elemen masyarakat di berbagai tempat. Ketua Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) Sidoarjo juga turut berkomentar menyikapi polemik UU Cipta Kerja itu.

Ketua Kadin Sidoarjo Ahmad Roid mengungkapkan, tantangan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) belum tuntas dengan disahkannya UU Cipta Kerja. “UU Cipta Kerja atau Omnibus Law Cipta Kerja itu lebih ke mempermudah perijinan-perijinan. Padahal itu bukan masalah utama para UMKM,” katanya.

Menurut Roid, tantangan utama UMKM di Sidoarjo ini adalah soal pemasaran. Tidak sedikit mereka harus bertarung memasarkan produk dengan sesama UMKM ataupun produk luar negeri. “Banyak barang numbuk di gudang, tapi tidak laku,” imbuhnya.

Karena itulah, pihaknya berharap persoalan pemasaran ini juga menjadi perhatian khusus. Tujuannya juga tidak lain untuk memajukan UMKM di Sidoarjo.

Dalam catatannya, ada sekitar 248 ribu UMKM tumbuh di Sidoarjo. Mereka sangat butuh sentuhan pemasaran agar mampu meningkatkan nilai jual produknya.

Di lain pihak, Mustari, salah satu pelaku UMKM tampar, Desa Wonomelati, Krembung juga mengakui tantangan besar pelaku UMKM di Sidoarjo. Saat ini dirinya banyak survive menjalankan usaha warisan keluarga itu dengan mengandalkan relasi atau pelanggan yang sudah biasa memesan tali tampar kepadanya. “Sudah sejak 2009 lalu saya melakukan usaha ini,” sambungnya. (son/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/