alexametrics
29 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Sebanyak 85 Persen Furnitur Diekspor ke Amerika Serikat

SIDOARJO – Masa pandemi Covid-19 menyebabkan banyak industri sulit mencari pasar dan bahkan banyak yang gulung tikar. Kondisi ini berbeda dengan perusahaan furnitur di Kabupaten Sidoarjo, selama masa pandemi justru permintaan meningkat drastis. Setiap bulan perusahaan yang berada di Desa Betro Kecamatan Sedati ini mampu mengekspor seribu kontainer furnitur.

Saat ini pasar Amerika Serikat merupakan pasar utama bagi perusahaan ini. Pasar domestik justru menurun drastis. Sebelum pandemi Covid-19 cakupannya 25 persen. Namun saat pandemi pangsa pasar mancanegara lebih menjanjikan. “Sehingga nominal dari ekspor yang diperoleh mencapai Rp 4 triliun per tahun,” kata CEO Halim Rusli, Selasa (20/4).

Sementara itu untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku kayu, Halim mengaku pasokannya masih aman dan tidak ada kendala.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi meniai keberadaan eksportir furnitur dari Sidoarjo sangat penting karena termasuk salah satu pabrik penghasil furniture terbesar di Indonesia dengan pasar utamanya adalah luar negeri atau mayoritas hasil produksinya adalah ekspor.

Mendag Lutfi berjanji akan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi industri untuk meningkatkan ekspor yang lebih besar lagi,tidak hanya dipasarkan ke Amerika saja tapi juga di Negara lain, seperti Tiongkok pasarnya masih terbuka lebar.

“Ini ada namanya value change, dari sistemnya kita perbaiki supaya harga ongkos melaksanakan bisnis itu bisa lebih murah, lebih mudah dan lebih baik,” janjinya.

Lutfi memerintahkan pimpinan perusahaan datang ke Kemendag dan ia akan menunjuk satu orang wakil yang bertanggung jawab untuk perusahaan ini untuk bisa memastikan ekspor lebih besar lagi.

Lutfi juga membantah jika pasokan bahan baku di Indonesia lebih sulit dibanding dengan negara Vietnam. Justru peluang ekspor ke Amerika Serikat semakin terbuka lebar karena kompetitor Indonesia yakni Vietnam yang merupakan salah satu negara pengekspor furnitur terbesar saat ini tengah menghadapi sanksi dari Amerika Serikat.

“Vietnam tengah mendapatkan sanksi dari Amerika karena dinilai mendapatkan bahan baku kayu secara ilegal,” katanya.

Saat ini Vietnam mendapatkan sanksi, pertama soal impor dan perdagangan kayu ilegal. Kedua, soal manipulasi mata uang yang menyebabkan ruginya perdagangan AS. (rpp/opi)

 

SIDOARJO – Masa pandemi Covid-19 menyebabkan banyak industri sulit mencari pasar dan bahkan banyak yang gulung tikar. Kondisi ini berbeda dengan perusahaan furnitur di Kabupaten Sidoarjo, selama masa pandemi justru permintaan meningkat drastis. Setiap bulan perusahaan yang berada di Desa Betro Kecamatan Sedati ini mampu mengekspor seribu kontainer furnitur.

Saat ini pasar Amerika Serikat merupakan pasar utama bagi perusahaan ini. Pasar domestik justru menurun drastis. Sebelum pandemi Covid-19 cakupannya 25 persen. Namun saat pandemi pangsa pasar mancanegara lebih menjanjikan. “Sehingga nominal dari ekspor yang diperoleh mencapai Rp 4 triliun per tahun,” kata CEO Halim Rusli, Selasa (20/4).

Sementara itu untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku kayu, Halim mengaku pasokannya masih aman dan tidak ada kendala.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi meniai keberadaan eksportir furnitur dari Sidoarjo sangat penting karena termasuk salah satu pabrik penghasil furniture terbesar di Indonesia dengan pasar utamanya adalah luar negeri atau mayoritas hasil produksinya adalah ekspor.

Mendag Lutfi berjanji akan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi industri untuk meningkatkan ekspor yang lebih besar lagi,tidak hanya dipasarkan ke Amerika saja tapi juga di Negara lain, seperti Tiongkok pasarnya masih terbuka lebar.

“Ini ada namanya value change, dari sistemnya kita perbaiki supaya harga ongkos melaksanakan bisnis itu bisa lebih murah, lebih mudah dan lebih baik,” janjinya.

Lutfi memerintahkan pimpinan perusahaan datang ke Kemendag dan ia akan menunjuk satu orang wakil yang bertanggung jawab untuk perusahaan ini untuk bisa memastikan ekspor lebih besar lagi.

Lutfi juga membantah jika pasokan bahan baku di Indonesia lebih sulit dibanding dengan negara Vietnam. Justru peluang ekspor ke Amerika Serikat semakin terbuka lebar karena kompetitor Indonesia yakni Vietnam yang merupakan salah satu negara pengekspor furnitur terbesar saat ini tengah menghadapi sanksi dari Amerika Serikat.

“Vietnam tengah mendapatkan sanksi dari Amerika karena dinilai mendapatkan bahan baku kayu secara ilegal,” katanya.

Saat ini Vietnam mendapatkan sanksi, pertama soal impor dan perdagangan kayu ilegal. Kedua, soal manipulasi mata uang yang menyebabkan ruginya perdagangan AS. (rpp/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/